Perihal Nasi Goreng dan Jodoh

Bagi keluarga kami nasi goreng itu bukan sekedar persoalan perpindahan nasi dari kuali ke wajan (untuk dimasak lagi), tapi juga soal pergolakan peradaban. *halah*

Nasi goreng adalah bukti atas runtuhnya dominasi kaum wanita di daerah kekuasaannya sendiri (pawon). Karena, ketika bau semerbak bawang, cabe, kemiri, dan sedikit trasi sudah tercium hingga ke ruang tengah, maka lakon utamanya bukan lagi wanita satu-satunya di rumah kami (Ibuk). Melainkan, lelaki gagah yang saya panggil Bapak. Ya, dalam hal per-nasi goreng-an Ibuk mesti mengakui kehebatan sigaraning nyawa (garwo) beliau sendiri.

Entah mengapa, di tangan Bapak, sepiring nasi goreng sederhana begitu istimewa. Rasanya pas, meski tanpa ‘hiasan’ macam-macam. Pedes, asin, dan gurihnya itu nyokot. Mengalahkan nasi goreng Sari Eco super special langganan saya dulu. Menu super special di warung ini adalah memadukan sepiring nasi goreng dengan hiasan super komplit, ada potongan ati, telur, hingga seafood. Tak lupa, ditambah hijau-hijuan yang segar termasuk beberapa butir pete.

Tapi, tetap saja nasi goreng ala Bapak itu tetap nomor satu di dunia. Karena, beliau mengolahnya dengan sepenuh cinta.

***

Bicara nasi goreng, saya jadi teringat kisah tragis temannya teman saya. Hmm agak repot ya? ya karena secara personal saya tidak kenal, cuma sekedar mendapat sambung cerita saja. Kisahnya tidak ada hubungannya dengan nasi goreng sebenarnya, tapi nanti akan saya hubung-hubungkan biar kelihatan kontekstual. ^^

Intinya, si-teman ini ditolak menikah (baca: tidak lanjut prosesnya) oleh seorang laki-laki di momen nazhor untuk pertama kalinya. Yang belum tau, nazhor itu tahapan dalam proses taaruf ketika mereka yang sedang berproses saling dipertemukan atau dalam bahasa Jawanya ngindik calon. Eh ngindik kan secara diam-diam, sepertihalnya Khadijah ke baginda Nabi dengan atau tanpa melalui perantara sahabatnya Nafisah. Tapi, nazhor disini benar-benar saling bertatap muka.

Kira-kira apa alasan laki-laki tersebut?

“Si-perempuan tidak pakai manset saat itu, jadi katanya sedikit aurot dipergelangan tangannya terlihat”

WHAT?!

Begitulah respon spontan saya. Pertama, karena saya gak ngeh apa itu manset. Kedua, setelah tau apa itu manset, saya gagal paham ketika hal seperti itu bisa dijadikan alasan untuk menolak seseorang. Kebangetan.

Itu menurut saya.

Gak tau kalau menurut si-lelaki tersebut. Boleh jadi menurutnya, ketaatan kepada Allah dan Rasulnya bisa diukur oleh sehelai kain tersebut. Hingga menjadikan manset menjadi lebih pokok ketimbang hal lainnya. Padahal, si-perempuan ini tak luput dari kata sempurna. Pendidikannya baik, agamanya terjaga, parasnya pun katanya lebih dari sekedar cantik.

Weedan bener lelaki itu.  Lagi-lagi itu menurut saya. Atau mungkin, karena faktor belum jodoh saja?

Hmm barangkali…

***

Well…

Karena bagi saya, memilih (menemukan) jodoh itu seperti rasa intimacy saya kepada sepiring nasi goreng. Mari kita lihat kembali lebih dalam akan makna dibalik makanan rakyat yang istimewa ini, yang konon katanya Obama-pun suka. Tapi perlu dipahami, bahwa jodoh tetep rahasia Allah. Meskipun begitu, kita pulalah yang nantinya akan terlibat langsung, dari menentukan kriteria, jalan yang dipakai, hingga siapa orangnya. Sementara akan dimudahkan apa tidak nantinya, itulah yang menjadi rahasia Allah.

