Wejangan Lebaran

Sungguh, saya rindu.

Mungkin tiga kata tersebut, adalah kalimat permintaan maaf paling tepat atas absent saya dalam dunia blogging 19 hari belakang ini. Bukannya lagi mengalami writer’s block, bukan. Justru ada banyak hal yang ingin di-sharing sebenarnya. Tapi, ramadhan kemarin memang lagi ingin fokus pada kebutuhan (ruhani) diri sendiri aja. Yang hasilnya?

Hmm bisa dikatakan cukup puas, meskipun tidak semua target bisa terpenuhi.

Bagaimana dengan kamu?

Rindu saya enggak? *eh maksudnya, gimana dengan kualitas ramadhan kalian kemarin? sukses? merdeka? atau justru nestapa?

Semoga yang terbaiklah ya, karena tentu saya tahu kalianpun sudah berusaha semaksimal mungkin.

Hmmm okeh… *menghela nafas*

Kita mulai dari apa ya enaknya tulisan kali ini… *loh emang yang diatas bukan permulaaan? hehe

Aha! mungkin dimulai dari permintaan maaf (kedua) kali ya. Saya tahu kok, saya banyak salah. Banyak banget. Hamba yang dhaif ini, masih sering mengulang-ulang kesalahan, khilaf, dan hal-hal kecil lain (misal; lama balas pesan, email dll) yang mungkin bikin mengganjal di hati.

Tolong dimaafin ya, saya ngerti kok gimana gak enak rasanya ‘sekedar’ menunggu balasan pesan itu, apalagi menunggu yang lain-lainnya.

Dimaafin kan?

Dimaafinlah, Mas Anang aja YES masak kamu enggak? *opo sih*

Okeh…

Kemarin, hari kedua lebaran saya mendapat wejangan dari seorang senior yang umurnya cukup jauh dari saya. Wejangan menarik yang barangkali bisa memperbaiki paradigma kita tentang mencari pasangan hidup.

Loh? serius udah kesini aja temanya?

Entah, saya juga tidak ngerti kenapa momen lebaran seperti sekarang kok atmosphere di sekitar saya mendadak mengarah kesana, hal sama yang juga terjadi di tahun lalu.

Faktor nasib? barangkali.

Singkat cerita, senior saya itu katakanlah namanya Pak A. Pak A ini adalah seorang dosen di salah satu PTN di salah satu kota di Sumatera, sudah menikah bertahun-tahun yang lalu dan kini sudah memiliki 3 anak yang sudah besar-besar. Jadi, apa yang beliau sampaikan kepada saya selepas Isya kemarin adalah kombinasi antara ilmu dan pengalaman, atau kalau dalam istilah risetnya data yang disampaikan itu validated hasilnya pun teruji secara empiris.

Setelah berbincang beberapa hal sebelumnya, hingga pada titik beliau menyampaikan hal ini:

“Mas, apa yang membuat bahagia dari sebuah pernikahan itu bukanlah cantik/gantengnya pasangan atau tinggi rendahnya pendidikan (termasuk dalam hal ilmu agama) melainkan kesempurnaan akhlak dari pasangan itu sendiri” kata beliau. Pak A ini sering memanggil saya dengan ‘mas’, yang sebenarnya itu panggilan yang dibahasakan ketika saya di depan anak-anak beliau.

Kemudian, beliau menambahi;

“Kecantikan seorang wanita itu, paling lama bertahan setahun. Setelahnya, wanita akan melewati masa-masa yang membuatnya tidak cantik atau lebih tepatnya susah tampil cantik. Gendutan (efek hamil), jarang dandan (karena sibuk ngurus anak), umur, dan lain-lain. Tapi, satu hal yang akan terus bertahan. Yaitu; karakter dan akhlaknya”

Saya mengangguk-angguk, terus beliau melanjutkan;

