Hutangku

Hari pertama di rumah. Bakda shalat Jumat.

Bapak meminta saya untuk buru-buru menghabiskan makan siang yang tinggal berapa suap lagi.

  “Cepetan, keburu hujan”

Siang itu,  kami berdua berencana berkunjung ke rumah Simbah yang jaraknya sekitar 15 km dari rumah.

Lama tidak menyentuh motor, ternyata tidak membuat saya kehilangan salah satu keahlian dasar untuk bisa survive di negeri ini. Naik motor.

Meskipun begitu, memboncengkan bapak itu kayak mengangkut semen 2 sak. Kaku. Tidak seluwes dan se-flexible Ibuk saat diajak bermanuver di tikungan.

Dengan kecepatan tetap, saya melaju ke arah utara. Menanjak menuju arah perbukitan gunung Lawu.

Jalanan menuju rumah Simbah kini sudah jauh lebih baik. Aspal-aspal yang jebol dulu kini sudah tergantikan hotmix yang mulus, meskipun itu tidak semua.

Sekitar 20 menit berlalu, dari kejauhan gerbang komplek rumah Simbah sudah terlihat. Saya parkir di sudut gerbang, sambil menyapa seorang warga setempat yang sedang sibuk ngarit rerumputan di sekitar kompleks.

Bapak bergegas menuju rumah Simbah. Tak hanya saya yang kangen, pastinya beliau jauh lebih rindu. Ya, mau gimana lagi. Mereka adalah orang tua tercinta dari lelaki 60 tahun di hadapan saya.

Di kompleks tersebut, kavling rumah simbah terletak ditengah-tengah tepat di puncak bukitnya. Ya, kompleks itu berupa bukit kecil yang dikelilingi oleh panorama yang indah. Sebelah selatan dan timur ada pemandangan lembah dengan rimbun pepohonan, sebelah barat berupa hamparan ladang padi, sedangkan sebelah utara berupa deretan pegunungan lereng gunung Lawu yang gagah itu. Dengan lokasi seperti itu, berada dirumah simbah terasa betah oleh angin yang sejuk plus pemandangan yang aduhai. Pasti bahagia mereka yang tinggal di situ.

Setelah berucap salam pada mereka dan tentu saja untuk para tetangga simbah di kompleks tersebut, saya kemudian membantu Bapak membersihkan rumput liar yang tumbuh disekitar kavling simbah. Kemarau basah adalah faktor terbesar penyebab tumbuhnya rerumputan tersebut. Karena saya lihat, masih ada jejak baru yang tersisa. Pasti dari keturunan simbah yang lain yang belum lama ini berkunjung.

Kemudian saya berdoa, tentu setelah tahlil dan shalawat.

“Ya Allah, lagi-lagi ampunillah hamba. Sebenarnya hamba belum pantas mendoakan kebaikan untuk mereka (simbah) yang amal kebaikan justru lebih baik dari hamba sendiri. Tapi saya mohon ya Allah, ampunillah mereka, terimalah amalan kebaikan mereka, hingga pertemukan kami di surga-Mu kelak. Aamiin”

Ya, hanya sebatas itu doa saya ketika berkunjung ke rumah-rumah keluarga baik dari Ibuk ataupun bapak. Selain tidak mau berlebihan, pun saya tidak tau gimana menyusun doa yang baik itu.

Sebelum balik dari rumah simbah, saya bertanya ke bapak.

“Pripun, saat akhir-akhir Mbah Wedok sebelum meninggal?”

Ya, ketika mendengar kabar duka tentang keluarga yang meninggal dunia (dan saya tidak ada di dekat mereka) pasti saya bertanya tentang hal tersebut. Tentang kondisi akhir-akhir mereka sebelum memasuki perjalanan abadi.

Bagi saya, kematian adalah hal yang menyedihkan yang pernah ada. Dan menakutkan tentunya. Tapi, ketika ending dari kehidupan dunia (sebelum kematian) itu baik (bersyahadat dan melakukan kebaikan lain) tentu itu sebuah a good starting untuk timeless perjalanan hidup manusia. Dan bila itu terjadi, tentu kabar duka menjadi hal yang melegakan. Tidak lagi berlarut-larut dalam kesedihan.

“Bapak tidak tahu langsung. Bapakmu waktu itu pas di Ponorogo, tapi kata Mas-mu yang mendamping simbah di saat sakaratul maut. Kondisi beliau persis seperti Mbokde-mu. Alhamdulillah iso nyebut (melafalkan 2 kalimat syahadat).”

“Opo maneh, seminggu sebelum simbahmu meninggal, simbah tiba-tiba ngomong ‘hutangku, duh piye iki utangku’ beliau teringat dengan hutangnya pada seseorang saat masih muda. Dan sejurus kemudian, hutang simbah langsung dilunasi. Mungkin gara-gara itu, dalane simbahmu digampangke (jalan simbahmu dimudahkan).”

Kata bapak, simbah pernah punya hutang pada seseorang puluhan tahun yang lalu . Hutang itu berupa seekor kambing.

Ya, simbah dulu memang terkenal dengan sebutan Mbah Jagal (bahkan dulu waktu saya kecil sering memanggilnya dengan itu) karena profesi beliau sebagai jagal (penyembelih sapi atau kambing) yang dagingnya nanti akan diambil oleh para pedagang daging di pasar.

Nah ternyata, ada satu peternak yang kambingnya belum sempat terbayarkan dan lupa. Tapi, alhamdulillah hutang itu terlunasi persis sebelum beliau meninggal.

.:Moral story:.

Hutang adalah sesuatu yang wajib dilunasi. Karena jika tidak, tanggungannya berat. Bahkan seseorang yang mati syahid pun, tidak kemudian bebas dosa begitu saja sebelum hutangnya terlunasi.

“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim)

Jadi, yuk kita melunasi hutang-hutang kita. Entah itu berupa harta ataupun janji. Kalaupun, kita tidak mampu melunasinya usahakan seseorang yang kita pinjami mau mengikhlaskan.

InsyaAllah.

Tolong ingetin saya kalau masih ada hutang. Pada siapapun berupa apapun.

#MelunasiJanji
#PelajaranHidupNo17

Advertisements

17 thoughts on “Hutangku

  1. Yang paling sering adalah hutang berupa janji. Macam: nanti ya aku carikan ini, nanti ya aku buatin itu, nanti ya aku main ke rumahmu, nanti ya tak ajak ke sana, nanti ya main ke situ, dan semacamnya.
    Itu termasuk yg harus dilunasi bukan?

  2. Kalau saya hutang duit nih *mulai berhitung*
    Kalau yg muda, hutang janji kayaknya yg banyak ya, pantes aja sampai ada nyanyian “kau yang berjanji, kau yang mengingkari”

  3. Semoga si mbah khusnul khotimah.
    Saya waktu liburan kemaren juga sowan ke “rumah” ibu dan bapak saya. Mendoakan dan membersihkan rumahnya bagian permukaan. Kunjungan itu selalu mengingatkan saya akan akan akhir perjalanan di dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s