Makar? Ya Sudahlah

Kurang lebih 4 tahun kami belajar di kampus ledokan. Selain berkutat pada pelajaran sastra yang imaginary itu (baca: fisika inti, reaksi fisi, dkk) kami juga diajari tentang cara bepikir dengan metode ilmiah se-ilmiah mungkin. Meskipun bab yang kami pelajari itu termasuk bab ghaib yang tak kasat mata dan tak bisa diraba.

Salah satu ajaran tentang metode berpikir ilmiah itu dengan memberlakukan hukum makruh-haram terhadap data bebas yang banyak bertebaran di internet. Sendiko dawuhΒ dosen-dosen kami kala itu kurang lebih begini;

Takon mbah Google kuwi oleh tapi ojo langsung diuntal. Diolah dan divalidasi kebenarannya dulu. Sumber dari internet itu masih mentah, emang kalian doyan makan daging mentah?”

Tidak perlu dijawab bahkan dengan beradu tafsir segala pertanyaan retoris semacam itu tentu tidak butuh jawaban.

Singkatnya, guru-guru kami kala itu selalu menekan untuk berhati-hati dalam menggunakan referensi ilmiah. Karena dengan begitu, ide-penemuan yang ingin kita sampaikan bisa dipertanggung jawabkan nantinya. Begitu kata dosen kami.

Tapi kemudian, negara api menyerang.

Saya yang pada dasarnya lugu, sedikit ganteng, dan baik hatinya ini, termehek-mehek ketawa tentang isu yang lagi hangat se-sore ini. Yakni tentang si-makar. Iya, si-makar tanpa si-oni yang katanya seneng ngehek itu. Bener-bener makar saja (bahasa lainnya kudeta).

Sebuah istilah yang tidak main-main. Baca lebih lanjut: Makar

Kapolri Tito Karnavian menyebut, bahwa rencana aksi Wiro Sableng (baca: 212) adalah tidak lain sebuah upaya makar untung menggulingkan pemerintahan yang sah. Wiih ngeri-ngeri sedap, kata Sutan Bhatoegana kalau beliau masih hidup pada detik ini. Betapa tidak ngeri, lha wong belum lama ini saya menyaksikan sendiri gimana sebuah negara mengalami kudeta (meskipun gagal). Lha ini sudah enak-enak ngungsi ke negeri sendiri (yang katanya aman), kok mau ada kudeta lagi. Kalau benar kejadian, udah kaya lebaran aja. Setahun dua kali. Duh.

Eh tapi, jangan keburu panik disko dulu. Ketika beliau ditanya siapa aktor dibalik makar/kudeta itu. Dengan malu-malu tapi sayangnya tidak lucu, beliau menjawab. Baca lebih lanjut: Kapolri

makar

BACA DI GOOGLE!!!

Ngeriiii!

Tapi, berhubung ini Kapolri yang ngomong dan demi menjaga ketertiban umum saya pun mencoba menuruti apa kata Kapolri. Dengan memasukkan keyword: siapa aktor makar aksi 212.

Hasilnya?

Kayak absen anak SD. Nihil.

Sampai page kelima, saya tidak menemukan informasi sedikitpun tentang siapa sesungguhnya aktor makar yang dimaksud Kapolri. Malah ada link yang membahas tentang aktor jadul yang suka garuk-garuk kepala pemeran Wiro Sableng -pendekar perkasa sakti mandra guna; abang Ken Ken. Masih ingat? kalau iya berarti kamu TUA. πŸ˜›

Yak, barangkali memang memang Ken Ken yang dimaksud Kapolri itu. Cukup dengan ajian pukulan matahari tak hanya Dewi Siluman dari Bukit Tunggul yang mampu ia kalahkan, Bahkan Raja Jokowi dari Bengawan Solo bisa ia lengserkan. Luar biasa!

Atau barang kali, google versi saya beda dengan tafsiran google versi Kapolri? apa perlu Β kita datengi ahli dari Mesir (lagi)?Β *eh πŸ˜›

Eh eh, jangan ketawa meremehkan dulu. Siapa tahu yang dikatakan Kapolri dan hasil penemuan saya ini memang benar adanya. Soalnya, pernyataan ini ternyata divalidasi dari sumber yang lebih shahih atau paling tidak yang ngomong ini tidak main-main kedudukannya. Seorang Kapolri pun hanya seujung jari dihadapannya.

Apa kata beliau, ketika ditanya: Dari mana sumber informasi tentang makar/kudeta ini. Baca lebih lanjut: Wiranto

makar2

Dari SOCMED!!

Sedaaaaap!!!

Kalau sudah begitu. Apa saya perlu lari ke hutan lalu belok ke pantai?

