Transformasi Jamu

Kapan terakhir kali kamu minum jamu?

Lupa kapannya? atau malah tidak pernah. Kalau seandainya tidak pernah, kamu mesti lekas-lekas lembur buka-buka isi blog ini. Loh kok bisa?

Iya, tulisan blog ini memang mengandung JAMU.

ditulis hanJA untukMU. *halah*

Tentang jamu. Beberapa menit sebelum artikel ini ditulis, baru saja saya menyeruputnya. Segelas jamu kunir asam yang dipercaya bisa mendekatkan jodoh  menjaga kesehatan tubuh, melangsingkan badan, dan seabrek manfaat lainnya (aselinya sih gak tau, soalnya saya bukan tukang jamu).

Rasa kunir asem itu ya gitu, kayak kamu.

Asem.

Tapi, ada manis-manisnya sih.

Dikit. 😛

Tentang jamu. Berdasarkan sumber yang shahih. Pertama kali berinteraksi dengan minuman satu ini, ketika masih bayi. Umur satu atau dua tahun. Orang tua, biasa nyekoki saya dengan temu ireng atau jamu pahitan. Hingga tamat SMP.

Kata ibuk, saya dulu itu keterlaluan manis dan imut. Jadi biar balance dicekokilah dengan jamu pahitan.

Sekarang, sudah tidak lagi minum pahitan. Pahit je!.

Sekarang bertransformasi menjadi kunir asam. Alesannya tentu bisa ditebak, hidup saya udah terlalu bahagia. Biar balance ya dikasih yang kecut-kecut dikit.

Tapi, semua itu bohong. 😀

Aselinnya sih, karena lingkar perut yang sudah lumayan overdosis. Padahal baru sebulan di rumah. 😀 😀

_dsc6323

Tentang mbak jamu. Entah siapa namanya. Nyaris tiap hari mampir ke rumah. Ibuk dan Mbak memang langganan jamu dari beliau.

Ada yang menarik dari si-mbak jamu. Selain esemnya yang manis, juga tentang peralatan pembawa barang dagangannya ini.

Dulu, mayoritas bakul jamu menjajakkan dagangnya dengan cara digendong. Makanya, mereka suka disebut dengan jamu gendong. Ada sih yang pake sepeda onthel, tapi gak banyak.

Sekarang (2016), mbak jamu ini lebih kekinian. Penggunaan motor sebagai alat angkut untuk sekarang ini pilihan yang tepat. Selain fleksibel, slintat-slintut gang-gang sempit juga efektif jika ingin memuat dagangan yang lebih banyak. Dagangannya tak melulu sebatas jamu, bisa bawa gorengan atau cemilan lainnya. Meskipun begitu, rasa jamu dari mbak ini tidak berubah.

Barangkali, di masa depan bakul jamu tak lagi menggunakan sepeda motor yang tak ramah lingkungan ini. Boleh jadi menumpang trikopter atau malah flying-machine macam di dragon ball.

Transformasi. Ya, mbak jamu ini sedang bertransformasi.

Budaya lahir karena pergerakan, pemikiran, serta berkah karya-cipta kemanusian manusia. Namun disisi lain, kemanusian manusia terus tergerus oleh kebudayaan di sekitarnya. Kebudayaan yang sebenarnya hasil dari manusia itu sendiri. Sementara, kebudayaan (ilmu, teknologi, cara bertahan hidup, dll) manusia secara alami akan terus bertransformasi. Berubah (entah itu berkembang maupun menyurut) dalam fungsi waktu.

Akan tetapi, hal ini tidak boleh membuat manusia kehilangan identitas. Nasab kemanusiannya mesti dipertahankan. Baik itu nasab kultural maupun kebangsaanya. Jika tidak, akan terjadi krisis identitas.

Maka analogi mbak jamu tadi tepat untuk menggambarkan bagaimana seharusnya bertransformasi. Kendaraan, cara berfikir, bahkan methodology boleh jadi berubah. Tapi, kualitas rasa haruslah tetap sama.

Jika masih ingin disebut; mbak jamu.

Dalam hal ini; manusia.

Kita tidak pernah meminta dilahirkan sebagai manusia. Makhluk yang oleh Tuhan diposisikan sebagai titik-tengah lahir batin. Nyarira-satunggal, Nyari-Rasa-Tunggal. Makhluk “Nafsin-wahidatin” ini. Tidak pernah.

Namun, kita mesti berpikir. Mesti tahu tentang mengapa Allah menciptakan kita sebagai manusia. Ini pertanyaan kunci. Pertanyaan mendasar untuk setiap pilihan yang akan kita pilih.

Jika identitas ideologi kita jelas, maka pertanyaan mengapa tadi akan terasa mudah jawabannya. Apalagi, hanya sekedar menjawab tantangan (untuk) bertransformasi.

Jadi,

Mengapa?

