Nyambung

Hujan rintik menitik membasahi kampung kami, membiarkan tanah merah, rerumput liar dan pucuk-pucuk tanaman jagung yang baru saja ditanam, basah.

Adalah keindahan lain selain hujan malam itu, sebuah perbincangan dengan seorang kawan-tetangga-sekaligus partner saat merintis start up pada tempo tahun 2009-2010. Sebut saja namanya I. Seorang jenius, maniak kode -yang bisa menghabiskan malam-malamnya hanya dengan duduk di depan layar komputer dengan asap mengebul dari dua bungkus rokok mild favoritnya.

Perbincangan malam itu begitu mengalir, meskipun nyaris tiga tahun kami tak pernah kontak sama sekali. Sibuk dengan urusan masing-masing. Klise. Tapi ketika bertemu, seakan waktu berjalan lebih cepat. Perbincangan empat jam selepas pengajian bakda Isya’ terasa begitu singkat.

Nyambung. Ya, padahal, kami mempunyai latar keilmuan yang berbeda pun umur yang berbeda (dia jauh lebih senior). Tapi bagaimana bisa nyambung?

Sebab ada persamaan perspektif diantara kami terhadap teknologi, minat, pun tentang problematik sosial. Ya, sesederhana itu.

Kemudian, perbincangan malam itu berbuah sebuah semangat baru, untuk kembali memulai sebuah startup (belum kapok anaknya) meskipun belum tau kapan. Perlu perencanaan matang dan hati-hati. Jangan sampai pudar (oleh pemodal curang) sebelum mekar. Semoga.

Ya, ikatan antara dua insan (atau lebih) itu sederhana. Seringkali hanya dimulai dari sebuah persamaan. Entah itu minat, ide, sudut pandang dan bahkan yang sedikit abstrak berupa perasaan.

Nyambungnya seorang penghobi bola, yaitu ketika ia bertemu dengan pecinta bola (apalagi kalau timnya sama).

Nyambungnya pecinta kopi, yaitu ketika ia bertemu dengan seorang barista di warung kopi ataupun dengan sesamanya.

Nyambungnya seorang politikus, yaitu ketika ia berkongsi dengan orang yang mempunyai kesamaaan ideologi ataupun kepentingan.

Dan nyambungnya seorang pecinta, ketika ia bertemu dengan seseorang dengan perasaan yang sama.

Meskipun pertemuaan-pertemuan itu hanya berupa pesan suara atau kata-kata.

Jika sudah begitu, rasanya tak pernah habis hal di dunia untuk dibahas. Menjadikan perbincangan-perbincangan kecil, menjadi bahan saling menguatkan. Menghasilkan karya yang dua insan itu tidak pernah duga sebelumnya.

Pada tingkatan yang lebih tinggi, dimana orang akan saling mendahulukan yang lain, bahkan mengorbankan dirinya untuk orang lain ketika sambungan itu berupa Iman.

Jika persamaan minat, ide, kepentingan, dan hal keduniaan lain itu sifatnya temporal, maka nyambungnya iman adalah ikatan yang sifatnya timeless, kokoh, dan langgeng.

Maka mengumpulkan jutaan orang dalam satu waktu, satu tempat bukan lagi menjadi perkara sulit. Bukan pula hal yang mustahil. Banyak contohnya.

Maka, tak ada lagi yang lebih menarik selain daripada ide ikatan perdaban yang kekal, kokoh, dan langgeng ini.

Ya kan?

Advertisements

22 thoughts on “Nyambung

  1. Hihi tapi kalau perasaan udah nyambung di jaga apa adanya aja, jangan sampe jadi sok sok an nyambung soal politik , soal bola, dan soal lain lainya. Jika tidak tau, jangan sok tau.
    Wkwk

    Apa adanya untuk nyambung, Gitu.

  2. Setuju. Pas pulang ke Indo kemarin sengaja ketemu sama sahabat-sahabat di SMA. Meski udah dua tahun nggak ketemu, kita masih nyambung aja ngobrolnya. Dan seruuu! Sayang, waktu tampaknya tidak mau singgah lama pada hati yang terlampau bahagia dan menikmatinya hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s