Bertamu

Islam itu indah lagi paripurna. Dalam setiap sendi kehidupan manusia, maka Islam turut mengaturnya. Karena Islam, tidak sekedar agama (an sich), melainkan pula sumber ideologi, hingga sistem kehidupan. Islam itu ya, mengatur tentang hubungan hamba dan Tuhannya, juga tentang muamalah, politik, dan sebagainya. Tak terkecuali, bab-bab private (yang mungkin sepele) di mata manusia. Salah satunya perihal tentang mengetuk pintu saat bertamu.

Mungkin postingan ini sedikit terlambat ya, seharusnya ini publish ketika momen lebaran kemarin. Saat dimana ramai-ramainya aktivitas bertamu. Tapi tak apalah, kan bertamu tidak harus menunggu lebaran. Kapan aja bisa, termasuk bertamu ke rumah calon mertua misalnya. Ya gak sih?

Ada hadist seperti ini,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…” (HR. Abu Dawud)

Nah kan, dalam hadist tersebut sudah sangat tersirat. Saat mengetuk pintu, Rasul mencontohkan dengan tidak menghadap langsung ke depan pintu, melainkan wajah menghadap sisi kanan atau kiri.

Apa maksudnya?

Maksudnya, biar apa-apa yang terjadi di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh sang tamu. Kita tau sendiri, rumah adalah area private bagi setiap penghuninya. Bagi perempuan yang berjilbab, maka rumah adalah oase tempat mereka menemukan kesejukan. Bagi laki-laki kekar (macam saya *fiksi*), maka rumah adalah ruang fitness, tempat mereka memamerkan otot-ototnya yang kekar dengan hanya mengenakan kaos singlet. Gak harus berotot sih, perut tambun pun halal untuk bersinglet ria di dalam rumah.

Bukannya tanpa alasan, bila ada kecendrungan untuk ‘buka-bukaan’ di dalam rumah. Ya, mungkin faktor terbesarnya ya cuaca di negeri kita yang cenderung panas sepanjang tahun. Belum lagi tingkat humidity yang relatif tinggi. Lha wong, rumah saya yang di kampung aja meski di pegunungan kalau di musim panas bisa terasa panas sekali kok, apalagi mereka yang tinggal di dataran rendah. Panas puool.

Lantas, apa konsekuensi dari hadist tadi?

Ya, tentu dengan memalingkan wajah saat mengetuk pintu. Artinya sebagai tamu, kita memberikan kesempatan kepada sang tuan rumah untuk bersiap-siap, agar supaya tetap saling terjaga pandangannya untuk tidak melihat apa-apa yang seharusnya tidak boleh terlihat.

Dalam versi ekstrim saat bertamu, sering kali kita mencoba mengintip ke dalam rumah oleh sebab sang tuan rumah tidak kunjung membukakan pintu. Kita penasaran, apakah sang tuan rumah ada atau tidak. Nah, perbuatan mengintip seperti ini sejatinya dilarang. Soalnya, ada hadist yang terbilang ngeri (matannya) terkait tentang hal ini.

“Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari)

See! bahkan kita diperbolehkan mencungkil mata seseorang yang mencoba mengintip ke dalam rumah dan itu tidak dihitung sebagai perbuatan dosa.

Selain dua hal itu, masih ada lagi tentang berapa kali kita harus mengucap salam saat ingin bertamu. Maka, Rasul mengajarkan; maksimal tiga kali. Kalau sudah yang ketiga, tidak ada jawaban juga. Maka kata Rasul; pulanglah!.

Dan masih ada beberapa hal lain, terkait bab adab bertamu ini. Silahkan cari referensinya secara lengkap tentang adab-adab lain di kitab Al Adab Al Mufrad.

*epilog*

Tiga hal dasar bertamu tadi, Islam menuntut kita untuk menghormati hal-hal private orang lain. Ya diantaranya, untuk tidak mekso saat bertamu (mengintip, bahkan sampai menggedor-gedor pintu). Bertamu itu, kalau sang tuan rumah tidak lagi berkenan ya kita mesti ikhlas, meskipun sudah jauh-jauh datang. Ojo mekso.

(barangkali) Begitu pula saat kita mencoba bertamu ke hati seseorang. Maka, kunci utamanya adalah Ojo mekso. Jangan ngindik (kepo) terhadap sesuatu yang membuat seseorang merasa tidak nyaman. Termasuk, ketika kita sudah berusaha penuh perjuangan, tapi tak jua terbuka pintu hati. Maka saran saya sih tetep, ojo mekso. Kecuali, kalau sang pemilik pintu hati ingin menguji ketangguhan sang tamu. Tapi kalau sama-sama serius dan niatnya ibadah, masak tega memainkan perasaan sang tamu. Padahal, memulaikan tamu juga bagian dari adab bertamu itu sendiri.

