Pandang Bulu

Malam ini saya tidak bisa tidur. Padahal biasanya jam 9.00 pm sudah terlelap dengan mimpi-mimpi yang seringkali random. Persis isi blog yang sedang Anda baca ini.

Saya gelisah malam ini. Lebih tepatnya terus kepikiran tentang diskusi antara orang-orang hebat yang dipandu oleh pembawa acara yang juga tak kalah hebat, yang terkenal memberi pertanyaan yang nyelekit lagi tajam. Sebut saja orang-orang itu; Panglima TNI, Kapolri, Ketua MPR, Ketua PBNU, Sekum Muhammadiyah, Menteri Agama, hingga seorang wanita lagi (mbak Yenny Wahid) yang entah mewakili siapa. Apakah beliau sekedar genap-genap biar mbak Najwa tidak keder menghadapi orang-orang yang berbeda gender dengan dirinya atau memang ada urgensi di tengah-tengah forum orang-orang hebat tersebut.

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih detail tentang isi pembicaraan pada acara tv tersebut. Melainkan sekedar ingin menyampaikan point of view saya terkait topik yang lagi hangat dibicarakan. Sampai-sampai sang bapak Presiden repot-repot mendatangi rivalnya sendiri di tanah Hambalang.

Tapi sebelum itu, izin kan saya menyampaikan secara singkat sebuah fakta sejarah. Sejarah yang terus kita kenang, syukur-syukur bisa kita ambil hikmahnya.

Terbunuhnya Utsman bin Affan ra. dan Supremasi Hukum

Terpilihnya Utsman pasca terbunuhnya Umar bin Khattab oleh Abu Lu’luah seorang majusi adalah awal munculnya fitnah besar di kalangan umat kala itu. Yaitu pertentangan umat Islam tentang siapa yang lebih berhak menggantikan Umar, antara Utsman atau Ali. Meskipun, terpilihnya Utsman sudah sesuai dengan wasiat Umar sebelum wafat melalui sebuah jalan musyawarah yang elegan diantara enam ahli syuro kala itu.

Akan tetapi, situasi kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang di luar Islam (kaum Khawarij dan Yahudi dengan pemimpinnya Abdullah bin Saba’) untuk memecah belah ukhuwah. Dengan puncaknya, terbunuhnya kembali sang khalifah di tangan para pemberontak (kaum Khawarij).

Setelah terbunuhnya Utsman kemudian terpilihlah Ali ra, meskipun sebenarnya Ali menolak jabatan sebagai khalifah.

Di zaman kekhalifahan Ali, fitnah yang sudah mendera sejak era Utsman masih berlanjut meski kaum Khawarij tinggal menunggu waktu untuk diadili. Fitnah muncul kala khalifah Ali dirasa kurang sigap mengadili para pemberontok (pembunuh Utsman). Ali menginginkan kau Khawarij itu diadili seadil-adilnya sambil memperbaiki kondisi sosial umat kala itu, sementara pendukung Utsman (termasuk bunda Aisyah ra) menginginkan pengadilan secepat-cepatnya. Pendukung Utsman memandang Ali tidak segera menegakkan supremasi hukum, sementara Ali menginginkan supremasi hukum yang seadil-adilnya (hati-hati).

Perbedaan pandangan ini kemudian ternyata kembali dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, termasuk oleh kaum munafik Abdullah bin Saba’ yang pura-pura masuk Islam itu. Hingga pecahlah perang besar dikalangan umat Islam. Banyak kerugian yang ditimbulkan oleh perang tersebut, diantaranya adalah sang cucu Nabi. Dan yang paling menyedihkan adalah terbentuklah bibit kelompok Syi’ah bikinan Abdullah bin Saba’ yang bertahan sampai sekarang.

Ahok dan Mandulnya Hukum

Mari kembali ke era kini. Mari kita bicara tentang morat-maritnya persoalan hukum di negeri kita.

Pada bagian ini saya akan fokus pada sosok orang yang tengah menjadi kontroversi. Tak hanya menjadi perhatian masyarakat Jakarta saja, isu yang melanda beliau saat ini saya rasa sudah memasuki skala nasional. Artinya, ketika ada orang yang membenci beliau maka akan ada banyak dari penjuru negeri ini yang ikut membenci beliau, yang cinta pun juga demikian.

Perlu saya ingatkan, tak ada tendensi ras dan agama dalam bahasan ini. Semata-mata hanyalah pemilik nama aseli Basuki Tjahja Purnama ini sama dalam pandangan hukum positif Indonesia. Meskipun status beliau sebagai Gubernur tak ada bedanya dengan mereka para pemuda labil yang suka nongkrong di warnet. Dengan kita pun demikian. Sama.

Ini tentang supremasi hukum di Indonesia. Yang Penegakan dan Konsistensinya payah, belum lagi sering kali pandang bulu. Pilih-pilih.

Pertama, Anda masih ingat kasus yang menimpa Arswendo Atmowiloto yang kala itu divonis bersalah karena menistakan agama (Rasulullah). Meskipun, dasar ia dipersalahkan masih debatable pun apa yang dilakukannya tak sampai separah apa yang dilakukan Ahok sekarang.

