Pamit

Sepenuhnya sadar, bahwa saat-saat seperti ini akan terjadi. Senang karena akan segera bertemu keluarga, ketemu keponakan-keponakan lucu -ngajakin mereka jalan-jalan dikala matahari masih mengintip malu, hingga keringat bercucuran oleh pedasnya oseng-oseng kikil favorit saya. Tentu hasil olahan Ibuk.

Tapi,

Saya juga tiba-tiba merasa sedih, setelah beberapa hari terakhir mendatangi satu persatu mereka yang selama ini rekat, dekat lagi hangat di perantauan. Rasanya seperti nyelem tapi lupa ngambil nafas. Sesak.

Ya,

Pamitan -adalah momen paling menyedihkan bagi saya. Meskipun hal ini bukan hal yang pertama terjadi. Pamitan itu hal yang dibenci, tapi kudu dilakukan. Kalau tidak, kita tidak akan pernah berkembang.

Jadi,

Semakin paham ketika ada orang tua yang menangis sendu di suatu momen pamitan nikahan, yang mana anak gadisnya pamit, karena akan segera ‘diambil alih’ (macam Pramuka aja) oleh pemuda asing yang tidak begitu mereka kenal sebelumnya. Berat dan sesak pastinya.

Tapi,

Ya, tetep kudu dilakukan, kalau tidak kapan lagi anak gadisnya nikah? apa gak pengin keturunannya ikut berkembang? kalau misal anak gadisnya bisa berkembang dengan membelah diri sih, monggo aja. Nggih mboten, Pak, Bu, Om, Tante?

Ups!

Jadi begitulah. Pamitan itu sesek lagi membahagiakan. Sesek karena kita akan segera berpisah dengan mereka yang selama ini dekat, bahagia karena segera akan memulai petualangan baru yang lebih menantang.

Teruntuk;

Hoca-hoca saya, lab-mates, room-mate, temen-temen PPI, sahabat-sahabat MIT, para asatidz, hingga temen-temen pengaosan malam sabtu, terutama mereka yang masih di Turki.

Saya yang dhaif ini mohon pamit. Maaf bila ada salah-salah (banyak sih kayaknya). Kalau ada hutang (ini juga), mohon diikhlaskan.

Terimakasih kebersamaanya selama ini.

Semoga kita dipertemukan di tempat dan dalam keadaan yang lebih baik.

hoca
Prof. Gulden dan (ngimpi) Profesor

 

hoca2
with Prof. Nurdan

 

hoca1
With energy lab-mates

 

hoca3
Keluarga PPI Izmir
hoca4
Dan tentu saja mereka ini

 

Advertisements

68 thoughts on “Pamit

  1. Studinya sudah selesai ya… wah selamat ya Mas Parmanto, although aku juga ikut sedih baca postingan ini. Aku punya temen malah ga mau balik lagi ke Indo saking bapernya hahaha. Anyway, happy moving forward mas, semoga lancar kedepannya 😊

  2. Selamat kak, memang tak ada waktu yang tepat untuk berpamit.
    Saya saja yang kuliah luar kota saja, rasanya kalo meninggalkan rumah–pas perjalanan sering tersedu2 gitu. Hahha maaf kok malah curhat.

  3. Mas Slamettt! Selamat atas kelulusannya. Semoga ilmunya bermanfaat dan rencana ke depan setelah lulus bisa segera terwujud. Good luck! 🙂 Jangan lupa mampir ke Izmir lagi suatu saat nanti. Kucing kesayangan pasti rindu tuhh

  4. Selamat atas kerampungan studinya Mas Parmantos, semoga barokah ilmunya dan bermanfaat secara luas aamiin. Wah nanti kalo sudah pulang pasti bakal kangen banget sama Turki ya 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s