“Bila sampai ada isteri yang memanggil anaknya sendiri dengan sebutan binatang, maka kalau misal saya yang jadi suaminya. Akan saya ceraikan si-isteri tersebut. Sebagai laki-laki, saya tidak terima bila anak saya diperlakukan seperti itu, meskipun oleh ibunya sendiri”

Sadis? terlalu ekstrim? mari kita lihat penjelasan beliau selanjutnya;

“Iya, akan saya ceraikan. Karena apa? kaum wanita adalah mereka yang nantinya melahirkan para pemimpin. Kaum laki-laki tidak akan pernah melahirkan seorang pemimpin, tugas mereka hanyalah pelengkap dari rangkaian pendidikan dari seorang calon pemimpin baru. Jadi, ketika ada masa dimana susah dicari seorang pemimpin barangkali pada waktu sebelumnya, tidak banyak wanita yang cakap melahirkan generasi pemimpin”

“Hal itu terjadi, karena kecendrungan wanita itu mewariskan karakter, sedangkan pria tidak”

Hmm, pada titik ini saya kembali teringat dengan tulisan lawas di blog ini, yang saya rangkum dari ceramahnya ustadz Khalid Basalamah tahun lalu.

“Jadi, kalau menikah nanti prioritaskan akhlaknya Mas. Kenali betul karakter sang calon, baru setelah itu hal-hal sekunder lainnya”

“Dan, ini yang lebih penting lagi…. segera ditunggu undangannya hehe”

Halah! sebuah ending yang saya hanya bisa jawab;

“InsyaAllah, segera!” jawaban yang teramat klasik.

End

Ied Mubarak!

muslim-couple-rights-and-obligations-quran-love-rose-flower-marriage

Ilustrasi dari muslimfamilia[dot]com

Advertisements

59 thoughts on “Wejangan Lebaran

    • Aamiin, yang jelas hanya Mas Dani yang tahu tentang itu.
      Iya, kecendrungannya kesitu. Maka tugas suami, berusaha menjaga akhlak sang isteri biar tetep lurus… *boleh jadi wejangan lanjutannya akan jadi seperti itu*

  1. Suami hanya menjaga akhlak istri sebelumnya saja, mas? Nggak bisa memperbaiki? Apakah itu maksud dari istri ibarat tulang rusuk, yg nggak mungkin dibuat jadi lurus?

    • Wallahualam ttg itu bang, tapi menjaga laju kereta yang sudah lurus itu jauh lebih gampang ketimbang muter-muter memperbaiki lokomotiv yang mogok. Entah apakah yang satu ini bisa dipakai analogi jg apa tidak.

      Tapi yang pasti, bang Rifki sendiri yg lebih paham (karena sudah proven berkeluarga).

  2. Liat paragraf terakhir inget ini.
    Pertanyaan klasik ala saudara dan teman2 :
    Kapan nikah?
    Udah ada calonnya belum?
    Ditunggu undangannya ya…

    Jawaban klasik dari saya :
    Insya Allah secepatnya,doakan saja…. *senyum sambil melipir ke pinggir*

    Bahasan satu ini yg selalu bikin kemringet! 😀

  3. Masak sih Mas hanya istri yang mewariskan karakter? Peran ayah juga luar biasa penting lho. Dan ini sudah banyak diangkat juga dalam seminar atau kajian parenting dimana-mana. Seperti fakta bahwa Ayah yang karakternya keras dan kasar, berpotensi membuat anaknya menjadi berperilaku seksual menyimpang. Ayah yang hanya tahu manafkahi tanpa ikut mendidik, membuat anaknya menjadi sulit mengasihi orang lain. Begitu juga Ayah yang tidak memperlakukan istrinya dengan baik, berpotensi menjadikan anak lelakinya pun kasar terhadap wanita. Jangan dibebankan sepenuhnya pembentukan karakter itu pada wanita 🙂

    Ini bukan komentar feminis lho ya, hanya memberikan pandangan yang seimbang pada peran antara ayah dan ibu dalam pembentukan karakter anak. Lebaran lagi deh, mohon maaf lahir bathin hehe

    • Hehe kaum laki-laki (ayah) penting kok Mbak, saya kan nggak bilang kalo mereka gak penting. Tapi yang saya tahu, pembentukkan karakter seseorang itu berdasarkan dua faktor yaitu; genotip dan fenotip.