Begitu.

*epilog selesai*

Apapun yang terjadi, keep Looking up guys!

Etika-Bertamu-Berkunjung-Ke-Rumah-Seseorang-gedeteguh.student.telkouniversity.ac_.id_1

ilustrasi dari sini

Advertisements

47 thoughts on “Bertamu

  1. kadose intine ting paragraf terakhir loh. *iki kesimpulan mekso 😀

    dan problem bagi perempuan yang baru berjilbab pasti adalah dimarahin ibu bapak, soale pas ada orang ngetuk pintu malahan ambil langkah seribu. disuruh tumbas uyah cepetcepet, pasti minta jeda waktu nyari kaos kaki riyin ahaha *eh, ini gak nyambung yah

  2. Hadits yang banyak dilanggar warga desa ini. Biasanya malah kadang nyelonong masuk kalo pintu kebuka. pintu tertutup pun kalo g dikunci biasanya juga dibuka sendiri sambil kulo nuwun.. 😀

    memuliakan tamu hati gmn caranya itu Mas??
    kalo tamu rumah kan di kasih jamuan makan, kalo tamu hati berarti dikasih jamuan makanan hati (red: dzikir). dikasih doa berarti…ehehe..

  3. etika Islam memang Indah. Di Desa (utamanya) maupun Kota tampak aturan ini kurang diterapkan (main nyelonong rumah orang), karena kedekatan rumah kerabat. Kebiasaan yg kadang tidak sadar dilakukan di rumah orang lain yang bukan mahramnya.

  4. Saya sering mendapat masalah akibat ulah orang yang ‘ingin dicungkil matanya’ ini. Kebiasaan masyarakat di sini(Banjar) meski nggak semua adalah ngintip ke jendela saat membentuk pintu. Bahkan ada yang tanpa ba Bi Bu langsung buka pintu karena mungkin menganggap itu rumah teman akrabnya.
    Hasilnya? Saya sering byayakan karena belum pakai hijab. Padahal saya ada di ruang pribadi dimana seharusnya saya bebas melakukan apa saja yang nggak bisa saya lakukan di luar rumah.

    Tidak jarang juga jika kebetulan pas sudah berhijab dan ada tamu pria yang langsung masuk meski hanya beberapa cm di depan pintu, saya langsung tegur keras bahkan saya maki.

    Saya juga paling menghindari bertemu saat jam tidur siang sebagaimana saya juga benci orang yang datang saat jam tidur siang. Kecuali saudara yang datang dari jauh atau tamu yang kepergiannya urgent dan sudah memberi tahu sebelumnya jangan harap saya akan bikin pintu

    • Wah repot ya Bu… Berarti memang perlu banget, pagar depan rumah yang tinggi. Disangka sombong dikit gak papa, ketimbang hak private di rumah sendiri terganggu…

      Ba’da dhuhur sampai menjelang ashar memang waktu paling pas buat istirahat, apalagi bagi mereka yang tiap harinya sibuk dengan aktivitas rumah tangga. Jadi, kl ada tamu di jam2 tersebut memang terasa banget keganggunya…

      • Kalo kata titin mah mikir lg kl bikin pagar tinggi depan rumah. Pagar rendah pun kl dikunci mungkin bisa menahan sementara tamu. Klo tinggi pun misal si org yg udh akrb bisa langsung masuk tanpa ba bi bu.

        *karena disangka sombong sm tetangga itu sungguh g enak. meski hanya prasangka.

        bgmna kelanjutan bab bertetangga kita klo sebelumnya kita ‘sdh mau menerima’ risiko itu.

        yg jelas ruang tamu harus ada hijab dg ruang lainnya. dan klo menurut titin kita para akhwat yg jg kudu aware sm hal beginian. Jgn sampe niat png jd baik malah timpang krna ‘mengganggu’ hub dg org tua, sdra, ato tetangga. *imo

        Maaf nyamber dan panjaaaaang 😀

      • Hehe dilematis ya mbak, khususnya kaum perempuan. Antara pengin syar’i tapi ribet dan resiko dikatai terlalu ‘fanatik’oleh lingkungan sekitarnya. Tapi begitulah hidup, pilihan ‘bertoleransi’ adakalanya mesti diambil… 🙂

  5. Bagi yang tahu sopan santun tentu tahu adab bertamu. Yang bikin kesel itu yang tak tahu adab, main sok akrab aja.
    Kadang yang punya rumah juga mengundang orang dengan kata-kata untuk nyelonong. Misal : “ooalah, pakde, pakde… kayak orang lain aja, masuk aja kenapa, sih?
    Nah, lho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s