Kangen

Sebuah perasaan yang hadir ketika ke-tidak-hadiran justru terjadi. Ya, ke-tidak hadiran seseorang atau apapun itu dalam fungsi waktu menimbulkan sebuah rasa, yang kita mengenalnya sebagai kangen (tanpa band) atau rindu.

Perasaan yang Tuhan berikan ini, menjadikan sebuah keber-jauhan terasa dekat dan perpisahan terasa lebih bermakna. Apalagi ini fungsi waktu, semakin lama rasa ini muncul tanpa pun terobati, maka akan terus-terus berakumulasi. Efeknya, tergantung masing-masing orang. Ada yang nangis dipojokkan, hingga sakit-sakitan.

Pada puncaknya, kata Sujiwo Tedjo:

Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon, tak saling SMS, BBM-an, dan lain lain tak saling. Namun diam-diam keduanya saling mendoakan.

Hayoo siapa yang pernah ngalamin? ngaku ajalah! :mrgreen:

Meskipun, perasaan kangen (yang tentunya harus ada yang dikangenin) itu menyenangkan, tapi ternyata ada yang jauh-jauh lebih menyenangkan. Yakni, dikangenin. Yes?

Di bawah, adalah kisah dua anak manusia yang tengah merasakan perasaan di atas dengan ekspresi kelucuannya masing-masing.

Mas Hafa

Saya memanggil dia begitu. Karena dia anak sulung, jadi dibiasakan untuk dipanggil ‘Mas’ agar sang adik juga ikut terbiasa. Bocah ini, pernah sangat dekat dengan saya beberapa tahun yang lalu. Ketika saya sempat ngenger (numpang hidup) di kediaman orang tuanya (keluarga kakak saya nomor 2) di bilangan Ngayogyakarta.

Sampai umur kurang setahun, saya biasa nggendongin bahkan ngelonin. Ahwal kakak saya bekerja, sementara istrinya kuliah lagi. Saya, yang kala itu mahasiswa semester akhir lumayan banyak nganggurnya.

Oke. Kembali lagi ke Mas Hafa. Bocah ini sekarang sudah kelas 1 SD. Cukup cemriwis anaknya, apalagi senyumnya khas banget. Jidatnya yang lebar ditambah ruang tengkoraknya yang cukup mbenjol di belakang, dari kecil saya menduga kalau bocah ini bakal jadi anak cerdas. Seperti omnya *eh bapaknya. Dan benar, rapor semester pertamapun amazing, rata-rata diatas 95 dengan kebanyakan nilainya sempurna. Terutama pelajaran matematika dan IPA. Loh, kelas 1 SD sudah ada IPA?? edaan bener ya pendidikan jaman sekarang ini. Oya, cita-citanya jadi Ahli Robot.

Di suatu sore, menjelang maghrib. Ia bertanya begini.

“Om, kapan pulang ke rumah om?”

“Besok (hari Selasa), kenapa?”

“Mbok, minggu depan aja om”

“Wah ndak bisa Mas. Kan om juga punya kerjaan”

“Kalo gitu. Hari Kamis deh”

Si bocah, mulai negoisasi dengan menurunkan ekspektasi. Saya tau betul kenapa ia memilih hari Kamis. Karena, pada hari Rabunya, sekolahnya diliburkan sehingga pada hari itu ia bisa main sepuasnya dengan saya. Anak 1 SD sudah berpikir sejauh ini.

“Maaf om tidak bisa. Kan kasihan dek Naima (keponakan dari kakak nomor tiga yang masih bayi) kalau om perginya lama. Kalo dek Naima kangen gimana?”

“Mas Hafa juga kangen. Lama tidak ketemu om”

Skak matt!

Duh. Tak hanya mengerti cara bernegoisasi. Tapi bocah ini juga tau gimana membuat hati orang meleleh tanpa argumen apapun. Ya, meskipun pada akhirnya permintaannya tidak saya turuti. 😀

Dek Dilla

Anak manis ini lucu sama-sama cemriwis seperti kakaknya. Selisih umurnya 2-3 tahun tidak tau persis. Hobinya nyanyi (anaknya ngaku sendiri) dan benar kalau lagi nyanyi indah sekali. Tentu saja nyanyi lagu anak-anak,  juga soundtracknya Ipin dan Upin pun hafal. Cita-citanya jadi dokter.

Selain nyanyi, nih anak sukanya juga cerita. Sore-sore saat saya ajak muter-muter naik skuter di seputaran Akmil Magelang yang sejuk itu, ia tak henti-hentinya ndongeng yang seringkali saya cuma membalas ‘Ohh, gitu’ karena kewalahan.

Menjelang tidur.

“Ummiii, dek Dilla tidur sama om ya. Kangen soalnya” pinta anak ini, sambil ngusungin bantal dan guling favoritnya.

Lima menit kemudian, anak ini udah anteng, diem, dan nyaris tertidur di sebelah saya. Sebelum…

“Eneeeen. Eneeen. Eneeen”

Entah dari mana datang, tiba-tiba nih anak teringat si-enen. Saya juga gak habis pikir bocah 4 tahun kok masih suka ngenen. Entah belum disapih, atau sapihnya gagal waktu itu.

Dan ya, perasaan kangen dia kepada omnya yang ganteng dan baik hati ternyata gak ada apa-apanya dengan kisah cintanya kepada si-enen.

Nasib. Nasib.

img_20161018_062637

Seminggu (lebih) tak nulis, kamu kangen tak?

Magelang, Oktober 2016.

Advertisements

48 thoughts on “Kangen

  1. Ya… anaknya minta enen. untung nggak dilakuin kepada masnya. sosalnya dulu waktu kecil adik saya pingin enen dan saya yang juga masih kecil berikan enen saya ha ha ha ……

  2. “Meskipun, perasaan kangen (yang tentunya harus ada yang dikangenin) itu menyenangkan, tapi ternyata ada yang jauh-jauh lebih menyenangkan. Yakni, dikangenin. Yes?”

    yap, sepakat, dikangenin lebih menyenangkan,, tapi repotnya, orang-orang yang pada kangen itu minta ketemu satu-satu… hehehe

  3. Saya malah sudah nggak punya blog mas. Silakan njenengan bayangkan sebesar apa kangen saya… beuh Jan ora umum pokoke… hiks 😥

  4. Anak-anak memang lucu banget dan polahnya banyak. Jadi pengen deh ada anak kecil di rumah buat menyegarkan suasana. Ponakan maksudnya, ponakan… yang lucu-lucu seperti Mas Hafa dan Dek Dilla. Sekolah yang semangat yah, supaya makin pintar dan siapa tahu bisa kuliah di luar negeri seperti Om-nya ini hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s