Ya sudahlah….

Ya sudahlah….

Ya sudahlah….

Ngeri-ngeri sedap menanti si- Wiro Sableng beraksi dengan kapak saktinya nanti.

Ketimbang sepaneng, lha mbok ayo nembang sik.Peace-love-and gaul! *eh πŸ˜€

Advertisements

32 thoughts on “Makar? Ya Sudahlah

  1. ya sudadahlah….

    pertanyaanya adalah…. Mas tidurmu kali ini nggak cuma dua jam kan? hehe

    dapat salam dari Sinto Geni lho bawa-bawa Wiro Sableng.

  2. Cinta numpang ketawa ajalah, takut bngt mereka, lah wong sesama muslim ini. πŸ˜‚.

    aamiin, smga si wiro sableng ga meleset mengeluarkan ajian saktinya kali ini. πŸ˜‡

  3. Haha, mungkin sudah pening kepala petinggi-petinggi itu. Sudah lelah ia. Tetapi seharusnya bukan itu tindakan yang harus dilakukan jika menghadapi media nasional huhu

  4. Hari ini saya ada acara di Subang. Acaranya itu tentang hasil panen padi terbanyak yang tercatat di MURI. Nah, disitu hadir pula Wakil Kapolsek Subang yang juga ikut memberi sambutan. Menurut saya, sambutan ini rada gak nyambung sama inti acaranya. Wakil Kapolsek menghimbau supaya petani jangan ada yang ikut demo 2 Desember nanti, intinya begitu. Entah mengapa saya merasa kondisi Indonesia sangat lebay dengan segala kekhawatirannya. Khawatir boleh aja sih, tapi asli, ini lebaaayyyyyy -_- Gak ngerti lagi harus ngungkapin gimana.

  5. rasanya geli geli gemes πŸ˜€

    bahkan kemaren di SMK ada seminar bela negara dari TNI n polri ,
    anak SMK ditanya “kalian siapkan membela negara jika kelak tanggal 2 akan ada makar untuk menggulingkan presiden”

    hadeeeh doktrin e ke sekolah sekolah :I

  6. Sebelumnya nyuwun ngapunten Mas, ini cuma komennya emak2 yang nggak paham politik Tapi suka geram kalau baca berita di koran online.

    Kalau kata saya sih, yang mau makar makar lah. Saya nggak ikut2. Cuma yang saya nggak ngerti kenapa si calon pendemo ini seperti tidak Ada puasnya. Tuntutannya sih saya tahu , yang sampai demo berapa kali pun tetep konsisten pada satu hal yang sama.

    Mbok yo uwis to… Nunggu proses napa? Jujur saja mas, sebagai Muslim saya malu kalau baca berita soal demo 212 ini. Seolah2 di muka bumi Indonesia ini nggak ada hal manfaat lain apa selain demo? Kalau harinya Jumat mbok yo mending ngaji, sholat jumat yang bener di masjid bukan di jalan, atau ngelakuin apa gitu yang manfaat buat banyak orang dan nggak potensi rusuh apalagi dibenci orang sak Indonesia bahkan dibilang makar.

    Kalau masih nekat juga, sepertinya harus dipertanyakan siapa sebenarnya yang menistakan agama? Yang kepleset salah ngomong di video atau yang ngaku Muslim tapi…..?

    Mbuh wis. Makar pun makar lah. Saya mau makan saja. Gulai ayam sudah menunggu… Peace… ☺☺☺

    • Demo itu konstitusional, sedangkan makar itu inkonstitusional, apalagi mengumbar tuduhan makar.

      Demo itu biasa dlm iklim demokrasi, yg gak biasa kenapa sengaja dibikin ‘situasi’ yg bikin orang2 berhasrat unt demo.

      Dan sebenarnya dari awal, kejadian seperti ini gak perlu. Bila hukum gak pandang bulu, dan mulut saling menjaga biar tidak bikin bau.

      Anyway, makar siang pakai gulai ayam emang jauh lbh nikmat ketimbang baca berita yg bikin sepaneng kok Bu πŸ™‚ 😦

  7. Siapa yg bs gulingkan pemerintahan ? Bahkan wakil kita di parlemen utk pun masih adem ayem sepertinya.

    Makar alasanya apa ? Cuma karna polemik kota sumpek yg namanya jakarta ? Indonesia seluas ini masih aja rebutan jakarta ? Damailah.

  8. Awalnya aku nggak ngerti apa sih makar itu haha. Baca postingan ini jadi ketawa ngeri ngeri sedap dari tadi.

    Saya malah awalnya kalau denger makar malah inget cikar.

    Kayaknya posting ini di buat sebelum kejadian 212 ya. Yawislah penting wis liwat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s