Laku Gareng

gareng

Jujur, saya bukanlah laki-laki Jawa yang nglothok tentang pewayangan. Saya sendiri hanyalah keturunan eyang Ronggo yang dulu sering khilaf diajak nonton pagelaran wayang di pendopo kecamatan deket rumah, oleh bapak, waktu jaman masih bocah.

Tidak seperti kebanyakan orang (penonton wayang) yang suka nonton wayang dari depan, yang mana ketara jelas dalang, wayang, dan para sinden yang ayu-ayu itu. Saya justru memilih menonton wayang dari balik layar, iya di balik layar berbahan kain mori itu. Dari situ, hanya akan terlihat bayangan hitam para wayang yang menari indah. Bayangan hitam ini terbentuk karena adanya lampu petromak kualitas super. Pancaran sinarnya lebih menyilaukan ketimbang wajah perawan berdempul chrome silver. Sulap, menyilaukan. Dan kalau dipikir-pikir, nonton wayang dari belakang layar itu sebenarnya kaya nonton tivi hitam putih. Lebih gregetlah pokoknya.

Ada momen favorit dari sebuah pagelaran yang biasanya memakan waktu semalam suntuk itu. Yaitu, goro-goro.

Menurut info yang saya tahu, goro-goro sebenarnya bukanlah titik klimaks dari sebuah pagelaran wayang. Melainkan jeda (gong) pertama dalam jalan cerita. Goro-goro bisa menceritakan tentang peperangan, bencana, musibah, ataupun hal-hal genting yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Kayak dulu, pas jaman-jamannya saya sering nginthili bapak nonton wayang (akhir-akhir tahun 90an), maka goro-goro seringkali menyenthil tentang kejatuhan rezim Soeharto, obong-obong etnis Cina di Solo, dan lain sebagainya.

Pada momen ini, goro-goro biasanya disajikan dengan begitu meriah, kibasan-kibasan sang dalang begitu cepat dan berenergi, ditambah iringan gamelan yang menyentak-nyentak macak film action. Makanya, tak heran kalo bocah seperti saya dulu begitu antusias dengan adegan yang satu ini.

Selain itu, goro-goro juga bisa dipakai sebagai tanda akan hadirnya 4 punakawan yang jenaka. Yaitu; Semar, Gareng, Petruk, dan adiknya paling bontot Bagong. Kalau pak dalangnya lagi baik, tokoh Togog sering kali muncul untuk menambah gayengnya acara komedi versi pewayangan ini.

Iya, wayang tidak hanya berkisah tentang cerita yang terserat dalam legenda Mahabrata dan Ramayana saja, tapi juga memuat adegan-adegan lucu ala punakawan ini.

Buat yang belum tahu, Punakawan ini semacam abdi/pembantu para satria. Tugasnya adalah ya seperti abdi dalem, tapi tak jarang pula mereka bertugas sebagai penasehat pribadi bagi sang satria. Punakawan sendiri berarti “kawan yang memahami” atau “teman yang mengerti”. Jadi, kalau misal kriteria teman hidup anda adalah ‘yang mau mengerti’ dan ‘yang bisa memahami’, maka carilah ia yang seperti para punakawan ini. *lah kok malah bahas ini*

Baiklah, back to the laptop topic.

Dari keempat tokoh punakawan tadi, yang ingin saya bahas di sini adalah Gareng.

Nama aselinya Nala Gareng, kakinya pincang, tangannya mlintir, dan tak luput perutnya juga buncit, meskipun tak sebuncit Semar dan Bagong.

Kaki pincang ala Gareng ini punya sanepa (maksud), yaitu; karena Gareng ini adalah sosok orang yang hati-hati. Maksudnya? ya begini, misal di jalan ada banyak duri bertaburan. Orang waras tentu akan bertindak hati-hati, memakai alas, jinjit-jinjit, atau bahkan kalau perlu terseok-seok demi menghindari jebakan-jebakan duri tadi. Itulah mengapa sosok Gareng digambarkan berkaki pincang, karena sosoknya yang serba hati-hati alias tidak grusa-grusu. Tangan yang mlinthir, maksudnya Gareng ini tidak suka pak-pek (mengambil) harta yang bukan miliknya.

Boleh jadi, sifat gareng ini sejatinya harus dimiliki oleh para pemimpin bangsa saat ini. Yaitu, pemimpin yang hati-hati dalam bertindak, hati-hati dalam berbicara (tidak asal nylekop), dan hati-hati dalam menunaikan amanah. Dan yang tak kalah penting, pemimpin juga kudu bertangan mlinthir alias benci dengan perilaku mengambil harta yang bukan haknya (korupsi), apalagi kalau harta tersebut milik rakyatnya sendiri.

Saya sendiri sebenarnya sudah prek dengan dunia perpolitikan di tanah air. Karena apapun partainya, semakin kesini kok semakin mbalelo semaunya sendiri, yang berujung pada semua partai sama apapun ideologinya. Ya, meskipun ada yang berargumen; ada yang lebih putih diantara hitam-hitam comberan. Tapi, sebagai orang waras tentu saya berusaha untuk jauh-jauh dari comberan meskipun itu kelihatanya putih.

Meskipun begitu, bukan berarti saya anti-politik lho. Main interest saya ketika baca berita tetep pada dua hal, perkembangan teknologi dan politik.

