Teori: Mengapa Terjadi Kudeta di Turki?

Ini adalah tulisan ketiga dan terakhir dari trilogi #KudetaTurki: pertama dan kedua. Semoga dengan membaca ini tidak membuat Anda muak, pengin muntah, dan seterusnya. Gegara sudah (terlalu) banyak info yang bertebaran sejak dua hari kemarin.

Tulisan ini murni hasil riset sederhana saya dengan metodologi; studi media, wawancara, dan atau pengamatan langsung terhadap subjek-objek yang terlibat. Jika anda menganggap di dalam tulisan ini ada keberpihakan, anda tidak salah. Karena untuk hidup di dunia ini, kita memang dianjurkan untuk berpihak. Yak, meskipun subjektif InsyaAllah tetap solutif (seperti tagline blog ini).

***

Pada artikel ini, saya akan membagi tulisan menjadi 4 bagian. Pertama; tentang sejarah kudeta yang pernah terjadi di Turki, kedua tentang background pelaku utama politik Turki, ketiga tentang keadaan Turki menjelang kudeta 2016, dan terakhir adalah sebuah novel tentang kemungkinan teori kudeta oleh segelintir junta.

Sejarah kudeta Turki

Pasca terbentuknya Turki baru atau yang dikenal sekarang sebagai Republik Turki, tanah utama bekas emprium Ottoman ini secara dramtis berubah menjadi negara paling sekuler sejagad raya. Semua yang berbau Islam dan arab diganti. Masjid-masjid dijadikan gudang atau museum, penggunaan jilbab di muka umum dilarang, hingga pengajaran agama dihapus dari sekolah-sekolah. Saat itu, Turki hanya mengenal sistem partai tunggal. Satu-satunya partai saat itu adalah Cumhuriyet Halk Partisi (CHP) dengan pendirinya adalah sang ‘bapak Turki’ Mustafa Kemal Ataturk.

Era partai tunggal akhirnya berakhir pada tahun 1945 ditandai dengan diterapkannya sistem multi partai. Sebuah pemilu demokratis pada tahun 1950 yang berhasil menghantarkan Demokrat Partisi (DP) sebagai pemenang setelah sebelumnya selalu dimenangkan oleh partai sekuler CHP. Pada tahun ini, dimulailah kebangkitan gerakan Islam di Turki. Salah satu yang mencolok adalah dikembalikanya adzan ke bahasa aslinya (arab).

Setulah hampir satu dekade berkuasa, muncul gerakan perlawan untuk menghentikan program ‘islamisasi’ ala DP ini. Gerakan ini dipimpin oleh junta militer dengan melakukan kudeta terhadap pemerintahan sah PM Adnan Menderes, yang kala itu sang perdana menteri harus berakhir di tiang gantungan.

Kudeta perdana ini ternyata membuat kecanduan pihak junta untuk melakukan di tahun-tahun selanjutnya. Tercatat, kudeta kedua di tahun 1971, tahun 1980, dan keempat di tahun 1997. Nyaris hampir setiap sepuluh tahun terjadi kudeta. Dari semua kudeta tersebut, ternyata memiliki kesamaan: menghasilkan keadaan sosial-ekonomi Turki yang semakin memburuk. Itulah mengapa setelah terjadi kudeta ditandai muncul pemenang baru (selain partai sekuler CHP) di pemilu yang digelar setelah kudeta. Pemenang baru ini, meskipun menyandang nama berbeda, orang-orang yang berbeda, tapi memiliki spirit yang sama, yakni: kebangkitan Islam atau media barat melabelinya dengan partai konservatif. Meskipun, tidak semuanya secara terang-terangan menyatakan diri sebagai partai Islam.

Yang jelas-jelas menyatakan dirinya sebagai partai Islam adalah Refah Partisi (RP) pimpinan Necmetiin Erbakan, guru sekaligus comrade presiden Turki saat ini Erdogan. Meskipun begitu, pasca terjadi kudeta terhadap pemerintahan Erbakan oleh junta pada tahun 1997, dua tokoh ini mengambil jalan berbeda. Erbakan memilih jalan ‘pelik’ dengan tetap menerapan Islam yang strict dengan mendirikan partai baru Saadet Partisi, sedangkan Erdogan memilih jalan moderat dengan AKP-nya.