      Nah, maksud dari Pak A tentang wanita mewariskan karakter itu maksudnya mewariskan secarap genotip (gen), sedangkan ayah mungkin bisa mengambil peran dengan fenotip-nya (mengkondisikan dg lingkungan sebaik mungkin), ya seperti yang mbak Sarah sampaikan itu. Begitu…

      Bisa dipahami kan? 🙂

      • Hmm I see. Sip, paham. Tapi pernah ada penelitiannya secara ilmiah kah Mas? *nanya beneran. Saya pernah bacanya penelitian yang membuktikan kecerdasan seorang anak diturunkan dari gen ibunya. Oya, oernah juga ada risetnya bahwa emosi anak juga diturunkan dari emosi ibunya saat masa kehamilan, karena itu masa kehamilan adalah saat paling krusial bagi sang ayah dalam mesupport ibunya. *sekedarshare 😀

      • Saya belum pernah membaca artikel/jurnal utuh yang membahas tentang hasil penelitian itu. Tapi, banyak artikel yang mengatakan begitu, bahwa gen ibu lbh dominan ketimbang sang ayah.

        Nah, apalagi karakter itu kan olah hasil antara kecerdasan emosi dan kecerdasan berpikir jadi semakin ketemu deh muara logikanya… iya kan?

      • Hehehe Mas Slamet bisa aja sambung-sambunginnya. Ya, bisa juga sih. Meski karakter itu definisinya luas sekali. Jadi, kapan undangannya? 😀 *antiklimaks

    • Ikut nimbrung dikit ya mba :).

      Kalo saya baca di postingan ini sebenarnya ga pake kata ‘hanya’ sih mba, tapi kecendrungan. Dan ini emang terbukti secara sains kalo mayoritas gen anak berasal dari ibunya :).

      Itu mengapa, kalau suaminya bagus, istrinya bagus, didikannya biasanya juga ikut bagus. Nah, kalau istrinya aja yg bagus sementara akhlak suaminya bermasalah, biasanya anaknya juga masih bisa bagus karena didikan istrinya yg kuat.

      Malo saya liat, wejangannya muncul karena emang ga bisa dipungkiri, ibu itu paling banyak waktunya barengan sama anak. Jadi kalau akhlak ibunya bermasalah, ya potensi pendidikan karakter anaknya juga bermasalah kan..

      Tapi iya, emang bener, peran mesti seimbang idealnya. Dan itu bukan karena pandangan feminis atau ga sih. Dalam agama juga gitu tuntutannya, hehe.. Salam kenal ya mba 😉

      • Salam kenal juga Mbak Siti sebelumnya 🙂
        Sip, dimengerti Mbak 🙂 Setuju, ibu itu akar yang kuat bagi seorang anak.Kalau secara gen saya belum tahu, makanya nanya hehe..beneran sebagian besar diwariskan oleh ibunda? Saya pernahnya baca penelitian tentang kecerdasan dan emosi (hanya pada saat kehamilan) yang diwariskan oleh ibunda. Kalau oleh ayahanda yang diwariskan mah perusahaan kali ya kayak di sinetron sinetron…hehehe

      • Sepemahaman saya sih gitu mba. Dalam tubuh tiap orang itu kan ada banyak ‘mesin’ ya, salah satunya mitokondria yg juga jadi salah satu tempat DNA. Nah, mitokondria ini cuma ada di sel telur. Jadi pada saat punya anak, apa yg di dalam tubuh ibunya itu jauh lebih banyak yg nurun ke anak.