Oke. Nyeruput teh dulu. *loh emang gak puasa? enggak kan pas nulis ini, pas malem hari. 😀

Tulisan ini sendiri, sebenarnya didasari oleh kegentingan (goro-goro) yang terjadi akhir-akhir ini. Goro-goro itu berupa; kok bisa, di negara yang sudah merdeka 70 tahun lebih, rakyatnya makin banyak yang cerdas, kecendrungan berpikirnya tentang pemimpin masih yang begitu-begitu saja. Yang suka nyelekop, provokatif, dan lebih parah lagi koruptif justru yang diagung-agungkan. Bukan berarti, yang anteng-diem selalu anti-korupsi. Tidak, karena itu juga gak menjamin.

Tapi paling tidak, jangan giring masyarakat pada pilihan-pilihan ilusif. Seakan-akan dunia sudah berakhir. Tersisa pada pilihan-pilihan sulit.

Misalnya saja ada kiai yang bilang begini.

“Pemimpin kafir adil lebih baik dari pemimpin muslim zalim”

Sontak saya bersedih sesaat membaca ‘fatwa sembrono’ sang kiai tersebut. Mau pakai argumen apapun, fatwa tersebut tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Jelas, dari ushul fiqh menyalahi. Dari itung-itungan sederhana prinsip probabilitas dan statistik tentu tidak mungkin. Lha masak, dari 200 juta lebih rakyat Indonesia, hanya akan tersisa dua pilihan yang semuanya pahit dan tak layak pilih tersebut. Karena tentu, sebagai muslim yang waras jelas saya akan memilih.

“Pemimpin Muslim yang Adil” 

Titik. Gak ada tawar-menawar.

Muslim itu wajib, Adil itu harus. Jangan dipisah-pisah. Karena keduanya adalah entitas yang tidak bisa dipisahkan.

Loh, kok jadi serius begini?

Iya ini memang serius. Ya, jangan sampai bangsa ini bubar bukan karena kalah perang, tapi karena penduduknya sesat pikir (sebab teracuni oleh pemikiran yang tidak hati-hati).

Kok tumben posting berbau SARA begini?

Bukan, tulisan ini tidak ada urusannya dengan SARA. Hanya semacam peneguhan sikap saja.

***

Udah segitu saja, cerita tentang Laku Gareng-nya.

Just keep safe and sound!

Advertisements

22 thoughts on “Laku Gareng

  1. Setuju 100% dengan pemikiran mas Parmanto.
    Btw, yang ngomong di tanah air “pemimpin kafir adil lebih baik dari pemimpin muslim zalim” itu kyai terkenal lho, pemimpin organisasi Islam terbesar. Saya agak tak yakin apakah beliau itu kyai? Sudah kah ucapan, sikap dan perbuatannya seperti kyai? Ya, mbuh aku ora urus ndese.

  2. saya ga pernah nonton wayang .. eh wayang golek sih pernah beberapa kali 🙂
    setuju … kalau mengaku muslim harusnya mengikuti panduan yang sudah pasti di Al-quran dan hadist .. bukan pemikiran atau pendapat siapapun yang bertentangan dengan Al-quran dan hadist

  3. Maturnuwun Mas. Artikelnya ini bawa banyak dimensi berpikir. Mulai dari kangen sama Bapak karena dulu sering dipaksa nonton wayang di TVRI sampe ke mikirin soal sikap saya sama politik dan terakhir ya tentu saja sama pemikiran gakpapa yang itu asalkan adil. Justru yang saya heran kenapa gak banyak yang menggembargemborkan harus memilih pemimpin muslim yang adil/jujur dan segudang kualitas baik lainnya. Semenyedihkan itukah umat kita sampai tidak ada seorang pun yang layak dipercaya jadi pemimpin? Bukan bermaksud SARA juga, tapi ya sedih aja lihat kondisinya.

  4. Kalau saya justru malah lebih paham mahabharata 🙂
    Wayang memang filosofis dan sering dipakai untuk dakwah Islam juga. Setuju Mas sama kaitannya dengan perilaku para pemimpin 🙂

  5. “Tapi, sebagai orang waras tentu saya berusaha untuk jauh-jauh dari comberan meskipun itu kelihatanya putih.” <<- ngakak berat *salah fokus

    Jadi ingat itu meme antara Ibu Susi dan Ibu Atut. Meme yang menyesatkan. Sama halnya dengan pernyataan di atas.

  6. legit analogi statistik dan probabilitasnya. Semacam ga apple to apple statement “Pemimpin kafir adil lebih baik dari pemimpin muslim zalim”. Ga kebayang betapa busuknya umat Islam di negri ini jika sampai tidak menemukan pemimpin muslim yang adil, alih-alih memilih pemimpin kafir yang adil.
    anyway udah waktunya sahur hehe

  7. jadi ini hasil kontemplasi berapa lama yah..

    dari saya yg jadi inget jaman desek2an nonton wayang *pdhl jajan thok* sampe dibawa ke baperan :)) sampe juga ke politik kekinian 😀

  8. Iyes. Terjebak nostalgia lah ahah

    Tapi kulo lewih random kok, makane mboten betah nulis dowo soale idene mbleber susah diiket.

    Nek njenengan tesih runut enak diwoco. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s