Tahun 2002, dimulailah era Turki modern dengan kemenangan Erdogan dan partainya dengan suara mayoritas hingga pemilu terakhir tahun 2015 kemarin. Perlahan tapi pasti, Turki mengalami reformasi disegala lini. Sektor ekonomi dan pendidikan adalah kunci kesuksesannya. Melalui partainya, ia tidak secara terang-terangan menyatakan partai Islam, bahkan berkali-kali ia menyatakan bahwa ruh partainya adalah sekulerisme, tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kebijakan dalam dan luar negeri yang justru mendukung kebangkitan Islam era modern.

Hal ini, kemudian membuat gerah kalangan sekuler yang di Turki dikenal sebagai Kemalist (pengikut Kemal), selain juga karena mereka sudah haus akan kursi kekuasaan setelah partai CHP kalah di empat pemilu berturut-turut.

Background pemain utama politik Turki

Secara umum, saya akan membagi faksi politik Turki menjadi 3 kekuatan utama.

Pertama, faksi sekuler (Kemalist) dan nasionalis. Faksi ini sengaja saya gabung, meskipun aselinya mereka masing-masing mendirikan partai berbeda. Yang pertama adalah CHP sementara yang kedua MHP. Kedua partai ini, pada pemilu terakhir menduduki peringkat kedua dan ketiga.

Kedua, faksi sosialis Kurdi. Faksi ini mewakili sekitar 18 persen dari populasi Turki yang terdiri dari warga etnik Kurdi yang kebanyakan menempati Turki bagian tenggara.

Ketiga, faksi Islamist. Referensi politik utama kaum Islamist di Turki diwakili oleh AKP, meskipun secara social-agama terdapat banyak gerakan/kelompok Islam di Turki tapi tidak semuanya bermain politik, seperti dari pengikut jamaah tarekat dan sufi lainnya. Nah, salah dua gerakan social-agama yang bermain politik adalah gerakan yang dimotori oleh AKP (yang sangat dipengaruhi oleh gerakan post-modern dari Mesir Ikwanul Muslimin) dan Hizmet yang didirikan oleh Fetullah Gullen (FG) yang kini menetap di AS. Namun bedanya, jika AKP berupa partai an sich maka gerakan Hizmet tidak mendirikan partai.

Di bab ini, saya tidak akan memberikan hal mendetail tentang AKP-Ikhwan karena sudah banyak dibahas. Disini saya akan lebih mendetail tentang Hizmet dengan para pengikutnya yang biasa disebut sebagai Gullenist.

Gerakan Hizmet adalah gerakan social-agama, gerakan ini memiliki pengikut yang cukup banyak di Turki (meskipun tidak ada angka pasti) dan luar negeri (termasuk Indonesia). Gerakan ini terhitung gerakan yang rapi dan kokoh, dengan funding yang cukup kuat. Di banyak lokasi, gerakan ini bertransformasi dalam bidang dan nama yang berbeda-beda. Tapi utamanya bergerak dibidang sosial, pendidikan, dan bisnis.

Saya punya pengalaman tersendiri dengan gerakan ini (termasuk yang satunya; AKP), saya pernah beberapa kali diundang dalam kegiatan sohbet (semacam pengajian dalam kelompok kecil) mereka. Tidak ada yang salah selama saya mengikuti agenda ‘doktrinisasi’ mereka ini. Apa yang mereka kaji, tetep berpadu pada Quran dan Hadist. Tapi, mereka semacam memiliki ‘kitab kuning’ yaitu kumpulan-kumpulan risalah hasil pemikiran ulama mashur Turki Said Nursi (ingin tahu tentang beliau, bisa baca bukunya HES yang Api Tauhid). Sampai di sini, saya oke alias tidak ada yang aneh atau ada yang bermasalah. Meskipun, dalam beberapa hal menurut saya ada yang tidak pas. Tapi yang pasti, para Gullenist menempatkan FG sebagai sosok central pemikiran mereka.

Selain itu, saya juga punya banyak teman dari ketiga faksi tadi. Tapi sebatas teman ngobrol dan minum teh. Mereka pun juga bukan dari kalangan elit. Tapi dari mereka, sedikit tahu tentang pandangan-pandangan mereka dan apa yang terjadi secara sosial-politik di Turki.

Situasi Turki sebelum kudeta

Secara umum, hari-hari sebelum kudeta 15 July lalu Turki berjalan dengan sangat normal. Tidak ada ketegangan yang mencolok, meskipun sempat beberapa kali ada serangan bom toh hampir di semua negara di dunia ada ‘orang gila’ yang ngebom seenak jidat.

