Hujan

Buat kamu,

Yang akhir pekannya berantakan,
Yang rencana-rencana terpaksa batal,
Dan yang pagi harinya hanya terbuai bantal,

Dengar lah dia barang sebentar,

Bicara rindu
Bicara haru
Luangkan ruang imajimu

Bernyanyi merdu
Bernyanyi sendu
Bebaskan birunya hatimu

Tanpa kata tanpa nada
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian
Hanya rasa hanya prasangka
yang terdengar di dalam Dialog Hujan

Karena hujan hanya ingin memelukmu lebih erat kali ini.

dalam birunya rindu,
dan sendunya haru.

~no where, 12 February 2017
ketika lari pagi dan ‘hang out’ sore runam oleh hujan.

Nyambung

Hujan rintik menitik membasahi kampung kami, membiarkan tanah merah, rerumput liar dan pucuk-pucuk tanaman jagung yang baru saja ditanam, basah.

Adalah keindahan lain selain hujan malam itu, sebuah perbincangan dengan seorang kawan-tetangga-sekaligus partner saat merintis start up pada tempo tahun 2009-2010. Sebut saja namanya I. Seorang jenius, maniak kode -yang bisa menghabiskan malam-malamnya hanya dengan duduk di depan layar komputer dengan asap mengebul dari dua bungkus rokok mild favoritnya.Read More »

Makar? Ya Sudahlah

Kurang lebih 4 tahun kami belajar di kampus ledokan. Selain berkutat pada pelajaran sastra yang imaginary itu (baca: fisika inti, reaksi fisi, dkk) kami juga diajari tentang cara bepikir dengan metode ilmiah se-ilmiah mungkin. Meskipun bab yang kami pelajari itu termasuk bab ghaib yang tak kasat mata dan tak bisa diraba.

Salah satu ajaran tentang metode berpikir ilmiah itu dengan memberlakukan hukum makruh-haram terhadap data bebas yang banyak bertebaran di internet. Sendiko dawuh dosen-dosen kami kala itu kurang lebih begini;

Takon mbah Google kuwi oleh tapi ojo langsung diuntal. Diolah dan divalidasi kebenarannya dulu. Sumber dari internet itu masih mentah, emang kalian doyan makan daging mentah?”Read More »

Cabang Kebahagiaan

aratSama seperti di kota itu, di saat-saat pergantian musim tiba. Yaitu ketika awan lebih sering bertandang di langit-langit, dengan sang bayu tak henti mengelus pucuk-pucuk daun pinus. Tanda bahwa dinginnya air hujan akan segera membasahi kota ini juga. Kota yang pernah memberi kesempatan melihat kehidupan dengan lebih luas.

Kubelokan arah ke barat di sebuah perempatan setelah underpass rel kereta api yang samar-samar kuingat namanya. Setelah beberapa menit sebelumnya, memastikan bahwa jadwal check-in ho(s)tel masih dua jam-lima belas menit lagi. Bukan karena datang lebih awal, hanya saja penginapan murah-meriah ini memberlakukan waktu check-in/out yang aneh dan cenderung dzalim.Read More »

Pandang Bulu

Malam ini saya tidak bisa tidur. Padahal biasanya jam 9.00 pm sudah terlelap dengan mimpi-mimpi yang seringkali random. Persis isi blog yang sedang Anda baca ini.

Saya gelisah malam ini. Lebih tepatnya terus kepikiran tentang diskusi antara orang-orang hebat yang dipandu oleh pembawa acara yang juga tak kalah hebat, yang terkenal memberi pertanyaan yang nyelekit lagi tajam. Sebut saja orang-orang itu; Panglima TNI, Kapolri, Ketua MPR, Ketua PBNU, Sekum Muhammadiyah, Menteri Agama, hingga seorang wanita lagi (mbak Yenny Wahid) yang entah mewakili siapa. Apakah beliau sekedar genap-genap biar mbak Najwa tidak keder menghadapi orang-orang yang berbeda gender dengan dirinya atau memang ada urgensi di tengah-tengah forum orang-orang hebat tersebut.

Namun, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih detail tentang isi pembicaraan pada acara tv tersebut. Melainkan sekedar ingin menyampaikan point of view saya terkait topik yang lagi hangat dibicarakan. Sampai-sampai sang bapak Presiden repot-repot mendatangi rivalnya sendiri di tanah Hambalang.

