Cabang Kebahagiaan

aratSama seperti di kota itu, di saat-saat pergantian musim tiba. Yaitu ketika awan lebih sering bertandang di langit-langit, dengan sang bayu tak henti mengelus pucuk-pucuk daun pinus. Tanda bahwa dinginnya air hujan akan segera membasahi kota ini juga. Kota yang pernah memberi kesempatan melihat kehidupan dengan lebih luas.

Kubelokan arah ke barat di sebuah perempatan setelah underpass rel kereta api yang samar-samar kuingat namanya. Setelah beberapa menit sebelumnya, memastikan bahwa jadwal check-in ho(s)tel masih dua jam-lima belas menit lagi. Bukan karena datang lebih awal, hanya saja penginapan murah-meriah ini memberlakukan waktu check-in/out yang aneh dan cenderung dzalim.

Ahh barangkali sepadan dengan harga. Pikirku.

Meskipun di saat yang sama, aku mengutuk dan menggerutu. Bayangan mandi air hangat dan rebahan barang sebentar di kamar ho(s)tel bubar gara-gara aturan tidak adil itu.

Dari perempatan yang-lupa-namanya itu, aku menuju sebuah destinasi yang hinggap pertama kali di pikiran. Pasar Klithikan.

Tak ada yang istimewa antara aku dengan pasar ini. Hanya ingin melihat hasil ‘penggusuran paksa’ pedagang  yang kala itu berlangsung elegan dan bermartabat. Intrik tentu ada, tapi hanya sekedar meningkatkan bargaining position para pedagang dengan pemangku tugas kekuasaan pelayanan. Kaum alit memang harus punya daya ngeyel yang cukup, kalau tidak akan terus-terusan dibodohi (pakai) perda oleh kaum elit di negeri ini. Digusur untuk kemudian diabaikan (kemanusiannya).

Dan pasar ini adalah potret kebijakan yang beradab. Bukti masih ada pemimpin (muslim) yang baik hatinya, dan tentu tidak suka mengambil harta yang bukan haknya. Yang mana, jumlah pemimpin (termasuk yang masih calon) seperti ini masih banyak lagi di negeri ini. Kita hanya perlu membuka mata, sedikit piknik, dan melihat hal-hal nyata dan baik tentang bangsa ini.

Deretan kios tertata bersih dan rapi, dikelompok-kelompokan berdasarkan barang yang dijajakan. Nyari apa saja ada di pasar ini, kecuali kebab dan dondurma. Karena aku sudah membuktikan, dan memang tidak ada. Nihil.

Pasarnya, cukup ramai dengan pengunjung, tapi jangan coba-coba dibandingkan dengan ramainya mal-mal besar yang terus tumbuh di kota ini.

Setelah sedikit berputar dan melihat-lihat di deretan pedagang sepatu. Saya tertegun, betapa hebatnya pasar ini. Banyak merek sepatu terkenal yang dijajakan di pasar rakyat ini. Mereknya benar-benar aseli (seperti di mal-mal itu). Tapi, barangnya tidak. Cuma merek saja.

Barangkali, para pedagang di sini hanya ingin menjadi pemuas hasrat para pemburu merek terkenal tapi kualitas aspal. Tapi barangkali tidak. Boleh jadi beginilah bangsa kita merayakan materialisme kebendaan. Buktinya, banyak kaum elit yang juga pecinta KW (sebut saja si mantan jenderal). Begitulah seni orang merayakan kebahagiannya, dari cabang-cabang yang orang lain tidak pernah dikira.

Dari Klithikan, kembali melaju ke selatan. Melewati beberapa kali lampu merah, hingga sampai di sebuah pertigaan; bila lurus ke kota yang terkenal dengan masakan mangut lele, tapi bila ke kiri akan melewati kawasan alun-alun kidul.

Tentu saja, aku memilih ke kiri meskipun sebenarnya tergoda juga untuk mindo (maksi untuk kedua kalinya) dengan manggut lele yang lezat itu. Ahh barangkali lain waktu saja, siapa tau pada saat itu ada orang yang manggut-manggut tanda mau diajak bersantap manggut lele khas Bantul itu.

Tak lama, sebuah gerbang putih kokoh nan perkasa nampak. Plengkung Gading namanya, salah satu gerbang memasuki kawasan keraton Ngayogyakarta dari arah selatan. Melewati gerbang ini, mengingatkanku pada kokohnya tembok Konstantinopel, butuh ratusan tahun untuk bisa menembus pertahan terakhir Romawi timur itu. Hanya saja, Plengkung Gading ini tampak mungil jika dibanding tembok konstantine. Boleh jadi ini sepadan dengan relatif mungilnya orang-orang yang akan memasuki gerbang tersebut.

Meskipun mungil, tapi gerbang ini cukup sakti untuk ditakuti oleh para Sultan yang kediamannya tak jauh dari sana. Betapa tidak, hanya sekali seumur hidup sang Sultan berani melewati gerbang ini. Yaitu ketika sang Sultan mangkat, untuk kemudian dimakamkan di Imogiri. Sakti bukan?

Setelah memasuki gerbang, bagiku ini porsi yang teramat istimewa. Selain bangunan keraton selatan yang masih berdiri gagah, ada alun-alun yang merayu untuk dikelilingi minimal sekali putaran. Dan aku selalu melakukannya. Bukan apa-apa, bukan untuk dientengkan jodoh atau apa, tapi beginilah caraku merayakan cabang-cabang kebahagian. Ya, seperti sang jenderal yang merayakan cabang kebahagiannya dengan mencintai barang aspal.

Aku laju motor dengan sangat pelan, sambil melihat sekitar dengan teliti. Barangkali ada gadis manis yang kakinya tak napak tanah di pojok gerbang. Ah bukan, barang kali ada yang berubah dengan tempat ini setelah beberapa waktu tidak berkunjung ke sini.

Tapi ternyata tidak. Alun-alun selatan masih tetap sama dengan dulu. Masih tetap bersahaja. Gerobak penjaja makan masih diperbolehkan menggelar lapaknya di sini lengkap dengan tikar serta kursi-kursi plastiknya. Harmoni.

Setelah satu putaran, aku berhenti di pojok bagian selatan. Di depan pohon meranggas yang belum lama menggugurkan daunnya. Duh, lagi-lagi teringat tentang kota itu yang tengah musim gugur saat ini. Teringat oleh sentuhan dingin angin dari laut Ege berpadu dengan mesranya cay yang menghangatkan. Itu juga cabang-cabang kebahagian yang bisa kurayakan di kota itu.

Di sini. Duduk di kursi plastik, aku melihat pucuk-pucuk cabang pohon itu. Nampak tumbuh tunas-tunas baru hingga ke puncaknya. Di sini pula, ketemukan (salah satu) puncak kebahagiaan itu.

Bersambung…

Ngayogyakarta, November 2016.

larch-163340_1920

Advertisements

18 thoughts on “Cabang Kebahagiaan

  1. trnyata…sderhana sekali untuk bahagia ya mas, hnya prlu lbh jeli melihat segala sesuatu dan mensyukuri hdup. 😊

    udah ngelike kmrin tp Cinta bru bca hr ini, ga nyesel trnyta bca pagi2 dtmani suara burung di dpn rmh yg msh brcericit ria, trnyta..ini jg bs jd cara Cinta utk bhagia 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s