Keadaan ekonomi Turki tengah baik-baik saja. Meskipun ada kecendrungan pelemahan nilai tukar Turkish Lira, tapi masih diangka cent yang masih bisa ditoleransi. Yang mana hal itu tidak mempengaruhi pembangunan dan keadaan ekonomi masyarakat. Bahkan GDP per kapitanya masih di angka 10 ribu (secara teori revolusi; tidak mungkin terjadi revolusi karena masalah ekonomi).

Secara politik, juga tidak mengalami gejolak yang besar. Hanya saja tengah terjadi perdebatan tentang adanya perubahan sistem pemerintahan dari parlementer ke sistem presidensial. Dan bila ini terjadi, biasanya pemerintah Turki akan menyelesaikannya dengan mengadakan jajak pendapat (referendum) untuk memutuskan, seperti referendum pada tahun 2011. Dan itu pernah terjadi dan tidak ada masalah. Masalah politik lain, adalah tentang ‘pembersihan’ gerakan Gullenist pasca organisasi tersebut dinyatakan sebagai kelompok makar oleh pengadilan setempat pada tahun 2014. Yang diantaranya, diikuti dengan penutupan media massa milik gerakan tersebut.

Secara sosial, ada masalah yang terkait tentang meningkatnya jumlahnya imigran yang memasuki Turki. Apalagi ditambah rencana pemerintah yang ingin menaturalisasi pengungsi Suriah (jumlah total ada sekitar 2 juta orang). Yang mana, kedua hal tersebut membuat munculnya kecemburuan di kalangan warga Turki (terutama yang dari Suriah). Karena dalam beberapa hal ada semacam ‘pengistimewaan’ dibanding warganya sendiri. Pemerintah Turki sendiri, punya alasan logis dalam hal ini. Namun, tetap saja itu adalah kebijakan kontroversial di tengah masih tingginya angka pengangguran.

Secara kebijakan luar negeri, yang terbaru adalah pemerintah Turki memperbaruhi hubungan dengan Rusia pasca tertembaknya jet Russia beberapa waktu lalu. Kedua negara ini, secara keamanan dan ekonomi sebenarnya saling membutuhkan. Turki butuh gas dari Rusia, sedangkan Rusia butuh jualan lebih banyak gas (dengan dibangunnya pipa gas ke eropa melalui Turki) dan hasil manufaktur dari Turki. Kembali rekatnya hubungan dengan Rusia, tampaknya membuat jengah mereka yang tidak suka dengan hubungan kedua negara tersebut.

Teori Kudeta Turki

Dengan melihat sejarah, latar belakang pemain, dan keadaan Turki saat ini. Maka berkembang tiga teori populer tentang mengapa terjadi kudeta super singkat 15 July kemarin. Kudeta yang terkesan kurang persiapan, abal-abal, tapi sempat bikin kaget dunia internasional.

Pertama, teori nabok nyilih tangan.

Teori ini datang dari pimpinan Kurdi. Tentang penjebakan Gullenist oleh kaum Kemalist dalam kudeta kemarin. Perlu diketahui, pada pemilu terakhir kemarin dua kekuatan ini sempat bersatu head to head melawan AKP. Nah, disini Kemalist tau persis bahwa kudeta akan berakhir pada kegagalan, tapi tetap menyakinkan para Gullenist di tubuh militer untuk tetap bergerak. Dengan gagalnya kudeta, maka akan terjadi pembersihan para pengikut FG ini. Kemalist pun senang. Karena dari awal, kaum sekuler dan agama tidak akan bisa bersatu.

Kedua, operasi false flag alias drama untuk meningkatkan popularitas Erdogan.

Sejak berkonflik dengan gerakan hizmet, pemerintah Turki terkesan arogan dan tidak lagi fokus pada pembangunan. Meskipun, ‘arogansi’ yang ia lakukan masih bisa dikatakan demokratis. Karena untuk menempuhnya juga dilalui dengan cara-cara legal dan demokratis. Misal dengan surat perintah pengadilan dan seterusnya. Jadi tidak ada namanya asal tutup atau asal tangkap. Dalam kasus penutupan media ini, pemerintah Jokowi tampaknya lebih agresif ketimbang Erdogan (baca: kasus pemblokiran paksa media-media Islam yang dituduh penyebar paham teroris). Karena versinya pemerintah RI, mereka menutup media-media tersebut tanpa sebelumnya melakukan riset dan perangkat hukum yang cukup (asal blokir).