Tapi, bagaimana aparat hukum kita memandang persoalan yang menjerat Ahok kali ini?

Kedua, yang ini masih hangat. Tentang kasus yang menimpa sang mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan. Dahlan disangka sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam penjualan aset milik salah satu BUMD milik pemprov Jatim. Kala itu (2003-2010) dia menjabat sebagai direktur BUMD tersebut. Meskipun, Dahlan mengaku tidak menerima uang dari penjualan aset yang dibawah NJOP tapi proses hukum tetap berjalan. Karena negara diduga mengalami kerugian akibat menjual aset negara dibawah NJOP.

Kemudian, bandingkan dengan kasus Ahok tentang skandal Sumber Waras-nya. Dia membuat kebijakan; yaitu membeli tanah swasta (dengan uang negara tentunya) di atas harga NJOP, yang mana harganya mencapai tiga kali lipat dari harga normal. Bahkan oleh BPK sendiri jelas-jelas dikatakan bahwa negara mengalami kerugian akibat transaksi ilegal tersebut, yang nilai kerugiannya mencapai ratusan milyar.

Tapi, bagaimana aparat hukum kita memandang skandal yang menjerat Ahok ini?

Pertanyaan selanjutnya, kira-kira apa bedanya antara seorang Arswendo, Dahlan, dan Ahok di mata hukum? hukum yang menjadi pijakan kita dalam menuntut keadilan seadil-adilnya. Apa bedanya?

Kalau lah sama, mengapa perlakuan diantara mereka bertiga sangat berbeda?

Resolusi Aksi 4 November

Maka kemudian saya bersepakat dengan apa yang dikatakan oleh Sekum Muhammadiyah, ketua MPR dll dalam diskusi yang sempat saya singgung diawal tulisan ini. Kurang lebih seperti ini:

“Aksi 4 November besok jangan dimaknai macam-macam. Jalan yang mereka pakai (aksi demo) adalah cara-cara demokrasi. Asal dilakukan dengan cara damai. Mereka adalah warga negara yang baik, hanya menuntut agar pihak kepolisian benar-benar menegakkan supremasi hukum. Biar kasus hukum diselesaikan saja secara hukum. Bersalah atau tidaknya pak Ahok biar pengadilan yang memutuskan.”

Adem sekali saat mendengar pernytaan beliau tersebut, yang kemudian disusul oleh pernyataan Kapolri bahwa besok (Kamis 3/11) akan dikirim surat panggilan kepada Ahok sebagai terperiksa. Bila apa yang disampaikan Kapolri disampaikan lebih cepat (dan tentu saja diwujudkan), dan penegakkan hukum berjalan tanpa intervensi maka aksi 4 November besok sebenarnya tidak perlu terjadi.

Adem. Bahwa ada tanda-tanda pihak kepolisian serius menangani permasalahan SARA ini. Permasalahan yang sebenarnya saya bosan mengikutinya, karena sebelum kasus Ahok. Lebih banyak yang lebih parah. Coba aja perhatikan timeline socmed Anda atau situs-situs abal-abal dengan penulis anonim. Maka akan ada banyak contoh muatan-muatan berbau SARA, yang tak jarang jelas-jelas berbau fitnah satu sama lain.

Sehingga, dengan seriusnya pihak kepolisian menangani kasus ini. Maka masih ada harapan bahwa bangsa ini masih bertahan berpuluh tahun lagi (bahkan ratusan), sekaligus membuat efek jera para pembuat fitnah, pelaku SARA, dan segala bentuk kejahatan rasial lain untuk segera menghentikan aktivitasnya.

Bangsa ini sudah renta, jangan bebani ia dengan beban yang kita tambah sendiri.

Sebagai penutup, bila sebaik-baiknya umat setelah Rasulullah (yakni para sahabat) saja masih bisa tercerai-berai oleh fitnah (supremasi hukum yang lemah dll), bagaimana dengan diri kita? sebaik apa kita bila dibandingkan dengan Utsman, Ali, ataupun Bunda Aisyah?

Sampai kapan bangsa ini akan terus bertahan bila kita terus begini?

Sakit darah tinggi bisa diobati dengan buah mengkudu
Tapi bila tak sembuh jangan nangis melulu
Bila ingin bangsa ini tak mau pecah jadi seribu
Maka hukum haruslah tak pandang bulu

0_0_1024_723_4c963c4cedcaadb3a524c29451d84467577e24b2
sumber pic brta (dot) in
Advertisements

63 thoughts on “Pandang Bulu

  1. Persamaan bessel kayaknya lebih mudah dibanding masalah bulu yang dipandang-pandang ini. *eh

    Semoga jam tidurmu tidak diganggu lagi dengan masalah “beginian” dan semoga Jakarta mendapat pemimpin yang terbaik.