        Dulu juga kalo di jurusan saya, kalo tiap bahas genetika sampe ke makanan dkk gitu, dosen selalu bilang jadi calon ibu jangan macem2 makannya. Harus yg sehat karena nurunnya ga cuma ke anak, tapi efeknya juga sampe ke cucu dst. Ini juga ngejelasin kenapa kalo penyakit turunan itu biasanya dibawa sama perempuan, istilahnya carier, terlepas apakah dia juga penderitanya atau ga. Beda ama laki2. Mereka ga nurunin penyakit, tapi mereka bisa jadi penderita penyakit turunan tertentu yg dibawa sama ibunya.
        Kalo urusan yg berhubungan sama fisik aja gitu, begitu juga sama akhlak dst kan. Karena DNA kan memetakan karakteristik manusianya, hehe

  4. (((bales pesan lama))) aku banget itu! Hahaha! Aku si pembalas pesan sangat lama.
    Btw, wejangannya keren ya! Semoga aku dan perempuan-perempuan lain di luar sana mempunyai akhlak yang baik. Aamiin🙏🙏 wkwk

  5. Setuju sama artikelnya. Selain dari segi akhlak pun, kepandaian seseorang itu mayoritas diperoleh dari ibunya 🙂
    75% DNA seseorang diperoleh dari ibu, 25% sisanya dari ayah. Hidup perempuan! #eh

  6. Wejangan dari orang berilmu dan berpengalaman (karena melakukan sendiri) tentu lebih saya percaya. Nasehat Pak A itu boleh jadi salah satu acuan dalam mencari istri.
    Selamat hari raya idul fitri 1437 H, maaf lahir dan batin.

  7. “Bangsa besar yang maju adalah bangsa yang memiliki kaum perempuan beraklak baik” vladimir putin pun sempat berujar begitu pada bung karno ketika beliau meminta pendapat ttg cara utk memajukan sebuah negar.

    Satu pertanyaan utk bang parman, hehee.. Kalau sempat tlg d jawab ya..hihiii..

    Seandainya terjadi perselingkuhan dalam sebuah rumah tangga, kira” siapa yang patut disalahkan ?

    Kaum adam yang memiliki reproduksi penis, yang memang ditakdirkan horny jika lihat leher jenjang nan indah ? Atau kaum hawa yang selalu dibarengi dengan nafsu (biasanya) “hawa – nafsu” seakan susah dipisahkan kata subyektif tersebut..hihiii

    Lahir bathin bang..^ ^

      • “Ignorance is a bliss” itu istilah keren yang sering di pakai di amrik bang, karna warga disana sangat berprinsip dan memang dari aturan negaranya yang serikat di tuntut utk intropeksi diri..tp disini kan beda bang ? Kita bhineka tunggal ika, bukan serikat.

        Mungkin bang parman tdk ingin menghakimi sprti halnya saya, klo bgtu sy gnti prtnyaanya ya,

        “Jika terjadi skandal perselingkuhan, maka pembenaran seperti apa kira-kira menurut abang ?”

        Heheee…sorry bang, lg cr” refrensi soalnya dlm kehidupan nyata saya sering menjumpai sprti itu.
        ^___^

      • Makin susah… haha

        Waduh mas saya sendiri bukan expert dlm dunia perselingkuhan… jd gak ngerti pendekatan macam apa yang tepat untuk kasus seperti itu, tapi yang jelas kasusistik banget pendekatannya nanti.

  8. Hahaha endingnya “kapan nikah, ditunggu undangannya”
    Trus setelah menikah dapat 1 minggu ditanyai LM agi “kapan dapat momongan” hahaha
    Minal aidzin wal Faidzin mas

  9. Yaa Ampyun, rasa-rasanya masih kesemsem sama pertandingan piala eropa semalam, baca postingan ini saya jadi sadar kalo sudah dihujami pertanyaan itu kemarin. Hahaa… Al-Ummu Madrosatul Uwla.. sepertinya kata mutiara bahasa arab itu seiringan dengan postingan ini. Eid Mubarak Mas.. 🙂

  10. Wejangan bermanfaat mas Parman, terutama untuk saya yg masih hijau…

    Mohon maaf lahir dan batin juga ya mas ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s