Dengan ditambah situasi ‘buruk’ diatas tadi, dalam setahun terakhir popularitas Erdogan terus mengalami penurunan. Yang ditandai dengan pengunduran diri sang comrade Ahmed Davutluoglu dari kursi PM dan ketua partai. Kepercayaan kepada Erdogan menurun. Jadi, untuk meningkatkan kepercayaan publik ia sengaja membuat operasi ‘false flag’ agar terlihat didzalimi.

Tapi, melihat konsekuensi (jumlah korban yang mencapai 200-an jiwa) rasanya itu cukup keterlaluan untuk dilakukan oleh seorang Erdogan padahal pemilu selanjutnya masih lama. Belum lagi, operasi ini tampak terlalu terbuka dengan banyaknya orang yang terlibat. Jadi, adanya kebocoran informasi bahwa kudeta kemarin adalah settingan atau drama sangat besar. Dan saya rasa, Erdogan tidak senista dan sebodoh itu.

Ketiga, teori serang sebelum fajar.

Ada kabar, bahwa pihak pemerintah akan melakukan operasi penangkapan besar-besaran pada Gullenist yang selama ini dituduh dalam rencana makar parallel state. Operasi penangkapan ini, sebenarnya sudah dimulai sejak dua tahun lalu. Di mulai dari pembersihan jajaran kepolisian dari simpatisan gerakan Hizmet. Dan kali ini, operasi akan menyasar Gullenist di jajaran hakim dan jaksa. Rencana ini sejatinya, baru akan terjadi pada tanggal 16 July atau sehari setelah kudeta (15/07).

Namun, operasi ini nampaknya bocor. Yang membuat, para terduga simpatisan Gullen bertindak cepat meskipun tanpa persiapan, fakta di lapangan memang begitu. Para Gullenist di tubuh militer ini, mencoba mengambil alih negara dengan menyandra para jenderalnya sendiri. Untuk menguatkan dukungannya, maka perlu penguasaan media. Direbutlah beberapa jaringan media milik pemerintah maupun swasta. Dengan menguasai media, mereka berharap mendapat dukungan dari rakyat Turki atas aksi kudeta kemarin.

Tapi karena kurangnya persiapan, jumlah tentara yang terlibat minim, hanya terpusat di Istanbul dan Ankara, dan ditambah tidak mendapat dukungan dari rakyat Turki, maka kudeta kemarin berakhir tidak lebih dari 5 jam. Bahkan, yang lebih tragis pihak tentara kudeta tidak mengetahui posisi persis sang presiden.

Dan begitulah, ketiga teori yang berkembang atas kejadian kudeta singkat kemarin. Yang bisa benar, dan sangat mungkin sekali salah.

Karena masih banyak pertanyaan yang mesti dicari jawabannya. Karena, ada kemungkinan keterlibatan negara asing di sini.

Tapi, satu hal yang pasti. Mengapa kudeta kemarin mampu digagalkan? karena masih banyak warga Turki yang waras. Karena bagaimanapun, merebut atau mengganti pemerintahan yang sah dengan cara kudeta itu tidak bisa dibenarkan. Dan rakyat Turki tidak menginginkan hal itu terjadi. Dan lagi, situasi terkini, kondisi Turki kembali tenang seperti biasa. Tidak ada pengamanan ekstra ketat di mana-mana.

Hanya saja, timbul kegelisahan dikalangan Gullenist non-militer, yang tidak terlibat secara langsung (kalau tuduhan itu benar) apalagi kalau tuduhan itu salah (seperti yang sudah di sanggah oleh FG beberapa jam pasca kudeta). Karena, fakta mengatakan sudah ada 6000 anggota militer aktif dan 2500 hakim dan jaksa yang ditangkap pasca kejadian kemarin, karena keterlibatannya dalam parallel state (seperti yang dituduhkan). Mereka takut tiba-tiba diciduk dan disangka makar.

Sekian.

Disclaimer: teori ini ada kemungkinan salah, jadi jangan terlalu percaya. Anggap aja hiburan Senin pagi sambil minum kopi. Selamat membaca.

Turki, 18.017.16

Bukan pakar dibidangnya.

thetruthisoutthere_616

source pict: unu.ai

Advertisements

63 thoughts on “Teori: Mengapa Terjadi Kudeta di Turki?

  1. Yg keren itu, kecepatan untuk kembali seperti semula kya yg dibilang di atas.

    Emg gda warga yg trauma ato gmna gitu dg seringnya bom?