Baiklah,

Jika kita amati, ada tiga inti (pokok) kekuatan dalam sepiring nasi goreng. Ketika inti ini terlepas (tidak ada) maka tidak bisa lagi disebut sebagai nasi goreng. Tiga inti tersebut adalah nasi (otentitas kebendaan), bumbu (rasa), dan cara pengolahan (proses). Ketiga inti ini tidak boleh terpisah, bila hal itu terjadi maka bubarlah sang nasi goreng ini.

Begitu pula dalam hal menemukan jodoh. Ada tiga hal pokok; pertama wujudnya mesti jelas. Kalau laki-laki ya 100% laki, kalau perempuan ya 100% perempuan. Ya, jangan sampai sudah mau menikah tapi masih bingung mendeskripsikan dirinya sendiri antara lelaki atau perempuan. Kedua, tentang agama dan kepribadian. Dua hal ini adalah persoalan rasa. Karena tidak lagi penting sebuah kenjantanan (bila yang ingin menikah perempuan) jika sang calon terasa hambar dalam dua hal ini. Ya, seperti nasi goreng tadi, rasa (bumbu) adalah kekuatan utamanya. Bila tidak ada bumbu, maka nasi hanya akan menjadi nasi biasa. Dan hal ini pula inti jiwa dari seseorang, yaitu ketika agama dan kepribadiannya bisa dirasa.

Yang menjadi persoalan, setiap orang mempunyai cita rasa sendiri-sendiri. Maka PR terbesarnya adalah tinggal bagaimana mengolah cita rasa tersebut klop dengan olah rasa sang calon sigaraning nyawa.

Ketiga adalah prosesnya. Nasi goreng bisa disebut nasi goreng karena mesti melewati proses penggorengan (dengan sedikit minyak), karena bila nasi itu dibakar maka tidak lagi bisa disebut sebagai nasi goreng meski bumbunya sama. Jadi di sini, proses menjadi hal penting. Bagi saya, tidak masalah mau media apa seseorang itu menemukan jodohnya. Baik itu; jalur kekeluargaan, perantara ustadz, teman, ketemu di antrian stasiun, atau hingga ketemu di dunia maya melalui tulisan (meski itu sekedar status FB atau sms yang nyasar).

Ini seperti saat kita memilih alat menggoreng nasi, terserah mau pakai teplon, wajan besar, atau malah panci dari rice-cooker. Semuanya hak, tidak masalah. Karena yang terpenting adalah proses pengolahannya. Dalam proses saling mengenal, yang terpenting itu jangan sampai melanggar syariat-Nya dan jangan pula sampai menghinakan sang calon dan keluarganya. Dalam mengolah, jangan terlalu instan sampai hidangan tidak jadi matang, pun jangan sampai gosong hingga tidak lezat dimakan.

Sementara itu, bahan lain seperti; telur, rempela ati, udang, cumi, sayuran, hingga petai, mereka hanyalah sebatas hiasan-hiasan. Benar, benda-benda tersebut menjadikan sepiring nasi goreng menjadi lebih istimewa atau super special. Tapi kan, bukan itu persoalan utamanya.

Kata Ust Fauzil Adhim;

“Kecantikan memang menimbulkan sakinah, rasa senang, lagi bangga. Tapi, sampai kapan hal itu bertahan lama?”

Kecantikan, ketampanan, kekayaan, status kedudukan adalah hiasan-hiasan dunia yang bersifat sementara. Benar, hal tersebut menjadikan seseorang tampak istimewa. Tapi, sampai kapan hal tersebut bisa bertahan?

Karena, sesungguhnya persoalan utamanya bukan hiasan-hiasan tadi. Tapi tiga hal yang yang menjadi inti.

