Tentang Pacar #eh Pagar

Teringat sebuah obrolan malam hari di sela-sela ‘kunjungan keponakan’ di sebuah kota pesisir utara Jawa, Pekalongan. Mas mbarep-lah yang hijrah-nikah-omah di kota ini. Dan beliau pulalah teman ngobrol saya waktu itu, bersama Bapak yang lagi asyik ngemong cucu.

“Mas, lha kenapa akhirnya justru menetap di rumah yang ini?” tanya saya tentang keputusan kakak saya yang justru memilih menetap di perkampungan (rumah mertuanya dulu) daripada rumah perumahan yang ia beli saat awal-awal pernikahannya.

Saya bertanya demikian, bukan tanpa sebab. Dalam hitung-hitungan saya, menempati rumah peninggalan orang tua yang kondisinya cukup tua sebenarnya tidak efektif. Diantaranya perlu biaya renovasi dan lain-lain. Belum lagi, letaknya benar-benar di tengah perkampungan.  Padat dan sumpek. Pikir saya. Tapi, apa jawab kakak saya.

“Ini kenangan mbakyumu (kakak ipar), lagian di sini sudah terlanjur nyaman dan aman ketimbang yang di kompleks perumahan”

“Lha kok bisa?”

“Bisa…”

Di lain waktu, Bapak pernah memberikan welingan.

“Tetangga itu, adalah sebaik-baiknya penolong ketika kerabat tidak di saling berdekat. Mereka bisa secara sukarela membantu saat kita butuh”

Respon Bapak, ketika saya mengomentari betapa ‘mudah-murahnya’ pernikahan tetangga yang semua panitianya adalah para tetangga sekitar. Secara sukarela. Gotong royong. Guyup rukun. Sementara kerabatnya sendiri, tinggal ‘terima bersih’.

“Jadi, ngapik-ngapiki (baik-baikan) sesama tetangga itu penting bahkan wajib. Ojo ngasi, ngecingi tangga atau malah dicingi tangga (jangan sampai memusuhi tetangga atau malah dimusuhi tetangga). Karena sebaik-baiknya pagar, adalah pagar mangkok”

Pagar Mangkok

Urusan keamanan adalah urusan paling penting dalam segala hal, termasuk dalam membangun rumah. Biasanya, agar rumah tampak aman perlu dibuat pagar tembok sekeliling rumah, lengkap dengan gerbangnya yang kokoh. Terkadang dipasangi kawat berduri segala di atasanya. Yang modalnya kuat, bahkan sampai pasang CCTV. Nyaris tidak ada beda antara rumah tinggal dengan penjara Guantanamo. Menyeramkan.

Tapi itu sah. Boleh-boleh saja. Apalagi melihat realitas sekarang yang memang banyak maling dimana-mana termasuk maling hati.

Namun, apa itu pilihan terbaik?

Di desa saya, saya amati pemilik rumah bertembok tinggi dengan pagar gerbang hitam kokoh itu hanya dua tipe. Pertama, sang pemilik rumah kurang serawung (ramah) dengan warga lain. Akibatnya merasa curiga terus-terusan dengan warga lain. Yang kedua, mungkin tipe orang yang terlalu kaya, sampai tidak tau lagi bagian rumah mana lagi yang ingin dibangun.

Sementara tipe normal, ya biasa-biasa aja. Ya, seperti rumah khas pedesaan lain. Tanpa pagar, kalaupun punya pagar biasanya berupa tembok rendah dan bahkan lebih banyak yang terbuat dari tanaman teh-tehan (sekaligus buat pakan kambing).

Di Jawa, ada sesanti (pepatah) pager mangkok luwih kuwat tinimbang pager tembok (Pagar mangkok lebih kuat daripada pagar tembok).

Pager mangkok, diartikan sebagai tetangga yang ramah, suka memberi, peduli, bahkan memberikan perlindungan kepada tetangganya yang lain.

Kemudian, kenapa pager mangkok justru lebih kuat dari pada tembok. Karena, dengan menjaga hubungan baik dengan tetangga, mereka nantinya akan ikut menjaga harta kita. Kalau ada orang yang mencurigakan, atau kebakaran maka akan cepat ketahuan. Karena warganya saling aware dan saling menjaga. Tidak saling curiga, atau malah jadi ancaman kepada tetangganya sendiri. Syukur-syukur yang saling mengajak kebaikan. Jamaah masjidnya ramai, guyup, dan rukun. Dan, pilihan kakak saya mengapa memilih hidup di perkampungan boleh jadi karena alasan logis dan jangka panjang ini. Aman dan nyaman. Seperti kata beliau.

Tembok tinggi mungkin saja masih bisa dilompati, tetapi tetangga yang tulus berempati tak akan bisa terbeli bahkan nyawapun diberi.

Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh. (An-Nisa: 36)

cimg2262
Nostalgi gotong royong semasa KKN di Klaten

Sampun memuliakan tetangga?

Yuk, mari!

Pelajaran Hidup No. 18

Pekalongan, Oktober 2016.

Advertisements

22 thoughts on “Tentang Pacar #eh Pagar

  1. Iya, katanya kalo beli rumah lihat tetangganya dulu. Pernah dapet cerita yg bhkan ada yg brani bayar mahal demi bertetangga dg org shaleh..

    Pastinya jg karena alasan2 Kaya di atas yak.

  2. Pelajaran Hidup No. 18?
    wah aku belum nyimak pelajaran hidup yang nomer 1 sampai 17 ini mas…
    enaknya hidup didesa ya mas, kalau pernah hidup dikota (merantau), pasti sadar, hidup didesa lebih nyaman.. 🙂

  3. memuliakan tetangga itu sepele tapi sekarang makin sulit ya. :)kita lebih mudah komunikasi sama temtan- teman jauh via medsos, sampai lupa kalau mesti srawung dengan yang dekat dulu.

  4. in shaa allah mas, aku kira awal baca pager maksudnya gimana, tapi setelah baca ternyata tentang tetangga. Quotes dari bapak “Tetangga itu, adalah sebaik-baiknya penolong ketika kerabat tidak di saling berdekat. Mereka bisa secara sukarela membantu saat kita butuh” menginspirasi, semoga kita bisa berbuat baik kepada tetangga kita masing-masing 😀

  5. Ah bener banget. Nggak kebayang kalau lagi sendirian di rumah, jauh dari sodara, terus ada apa-apa… siapa lagi yang mau bantu kalau bukan tetangga? :’)

  6. Hmmm setuju banget mas sama postingan ini.
    Waktu itu ibu pernah bilang ke saya, “Kalau beli rumah di jakarta jangan di perumahan ya”

    Lha.. ya saya cuma manggut manggut lagian rumah di jakarta yang perumahan mah mahal banget hahahahaha. Tapi ternyata alasan ibu saya bilang begitu bukan semata mata tentang mahal atau murah.
    Tapi ya karena

    “Tetangga itu, adalah sebaik-baiknya penolong ketika kerabat tidak di saling berdekat. Mereka bisa secara sukarela membantu saat kita butuh”

    Setuju banget.

    Selama merantau di jakarta saya ngekos, dan pindah kosan sampai 7 kali.
    Selama itu pula saya nggak kenal sama tetangga, palingan cuma “senyum” gitu aja.

    Tetangga kamar mungkin ada, tapi ga semuanya peduli.

    Pelajaran hidup no 18 mas yang ini. Aku benar benar setuju.

    :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s