Tapi sebelum itu, izin kan saya menyampaikan secara singkat sebuah fakta sejarah. Sejarah yang terus kita kenang, syukur-syukur bisa kita ambil hikmahnya.

Terbunuhnya Utsman bin Affan ra. dan Supremasi Hukum

Terpilihnya Utsman pasca terbunuhnya Umar bin Khattab oleh Abu Lu’luah seorang majusi adalah awal munculnya fitnah besar di kalangan umat kala itu. Yaitu pertentangan umat Islam tentang siapa yang lebih berhak menggantikan Umar, antara Utsman atau Ali. Meskipun, terpilihnya Utsman sudah sesuai dengan wasiat Umar sebelum wafat melalui sebuah jalan musyawarah yang elegan diantara enam ahli syuro kala itu.

Akan tetapi, situasi kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang di luar Islam (kaum Khawarij dan Yahudi dengan pemimpinnya Abdullah bin Saba’) untuk memecah belah ukhuwah. Dengan puncaknya, terbunuhnya kembali sang khalifah di tangan para pemberontak (kaum Khawarij).

Setelah terbunuhnya Utsman kemudian terpilihlah Ali ra, meskipun sebenarnya Ali menolak jabatan sebagai khalifah.

Di zaman kekhalifahan Ali, fitnah yang sudah mendera sejak era Utsman masih berlanjut meski kaum Khawarij tinggal menunggu waktu untuk diadili. Fitnah muncul kala khalifah Ali dirasa kurang sigap mengadili para pemberontok (pembunuh Utsman). Ali menginginkan kau Khawarij itu diadili seadil-adilnya sambil memperbaiki kondisi sosial umat kala itu, sementara pendukung Utsman (termasuk bunda Aisyah ra) menginginkan pengadilan secepat-cepatnya. Pendukung Utsman memandang Ali tidak segera menegakkan supremasi hukum, sementara Ali menginginkan supremasi hukum yang seadil-adilnya (hati-hati).

Perbedaan pandangan ini kemudian ternyata kembali dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, termasuk oleh kaum munafik Abdullah bin Saba’ yang pura-pura masuk Islam itu. Hingga pecahlah perang besar dikalangan umat Islam. Banyak kerugian yang ditimbulkan oleh perang tersebut, diantaranya adalah sang cucu Nabi. Dan yang paling menyedihkan adalah terbentuklah bibit kelompok Syi’ah bikinan Abdullah bin Saba’ yang bertahan sampai sekarang.

Ahok dan Mandulnya Hukum

Mari kembali ke era kini. Mari kita bicara tentang morat-maritnya persoalan hukum di negeri kita.

Pada bagian ini saya akan fokus pada sosok orang yang tengah menjadi kontroversi. Tak hanya menjadi perhatian masyarakat Jakarta saja, isu yang melanda beliau saat ini saya rasa sudah memasuki skala nasional. Artinya, ketika ada orang yang membenci beliau maka akan ada banyak dari penjuru negeri ini yang ikut membenci beliau, yang cinta pun juga demikian.

Perlu saya ingatkan, tak ada tendensi ras dan agama dalam bahasan ini. Semata-mata hanyalah pemilik nama aseli Basuki Tjahja Purnama ini sama dalam pandangan hukum positif Indonesia. Meskipun status beliau sebagai Gubernur tak ada bedanya dengan mereka para pemuda labil yang suka nongkrong di warnet. Dengan kita pun demikian. Sama.

Ini tentang supremasi hukum di Indonesia. Yang Penegakan dan Konsistensinya payah, belum lagi sering kali pandang bulu. Pilih-pilih.

Pertama, Anda masih ingat kasus yang menimpa Arswendo Atmowiloto yang kala itu divonis bersalah karena menistakan agama (Rasulullah). Meskipun, dasar ia dipersalahkan masih debatable pun apa yang dilakukannya tak sampai separah apa yang dilakukan Ahok sekarang.

Tapi, bagaimana aparat hukum kita memandang persoalan yang menjerat Ahok kali ini?