Sepiring nasi goreng sederhana akan menjadi istimewa bila diolah 
dengan sepenuh cinta oleh mereka yang mengerti akan cita rasa.

-Bapak-

#NTMS

Nasi-Goreng-Mangga-resep_7_6.2.2_326X580

Advertisements

97 thoughts on “Perihal Nasi Goreng dan Jodoh

    • Eh samaan ^^
      Boleh jadi, nasi goreng adalah senjata kaum laki-laki untuk meruntuhkan dominasi kaum perempuan dalam ranah perdapuran. Btw, saumi km bisa masak nasi goreng gak mbak? siapa tau resep rahasianya nurun ke menantunya 🙂

  1. Makjleeebb tulisan ini bagi saya 🙂
    Tapi ada benarnya juga 😀

    Saya dulu pernah share ttg jodoh.
    Setinggi apapun kriteria kamu, ekspektasi kamu ttg jodoh, jangan lupa ada kuasa Allah yang menentukan takdir jodohmu.
    Yang bisa jadi jauh dari kriteria idaman selama ini 😀
    Kan namanya juga jodoh, misteri.

  2. suka quote dari bapak itu “Sepiring nasi goreng sederhana akan menjadi istimewa bila diolah dengan sepenuh cinta oleh mereka yang mengerti akan cita rasa.”
    Istriku juga gitu mas, kalo masalah goreng nasi, pasti aku yang suruh goreng
    Bumbunya ya beli sachetan. rasanya mungkin lebih enak beli dari pada yang saya buat
    tapi kata istri, ini yang terbaik dari semua nasi goreng yang dia makan.
    walau aku tau itu gombal, tapi aku tetep senang
    sebagaimana rasa enak terbuat dari rasa nyaman dan kebanggaan”
    ketika kita nyaman dan bangga akan nasi buatan bapak, pasti kita akan menikmati setiap suapan yang kita makan
    ☺☺☺

  3. Dan memang tukang nasi goreng itu mayoritas lelaki. Lihat aja yang jualan di kota-kota besar Indonesia, 🙂
    Tapi bagi saya nasi goreng buatan almarhumah ibu tetap paling enak.

  4. Soal goreng menggoreng nasi, Pak Suami juga ok. Goreng tempe juga. Kalau sudah nguplek di dapur, jatuh lah pamor saya sebagai ratunya dapur. Entah karena resep ibu mertua yang memang juara atau karena kesaktiannya mengolah nasi goreng, rasanya pasti beda. Endesss… saya nggak bisa jelasin bedanya di mana tapi beda aja… padahal bumbunya yo sama saja dengan resepnya ibu mertua….
    Bisa jadi para pria memang memiliki taste memasak sepersekian level lebih tinggi dari wanita dalam menu tertentu. Atau, karena sehari2 tidak di dapur, begitu nyemplung ke dapur maka keluarlah semua kesaktiannya 🙂

      • Probolinggo mas. Dan katanya almarhum bapak mertua juga jago masak bahkan bukan hanya nasi goreng. Soal ilmu hikmah saya nggak tahu mas. Tapi bersyukur saja, setidaknya kalau lagi sakit sarapan anak2 tercover…

      • Menurun berarti ya… orang yang sudah terbiasa masa sedari kecil memang cenderung lebih peka soal rasa. Keren! bisa dijadikan alasan Bu Dyah unt sesekali cuti tugas di dapur dong kl gitu 🙂

  5. pertama, tiap mudik pasti mamas juga yang disuruh ibuk bikin nasgor, nasgornya mas itu ya, nomor satu di rumah. saya juga mengakui, dan saya juga gakjago bikin nasgor, mungkin nanti suami saya yg jago *egimana ini.

    kedua, bisa jadi karena gak jodoh aja, jadi apapun alasannya, akhirnya –alasan– itulah yang tertakdir menjadi bahan belajar buat kita-kita yang dikasih tau ceritanya. adapun apa yg tertangkap menjadi bahan belajar, tentu sesuai dg sudut pandang masing2. *IMO 😀

    ketiga, gakada.