    Tingkat kewarasan mereka keren bgt yak

    • Orang indonesia tak kalah bandel kok, pas ada bom di sarinah malah ada yang tetep jualan sate 😀 😀

      Coba baca tulisan saya yang sehari di ankara untuk melihat betapa cepanya mereka move on… kl sampeyan udah move on belum mbak? *eh

      • Yaa, org endonesa gda tandingannya emg yak :))

        Etapi mksd titin tyata kecepatan pemerintah nanganin dan rakyatnya yg mampu menjaga kewarasan jg. *iki ko jd belibet 😀
        Udah baca kayanya tulisan yg di ankara itu

        Move on? Belumlah *lalala

  2. Pas banget ini saya baca Senin pagi di kereta menuju kantor. Gak bisa berpendapat apa apa karena memang buta bgt tentang politik disana. Tapi at least melalui tulisan Mas Slamet ini bisa nambah pengetahuan whats going on in there.Good(Y)

  3. Alhamdulillah akhirnya ditulis juga. Ini sekalian me-refresh ilmu2 pas kuliah HI. Aku lagi nyari2 buku yang nulisin sejarah Turki, tapi belum nemu juga. Lagi mood banget belajar sejarah. Makasih ya Mas udah nulis. Bagus pulak 🙂

  4. Biasanya aku ga terlalu suka dunia per-politikan suatu negara. But I enjoy reading this one. Nice writing mas 😊

  5. Siapa pun yang sedang dan akan jadi presiden republik Turki, harus sadar bahwa kalangan militer sewaktu-waktu siap mengkudeta mereka. Maka kepemimpinan yang kuat juga akan diuji lewat hubungan mereka dengan militer .

    Seru, mas, baca teorinya 🙂

  6. Kreen tulisannya mas, Menambah informasi, menycerahkan
    Dan jadi Sdikit lebih tau tentang Geopolitik Turki,,Makasih 🙂

  7. Nah, tulisan ini ibarat makanan yang dibuat oleh orang dapur.
    Di Indonesia banyak sekali broadcasting di medsos yang isinya hampir seragam: memuji Pak Erdogan setinggi langit dan cendrung taqlid. Membaca posting mas Slamet ini memberikan persepsi lain tentang kudeta di Turki.
    Jangan berhenti sampai tiga tulisan ini, mas. Tolong nanti dishare juga keadaan Turki setelah upaya makar yang gagal ini.

    • Mungkin mereka terlalu rindu dengan pemimpin yang bener2 pantas untuk dirindukan. Berhubung tidak menemukan di negaranya sendiri, ya mencoba mencari peralihan di negara lain… eh kok muji2nya kebablasan 🙂

      Kayaknya udah deh pak, kl terlalu banyak dieksplotasi takutnya pembaca blog ini justru kabur… itu mulu itu mulu temanya 🙂

  8. Tiba2 keingetan beberapa orang yg bisa seenaknya nulis berandai2 adanya kudeta di Indonesia. Ckckck

  9. Nomor dua ngeri sekali sodara… (seandainya benar) tapi entah kenapa ketoke ora deh. 200 nyawa meeen jadi tumbal cuman buat naikin popularitas, hambok bagi2 sembako (eh ora mempan yak? :D)

    Nomor 3 marai ngguyu, dia mengkudeta tapi gak tau posisi presidennya? #ealah

    Terus kemungkinan terbesar teori mana yg bener? Itu si Mamarica kaga ikut2an?

    Oke, mas makasi teori2ne. Luwih gampang percaya teori iki dari pada teori flat earth.

    #TrilogiEnd

    • Haha bagi sembako sama buku tulis di sini udah gak mempan mbak, lha wong anak2 sekolah udah difasilitasi tablet gratis je 😀

      Lha wong jenenge kepepet ya begitu… tapi mana yang bener? hmm gak tau, mungkin yang ke 4 atau ke lima?

      #TrilogiEnd suka dengan hastganya… 😀

      • Mas, paska kudeta pie?
        Aku baca ada kabar katanya ada tentara yg dipenggal sama pihak pro erdogan. Beneran?

        Aku baca dr punya Dina Sulaeman sih…

        Buntut dari kudeta-gagal di Turki lebih mengerikan daripada yang diperkirakan. Orang-orang AKP (partainya Erdogan) dan pendukung Ikhwanul Muslimin turun ke jalan untuk menegakkan “keadilan ala-ISIS”. Mereka melakukan aksi-aksi mengerikan, termasuk pemenggalan kepala, terhadap para tentara yang dituduh terlibat dalam kudeta.