Kedua, yang ini masih hangat. Tentang kasus yang menimpa sang mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan. Dahlan disangka sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam penjualan aset milik salah satu BUMD milik pemprov Jatim. Kala itu (2003-2010) dia menjabat sebagai direktur BUMD tersebut. Meskipun, Dahlan mengaku tidak menerima uang dari penjualan aset yang dibawah NJOP tapi proses hukum tetap berjalan. Karena negara diduga mengalami kerugian akibat menjual aset negara dibawah NJOP.

Kemudian, bandingkan dengan kasus Ahok tentang skandal Sumber Waras-nya. Dia membuat kebijakan; yaitu membeli tanah swasta (dengan uang negara tentunya) di atas harga NJOP, yang mana harganya mencapai tiga kali lipat dari harga normal. Bahkan oleh BPK sendiri jelas-jelas dikatakan bahwa negara mengalami kerugian akibat transaksi ilegal tersebut, yang nilai kerugiannya mencapai ratusan milyar.

Tapi, bagaimana aparat hukum kita memandang skandal yang menjerat Ahok ini?

Pertanyaan selanjutnya, kira-kira apa bedanya antara seorang Arswendo, Dahlan, dan Ahok di mata hukum? hukum yang menjadi pijakan kita dalam menuntut keadilan seadil-adilnya. Apa bedanya?

Kalau lah sama, mengapa perlakuan diantara mereka bertiga sangat berbeda?

Resolusi Aksi 4 November

Maka kemudian saya bersepakat dengan apa yang dikatakan oleh Sekum Muhammadiyah, ketua MPR dll dalam diskusi yang sempat saya singgung diawal tulisan ini. Kurang lebih seperti ini:

“Aksi 4 November besok jangan dimaknai macam-macam. Jalan yang mereka pakai (aksi demo) adalah cara-cara demokrasi. Asal dilakukan dengan cara damai. Mereka adalah warga negara yang baik, hanya menuntut agar pihak kepolisian benar-benar menegakkan supremasi hukum. Biar kasus hukum diselesaikan saja secara hukum. Bersalah atau tidaknya pak Ahok biar pengadilan yang memutuskan.”

Adem sekali saat mendengar pernytaan beliau tersebut, yang kemudian disusul oleh pernyataan Kapolri bahwa besok (Kamis 3/11) akan dikirim surat panggilan kepada Ahok sebagai terperiksa. Bila apa yang disampaikan Kapolri disampaikan lebih cepat (dan tentu saja diwujudkan), dan penegakkan hukum berjalan tanpa intervensi maka aksi 4 November besok sebenarnya tidak perlu terjadi.

Adem. Bahwa ada tanda-tanda pihak kepolisian serius menangani permasalahan SARA ini. Permasalahan yang sebenarnya saya bosan mengikutinya, karena sebelum kasus Ahok. Lebih banyak yang lebih parah. Coba aja perhatikan timeline socmed Anda atau situs-situs abal-abal dengan penulis anonim. Maka akan ada banyak contoh muatan-muatan berbau SARA, yang tak jarang jelas-jelas berbau fitnah satu sama lain.

Sehingga, dengan seriusnya pihak kepolisian menangani kasus ini. Maka masih ada harapan bahwa bangsa ini masih bertahan berpuluh tahun lagi (bahkan ratusan), sekaligus membuat efek jera para pembuat fitnah, pelaku SARA, dan segala bentuk kejahatan rasial lain untuk segera menghentikan aktivitasnya.

Bangsa ini sudah renta, jangan bebani ia dengan beban yang kita tambah sendiri.

Sebagai penutup, bila sebaik-baiknya umat setelah Rasulullah (yakni para sahabat) saja masih bisa tercerai-berai oleh fitnah (supremasi hukum yang lemah dll), bagaimana dengan diri kita? sebaik apa kita bila dibandingkan dengan Utsman, Ali, ataupun Bunda Aisyah?

Sampai kapan bangsa ini akan terus bertahan bila kita terus begini?

Sakit darah tinggi bisa diobati dengan buah mengkudu
Tapi bila tak sembuh jangan nangis melulu
Bila ingin bangsa ini tak mau pecah jadi seribu
Maka hukum haruslah tak pandang bulu

0_0_1024_723_4c963c4cedcaadb3a524c29451d84467577e24b2
sumber pic brta (dot) in