  6. Kok sama ya, nasi goreng paling sedap di rumah saya juga buatan papa. Sejak kena stroke beliau gak pernah masak lagi, dan jujur kadang suka kangen juga olahan beliau. Btw, aku juga kaget pas baca cerita tentang wanita yang ditolak nikah hanya gara-gara tidak pakai manset. Padahal spec nya kayanya oke banget. Manset lho, luas area yang ditutupinya pun tak seberapa. Tapi ya kembali lagi pada pemilik alasannya. Semoga ini adalah alasan asli yang tak dibuat-buat ya.

    Bisa aja deh mas menghubungkan antara nasi goreng dan masalah jodoh. Tapi memang ketiga hal tersebut benar adanya 🙂

  7. Jadi pengen tau nasi gorengnya seenak apa, soalnya mnurut saya smua nasi goreng rasanya sama wkwkwk

    Waah… masnya ini kayaknya udah pengalaman ya dalam bidang jodoh, eh.. udak dpraktekkan apa sekedar teori mas hahah

  8. Td br aja ngmg sm ayah pen nasgor dan disini saya alhamdulillah ‘kenyang’ pencerahan. Terimakasih selalu bang Slamet!

  9. Sadis banget analoginya.
    Nasi goreng memang selalu punya chemistry tersendiri.

    Sayangnya, alm nenek saya mewariskan ilmu nasi goreng babadnya pada adik perempuan saya, bukan pada saya 😂 #ngeles..

  10. Di rumah ayahku juga jago masak nasi goreng. Kalo ibu yang masak ya udah sering dan pakemnya ya udah ketahuan. Kalo ayah mungkin lebih main rasa walaupun gak macem-macem secara hiasan hehe.

    Mas Slamet, mau nanya serius nih haha. Kalo ada orang yang bertekad bertemu jodoh dengan cara Taaruf, apakah akan saklek banget seperti itu? secara mayoritasnya maksudku….

    Ya kan karena bisa aja jodohnya ketemu di teman lama, atau teman baru kenal secara langsung alias bukan dikenalin (perantara dalam proses taaruf).

      • Sebenarnya saya gak ngeh dengan pertanyaanya 🙂

        Tapi, menurut orang2 yg udah pernah menjalani (contohnya kakak saya sendiri); Ta’aruf itu cenderung (kudu) serius (niatnya jelas unt nikah saja), efektif (gak banyak basa-basi), dan menyisihkan sisi romantisme. Ada beberapa memang yang diawali dengan rasa ketertarikan (suka/cinta) karena sebelumnya sudah saling kenal (sama2 temen kuliah misalnya), tapi sebisa mungkin rasa itu ditahan dulu biar tidak terbelenggu sisi rasionalitasnya. Menikah kan tidak cukup cinta saja, tapi kudu rasional juga. Itu pula yg dikatakan oleh banyak ustadz…

        Tapi yang jelas, pintu jodoh bisa di mana saja kok Om. Dari lingkaran pertemanan, per-bolang-an, atau malah per-blogger-an. Yang terpenting, jalan menuju pelaminannya mesti yang hak.
        Seperti saat kita mbolang, sepanjang kendaraan yang kita pake safety-nya baik dan sehat, tentu perjalanannya akan berakhir dengan selamat dan lancar. Ya gak?

        *semoga balasan komen ini tidak terdengar ‘bullshit’ ya, lha wong saya aja masih…. ah sampeyan tahu sendirilah haha

      • Pertanyaannya memang membingungkan *toeljidatsendiri, tapi jawabannya sudah sesuai harapan 😀 makasih mas.

        Ngakak di bagian ending 🙂

      • Tambahan, kalau ditanya ‘apakah orang yg (rencana) bertaaruf hanya mau melalui jalur itu saja bukan yang lain (misal pacaran seperti pada umumnya)? tentu ini dikembalikan ke personal masing-masing.

