Tengkleng Rica Pak Manto

_dsc6267

Kamu orang Solo atau setidaknya pernah tinggal di Solo pasti tak asing lagi dengan masakkan khas satu ini. Ya, selain nasi tim (sega gurih) Solo masih punya banyak lagi makanan khas, salah satunya tengkleng.

Mula-mula diciptakannya tengkleng mesti melewati 6 masa penjajahan. Di jaman kompeni, konsumsi daging menjadi petunjuk strata sosial masyarakat saat itu. Hanya kaum berkulit putih dan priyayi lainnya yang ‘berhak’ untuk mengkonsumsi daging, entah itu daging sapi ataupun kambing.

Kaum pinggiran, rakyat jelata, dan petani tak mampu mencicip lezatnya daging merah. Sekarang pun banyak yang masih begitu.

Bagian tubuh dari sapi atau kambing yang terabaikan  terbuang biasanya berupa bagian kulit dan tulang belulang. Tentu saja ini wajar, karena gak mungkin kaum priyayi nggeragas nggragoti tulang.

Padahal, dari sempilan-sempilan hati ini masih tersisa cukup banyak daging terutama di bagian rusuk atau tulang belakang. Nah, dari sini kemudian muncul ide masakan baru. Yakni tengkleng. Semacam gulai dengan sedikit santan (atau mungkin tanpa santan) dengan rasa manis yang khas.

Singkat cerita, tengkleng adalah produk kreativitas di tengah keterbatasan. Yang kini, justru naik kelas. Pelanggannya tak lagi tukang becak, penyapu jalan, sopir dll tapi juga orang kantoran, bahkan pejabat.

Salah satu warung tengkleng yang sangat recommended adalah warung thengkleng rica Pak Manto. Saya tau warung beliau, justru sejak saya masih di Turki setelah liat acara salah satu acara tv ini.

Dari situ saya mulai nyidam *loh.

Oke, pengantarnya kayaknya kepanjangan. Sekarang langsung pada intinya saja.

_dsc6250
Se-piring tengkleng berdua

Berdua?

Iya, sekarang mah udah gak jaman lagi makan sendirian. Kata Kunto Aji; bosenlah udah terlalu lama sendiri. 🙂

Awal pesan, saya sempat khilaf. Pada mas-masnya langsung pesan: tengkleng dua, nasi dua, es teh dua. Tapi eee, lhadalah satu porsi tengklengnya pak Manto ternyata mengunung. Ampe tumpah-tumpah.

Jadinya, pesan satu porsi untuk berdua.

_dsc6257
Mas-mase lagi beraksi

Seperti halnya tengkleng pada umumnya, bahan dasar masakkan ini berasal dari rusuk dan tulang belakang kambing. Akan tetapi, oleh pak Manto bahan tersebut tidak diolah seperti tengkleng pada umumnya melainkan ditambah citarasa pedas dengan olahan lumayan kering, yang oleh pak Manto disebut sebagai tengkleng rica. Yakni perkawinan antara manis tengkleng dan pedas dari rica-rica.

Tapi, saya lebih suka menyebutnya sebagai tengkleng-tongseng. Karena cita rasa pedasnya cenderung mendekati tongseng ketimbang rica-rica. Pedas rica-rica biasanya muncul dari merica, lha tengkleng-rica satu ini justru dari irisan cabe rawit yang berlimpah layaknya tongseng.

_dsc6261
Api berlimpah kayak di warung tongseng

Overall, saya cukup puas dengan racikan laki-laki yang berasal dari kota yang sama dengan saya ini, Wonogiri. Empuk dagingnya, pedas, asin, dan manisnya juga pas. Apalagi dibagian nyusrup sum-sum dari tulang-tulang kambing yang gampang-gampang susah itu. Duh kaya bertemu jodoh yang sudah dinanti bertahun-tahun. *kayak pernah ngalamin aja*

Poin 4.3 dari 5 saya berikan pada warung tengkleng yang terletak tidak jauh dari jalan utama Solo, mana lagi kalo bukan jalannya mbah saya Jl. Slamet Riyadi ini.

Oya, masakan satu ini sangat tidak direkomendasikan untuk kalian yang nyari tempat untuk first date bareng pasangan halal kalian yang biasanya masih malu-malu pencitraan. Karena, dijamin habis makan langsung blepotan. Sampe-sampe, sendok garpu yang tersedia di sana tak lagi berguna. Tapi, bila memang takut blepotan. Kalian bisa pesan tongseng atau sate yang lebih aman.

Satu lagi, buat kalian yang porsi makanya cenderung sedikit-medium seperti saya, satu porsi cukup untuk berdua. Saya dan kakak saya aja cukup kekenyangan, apalagi ditambah setelah tau harga satu porsinya. Kenyang dan kapok. Haha.

1 porsi thengkleng + 3 piring nasi + 2 gelas es teh + 4 krupuk kuning dibandrol 70k.

Ini mungkin murah untuk ukuran Jakarta, tapi untuk ukuran Solo ini terbilang mahal. Tapi tetap layak untuk mampir sesekali. Soalnya kalo keseringan, selain kantong jebol darah pun naik tinggi.

Udah.

Afiyet Olsun.

Advertisements

53 thoughts on “Tengkleng Rica Pak Manto

  1. Ebuset sampai tumpeh-tumpeh. Duh makannya ini butuh perhatian ekstra soalnya takut tensi darah meninggi dan jebol (duh amit-amit), haha. Tapi bolehlah sesekali dicoba. Jl. Slamet Riyadi, ya? Oke nanti kalau saya ada rezeki buat menginap dan liburan di Solo selama beberapa hari nanti, pengen deh mampir kemari.
    Lama tidak mampir kemari, saya baru tahu Om sudah balik ke Indonesia, hehe. Kalau saya ke Solo nanti kopdar yok!

  2. Soal bubar pencitraan kalo makan tengkleng ini emang iya banget.
    Aku pernah dikomentarin kalo makan tengkleng keliatan kaya orang kelaperan banget. Tulang belulang emang sampe bersih.
    Etapi bukannya emang gitu ya kalo nengkleng?

  3. orang solo *cung
    tapi gak pernah denger ini tengkleng, taunya tengkleng samping stasiun purwosari..dan kayaknya harga disana gak sedahsyat di si bapak Manto ini..heu..mending beli selat solo ae lah..
    itu berdua, nasinya tetep 3 porsi ya Mas…ckckck…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s