  2. suka bacaannya mas, sedikit berat sih..
    tapi emang hukum di indonesia sangat lemah
    maling ayam dihukum 1 tahun penjara..
    kalo koruptor? penjara bak hotel bintang lima, ada cuti liburan juga, ngak setimpal banget

  3. Bibit syiah itu bukannya sudah ada sejak jaman kekhalifahan abu bakar? #cmiiw
    Selama mafia hukum masih ada, keadilan bakal susah ditegakkan 🙄🙄 btw gelisahmu kok berkualitas banget mas…

  4. Semalam juga nonton mas. Tapi berhubung disambi motong sayur dan nyiapin bumbu jadi ya ndak kepikiran. Lagian saya pikir sudah ada yang ngurus kok. Biarkan mereka bekerja dan semoga amanah.

    Buat yang mau demo semoga juga baik2 dan nggak merusak , apalagi sampai menimbulkan korban. Sementara saya juga besok mau ikut demo …… Masak 🙂 🙂

    Tapi mas… Bukannya demo aka unjuk rasa bukan ajaran Islam? Saya dapet penjelasan dari beberapa ustadz yang saya lihat di youtube

    • Ya kl mw bicara ajaran Islam apa bukan pembahasannya gak ada habisnya, lha wong kita hidup dizaman dan negara penganut demokrasi (yang tentu saja tidak ada dlm Islam). Tapi ada pendekatan yg lbh moderat unt menyikapi era sekarang, coba baca buku “menikmati demokrasi” saya lupa pengarangnya, pula buku2 fikih kontemporer ttg hal ini.

      Mw mengikuti pendapat yang mana itu pilihan, karena itu semua hasil ijtihad yg bisa dipertanggung jawabkan.

      Gitu.

  5. semoga besok aksinya berjalan damai. 🙂
    tadinya saya kira aksi demo karena tunggangan kepentingan politik semata, tapi tulisan ini benar- benar membuka mata. terimakasih

    • Kasus ini sebenarnya simple, menjadi kompleks karena terlapor kebetulan menjadi cagub. Maka suudzon politik pun kemudian bermunculan. Sampe ada yg paranoid akan ada revolusi segala. Tapi semoga itu tidak terjadi. Kasian rakyat kecil.

  6. I really wonder when would I have your kind of thought mas wkwkwk. Im so jealous about how good you write your opinion. Keep going mas. Indonesia needs a lot people like you writing their thoughts so ‘tidy’, well arranged, and contain no hatred.

    Haha maaf OOT -_-

  7. Uooihh berat bahasannya.

    Pernah juga sampai pada pemikiran ini, jaman sahabat saja sudah membibit fitnah. Rasulullah jauh-jauh hari sudah mengetahui tentang ini.

    Apalagi kita taa yang terpisah 14 abad. Tentu lebih rentan lagi.

    Aaah semoga persatuan dan kedamaian indonesia tetap terjaga. Jika terpecah sama-sama menjadi arang dan abu.

    Yang mengambil keuntungan tentu bukan kita, tapi orang dari negeri lain.

    Nice POV mas 😊

  8. Baru kali ini baca postingan orang sampe tuntas…
    Gaya bahasamu itu lho enak dinikmati… aku perlu belajar banyak sepertinya sama bang Par.

    Mengomentari artikel diatas saya cukup bilang…
    Mau dibawa kemana bangsa ini nantinya!..
    Cukup prihatin sama penegak hukum di Indonesia…

    semoga saja tuntas untuk kasus yang skrng ini dan bisa diadili dengan seadil-adilnya…
    semoga bangsa ini bisa sembuh dengan mengkudu *lho..

  9. “Assalaamualaikum, Pak Dahlan. Nanti Bapak saya bantu memandu selama acara hari ya. Perkenalkan, nama saya ……………”
    *nostalgia
    *salahfokus

    Betewe, Mengkudu itu asal muasal nama Pac(e)itan, Masmet 😀
    *kode

  10. Kalo terperiksa bukan Ahok, tuh orang udah dalam hotel prodeo. Saya ikut dukacita untuk Dahlan Iskan.
    Jadi Abdullah bin Saba’ itu pura-pura masuk Islam? Nah, kalo saya gak percaya sama ajaran orang yang pura-pura.

  11. Aside of my disagreement of whether Ahok’s statement on Maidah 51 should be considered as blasphemy ( the interpretation of ulamas upon this ayat are different), I like your writing mas. Keren lah pokoknya.

    Tapi aku tep mikir kalau Ahok memang perlu diproses secara hukum.

    Anw, piye kabare e mas Slamet? Masih dadi penghuni Urla kah bersama Naufal? Hahaha.

  12. Sejujurnya aku nga ngerti dunia perpolitikan. Tapi apa yach nga bisa segala masalah dirembukin dengan itikad baik dan komunikasi dua arah. Secara negeri kita terkenal bangsa yang sopan santun dan bebas mengutarakan pendapat dengan bijak. Tapi semakin ngelihat timeline di sosmed rasanya itu semua jauh dari yang kita harapkan, sedih bangat.

    • Iya mbak, ini sekaligus buat pembelajaran, siapapun dimuka hukum sama. Sekaligus pelajaran penting bagi mereka yg suka hate speech, fitnah, maupun penista keyakinan orang lain unt lbh berhati-hati dan saling menjaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s