        *Lha emang ada ukhti yg sedang diencer tho Mas? saran saya sih, diseriusin saja jgn sekedar dipacarin kasian si-ukhti #eh (bener gak maksud pertanyaannya begini?) 🙂

  11. Sudah lama nga ngerasain nasi goreng Bapak ku di kampung sana. Benar juga yach nasi goreng itu sepertinya spesialisnya bapak2. Dan analogi nasi goreng dengan jodoh itu kalau dipikir2 benar juga. Harus ada elemen utama dan penghias. Klop di piring dan enak dilidah.

  12. Betul banget, seenak apapun nasi goreng yang disajikan oleh restoran bintang 5 sekalipun, gak ada yang nyaingin nasi goreng buatan bapak saya~ 😂
    Tapi, baca yang bagian gak jadi nikah karena gak pakai manset itu rasanya… Edan lah… 😨

  13. Sari Eco itu, tongkrongan favorit pas pertama kali hijrah ke yogya tapi pesennya bkn nasgor. capcay. kalo nasgor fave di deket ring road monjali 😀 *komen gak penting

    Kalo diatas kisah ta’aruf yg gagal gara2 sedikit aurat yg terlihat, saya dapet cerita ta’aruf yang hampir gagal menjadi berhasil karena sedikit aurat yang terlihat di bagian kaki..heuheu..kisah kehidupan..ada aja..akhirnya semua kembali ke apa yang Dia tentukan..

    quote bapake jenengan keren Mas..beneran itu bilang kayak gitu.. *geleng2, bayangin babe sendiri yang gak bisa masak blas..

    • Walah ngerti juga tho mbak… aku nongkrong disitu soale deket sama kos-ku, eh malah kepincut (murah sih) 😀 .

      Kurang lebih begitu mbak resep rahasianya, cuma kata ‘sepenuh cinta’ saya tambah2in aja hehe gak mungkin bapakku ngomongin cinta haha

  14. Wuah nasi goreng justru mengingatkan kenangan kurang bagus mas Slamet kl buat Cinta. Wktu itu lg magh tp pengiiin bngt nasgor, akhirnya beli dg rasa pedas yg menggoda, uenaknya sih kebangetan krn hbis itu Cinta hrs brkunjung sgra ke dokter, rasanya panas bngt di perut dan ga dibolehin lg sm ibu makan nasgor hampir 2th. Sedihnya….😯

  15. Hahaha, ‘kumat’ lagi ya Mas Bro? 😂

    Perihal teori jodoh dan pernikahan tu keknya jomblo-jomblo dah pada lihai sekali ber’spekulasi’ ya? 😂
    Tinggal praktekin doank 😂

    Eniwe soal penolakan si ikhwan terhadap si akhwat yang ‘cuma’ gegara manset, its okey kok. Hak-nya si ikhwan. Pun sebagai akhwat, nggak jarang lho yg ‘menolak’ seorang ikhwan dengan alasan yang lebih konyol bila disejajarkan dengan manset tersebut. Tapi semuanya kembali lagi, bahwa jodoh itu sudah ditetapkan: dengan siapa dan kapan. Maka akan selalu ada skenario untuk membuatnya menjadi qodarullah. Andai sy berada di pihak perempuan, sy akan terima dan berterima kasih atas penolakan itu dengan lapang dada -dengan asumsi bahwa saya akan mendapat ganti yang jauh lebih baik dari si ikhwan-. Lebih baik menurut takaran Allah tentunya. *mungkin ini krn sy masih ‘belia’ dan semangat yang berapi-api kali ya? Hahahaha! Alias menguatkan diri sendiri. Qiqiqiq*

    Cheers ^_^
    Dyah Sujiati

  16. Selalu S.U.K.A dengan tulisan mas blogger yang satu ini. Menganalogikan jodoh dengan nasi goreng sedemikian rupa. Dan, yah… kwereeeennn…. 🙋

    Setidaknya ada dua efek yang akan ditimbulkan setelah baca postingan ini. Pertama, laper. Kedua, baper. Duh! *jomblo detected*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s