Advertisements

66 thoughts on “Transformasi Jamu

  1. kayaknya terakhir kali minum jamu itu SD apa SMP ya 😅😅 kalo di daerah rumah saya sih dari dulu udah ada yg pakai sepeda motor begitu mas, karena ngidernya sekalian jauh, hehe 😅 tapi kalau sekarang susah nyari tukang jamu yang ngider gitu di sini, banyak yg memang mangkal, buka kios sendiri gitu 🙂

  2. Mengapa? Biar jadi khalifah di muka bumi…
    By the way, yg tukang jamu pakai motor itu sebenarnya udah mulai ada sejak saya SD, tapi skrg masih banyak juga yg jamu gendongan 🙂

  3. Dulu ibu seringnya nyuruh minum jamu Buyung Upik, jadi kalo Mba jamu Dateng pasti belinya jamu itu terus. Ngga kenal jamu kunir asem atau yang lainnya kayaknya 😅.
    Wah kalau di tempatku mbanya masih jualan jamu digendong. Semoga nanti bisa pake motor ya minimal sepeda..
    Btw, tulisannya bagus di awali dengan cerita renyah tentang jamu tapi ujung-ujungnya pembahasan berat e. Keren 👍

  4. Di tempat saya gawe sekarang (proyek) tukang jamunya datang juga sudah pakai motor matic. Ndak ikut kemajuan transportasi bisa keduluan pesaing.

    Saya kalo minum jamu sachetan kayak gak cocok, jantung suka berdebar.

  5. “mengapa?”
    kalau seandainya kamu belum tahu jawabannya, kamu perlu lekas2 lembur buka2 blog saya..jawabannya ada disana..heuheu..

    “Kita tidak pernah meminta dilahirkan sebagai manusia”
    yes you. tapi, kita menyanggupi perjanjian untuk dilahirkan ke dunia sebelum ruh ditiupkan ke badan. coba pas perjanjian berlangsung kita jawab, ‘gak’, pasti gak jadi lahir ke dunia dan gak jadi manusia. jadi sebenernya, itu kehendak kita sendiri kan..pertanyaannya yes no question soalnya 😀 *opo maneh iki..

    btw, mau ada job fair di gsp Mas..tanggal 8-9 nov. kalo minat..hehe..

  6. yah, keduluan Mas, kebetulan banget hampir ini ngedraft tulisan tentang jamu. gak jadi dipublish deh, ntr disangka ikut2an.. wkwk..

    kalau saya Alhamdulillah dari kecil rutin minum jamu buatan Ibu, apalagi kunir asem itu. rutin karena dipaksa Ibu.. katanya perempuan harus rajin minum jamu.. hihi

  7. minum jamu sudah sering… malah kadang bikin sendiri, lebih tepatnya dibuatkan Ibuk. Mau nggak mau harus minum kalau nggak mau dicap anak durhaka.

    ditempatku Mbak jamunya ada yang pakai sepeda, ada yang bawa motor, ada juga yang jualan dirumahnya karena mungkin udah umur jadi nggak bisa keliling+nggak bisa bawa motor.

  8. Jadi, mas Slamet, kenapa mbak Jamunya begitu cantik? 😂
    Itu bs jd alasan jg mas Slamet jd suka mnum jamu loh mas.
    Kl alasan knp manusia diciptakan? Mmm, kl yg ini nyontek jwban penulis favorit Cinta ajalah. Kata beliau gni,
    “apa yang aku inginkan?” “aku ingin kaya”. “Mengapa ingin kaya?” “agar aku bisa membantu banyak orang”. “Mengapa ingin membantu bnyak orang?” “karena untuk itulah aku dicipta Tuhan”.

      • 😅😀😂. Syukurlah kl gtu, dr kmrin komen Cinta mampir ke-spam mulu.
        Slam ya buat mba Jamu-nya. Btw, Cinta prnah lho nanya2 gmn prjuangan seorang mba jamu, udah lma jd lupa namanya. Mba jamu knalan Cinta itu cerita gni mas : bangun dr jam 3pagi membuat jamu smpai jam 5pagi lalu seusai subuhan mba jamu itu mulai menggendong jamunya smpai jam 9malam muterin komplek perumahan, begitu seterusnya. Mba jamu itu skr udah naik motor jg alhamdulillah. Keren yakin, keren bngt semangat dan perjuangannya, bikin Cinta mupeng. Mgkn itu rahasianya knp mba jamu awet muda, krn sll bangun pagi dan mengawali hr dg semangat mas.

  9. Terakhir kali minum jamu… Errrr… Juni kali. Udah lama banget! Hahaha.. Minumnya pun ga rutin, kalo mau aja. Jadi ga paham dan ga yakin betul sama khasiatnya. Sekedar enak aja rasanya. Kalo rutin minum, mungkin akan kerasa efeknya ya.

  10. Minuman franchise Indonesia (y)
    Saya senang mas dengan transformasi jamu ini. Jadi nggak bener2 punah dari belantara minuman di Indonesia. Eh kalau di Turki pernah minum jamu nggak mas?

  11. Duh mbaknya kok manis….

    Udah lama ga minum jamu. Tapi paling beras kencur soalnya gak kuat yang pahit-pahit. Hidupku sudah terlampau pahit soalnya mas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s