        Erdogan sendiri melakukan pembersihan besar-besaran terhadap oposisi politik, dimulai Sabtu pagi, dengan perintah untuk mengumpulkan (round-up) minimalnya 3.000 pasukan yang terlibat dalam upaya kudeta, serta merilis 2.700 surat perintah penangkapan untuk HAKIM. Total ada 6.000 orang yang telah ditangkap atas dugaan tuduhan pengkhianatan, dan angka itu diperkirakan akan terus bertambah.

        Erdogan mengatakan, “Pemberontakan ini adalah hadiah dari Tuhan untuk kita karena ini akan menjadi alasan untuk membersihkan tentara kita.”

        Erdogan dan partainya melalui jaringan mereka, para Imam politik yang berafiliasi dengan masjid-masjid, secara efektif menyerukan agar pendukung AKP dan pengikut Ikhwanul Muslimin turun ke jalan, untuk memburu dan menghukum militer maupun sipil yang dianggap membangkang. Penyiksaan pun terjadi di jalan-jalan dan polisi tidak melakukan intervensi. Seorang tentara Turki dilaporkan telah dipenggal di jembatan Bosphorus Istanbul oleh massa pro-pemerintah. Rekaman video dan foto-foto menunjukkan prajurit yang tergeletak di tanah dikelilingi oleh genangan darah, dipukuli, disiksa dan dibunuh di jalan-jalan terbuka.

        Foto2 dan video bisa dilihat di sini http://21stcenturywire.com/…/erdogans-purge-islamo-fascist…/

        Sorry dowo….

      • Orang2 syiah kl terkait Erdogan, AKP, dan yang berkaitan dengannya memang begitu. Tidak bisa membedakan mana dilusional mana faktual.

        Tentang agenda ‘pembersihan’ memang sedang terjadi, tapi Erdogan bukanlah sosok Soeharto jaman PKI dulu yang asal tembak mati. Mereka yang disangka terlibat kudeta kemarin tetap melewati kerangka hukum yang ada, meskipun ada indikasi kuat pukul rata. Singkatnya, dia memang terlihat arogan tapi arogansinya tetap sesuai aturan.
        Ngerti toh maksude?

  10. Info menarik, mas parman. Selama ini, teori yg kerap sy dengar adalah versi pemerintah turki: dalangnya adalah FG. Rupanya ada kemungkinan kemalist main atau falseflag juga. Hanya saja yang jelas di benak saya, operasi pembersihan oleh erdogan akan terjadi dan penguatan posisinya akan makin mantap di berbagai lini

  11. Terimakasih mas dengan tulisannya, yang meskipun teori namun didasarkan pada fakta di lapangan. Soalnya di Indonesia justru beredar beberapa teori yang menurut saya ‘ngasal’ dan dibanding-bandingkan dengan pemerintah yang ada di sini.

  12. produktif banget mas lgsg ditulis bagian ketiganya, ga ada kerjaan po? #ups hehe
    abis baca ini malah penasaran, nulis postingan ini berapa lama mas? terus kalo sejarah indonesia sendiri tau ga mas? #salahfokus

  13. Ikut membaca karena tak punya referensi banyak tentang negara ini. Semoga yg ditangkap memang yg bertanggung jawab atas kudeta singkat tersebut.

  14. komen lagi ah,

    dan di timeline fb dari hari kemarin penuh isinya sama sekulerisme. baik yg bilang erdogan juga mendukung sekulerisme maupun yg bilang bahwa erdogan cuma ngaku sekuler krna pd kenyataannya kebijakan ternyata islami.

    dan jadilah itu semacam war yg gda juntrungannya ><

  15. wah lengkap banget ulasannya
    Turki memang punya tradisi panjang untuk kudeta ya … kayaknya negara yang punya tradisi seperti ini akan selalu terjadi lagi dan lagi
    Mudah2-an Turki bisa cepat pulih dan setiap pergantian kekuasaan di selesaikan secara demokratis

  16. apa kabar mas? semoga mahasiswa2 dan orang indonesia yg lagi di turki baik2 saja, aman dan damai sentosa disana soalnya suka khawatir kalo baca/nonton berita adanya kudeta atau teror bom, bagaimana nasib saudara atau keluarga yang sedang di turki lebih ke situ sih pikirannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s