Simba: Sang Survival

Alhamdulillah, sejak pernikahan kami setahun yang lalu Allah sudah menganugerahkan beberapa momongan yang lucu-lucu. Yang pertama, kami beri mereka nama trio Tini-Wini-Biti.

Yang disebut paling terakhir, adalah favorit kami semurah. Tak jarang, dia kami ajak kelonan. Maka tak heran, bila suatu masa kami terlalu sibuk dengan urusan manusia hingga lupa dengan keberadaan mereka pasti ada saja ulah lucunya. Dari manggil-manggil hingga gedor-gedor pintu. Minta dikelonin.

Yak, mereka adalah kucing kami. Kami adopsi dari sejak ia masih kuncup kecil, hingga kini mekar sampai-sampai kami kerepotan soal budget bulanan untuk makanan dan pasir mereka.

Pernah, saat mereka umur sekitar 8/9 bulan, bisa-bisanya mereka melakukan aksi mogok makan hingga berujung masuk angin. Dengan terpaksa kami bawa mereka ke klinik khusus hewan, tahu tidak biayanya? mahal beud. Semacam cukup buat kami nonton di bioskop deket rumah satu musim full.

Tapi tak apa, toh dengan kehadiran mereka kami jadi punya kesibukan-kesibukan yang memungkinan kita terus bersama (red- kami sama-sama hobi pelihara kucing).

Bagi kami, trio Tini-Wini-Biti adalah anak-anak kami.

Okay, kembali ke judul. Biar nyambung.

Simba. Adalah seorang anak yang beruntung. Melalui perkimpoian yang belum kami restui, dua kucing perempuan kami ternyata hamil. Nyaris dalam waktu yang bersamaan.

Tini, si kucing dengan gen kampungnya yang nyaris 100 persen itu melahirkan empat anak. Kami tak menyangka, tubuhnya yang mungil begitu kok bisa muat 4 nyawa.

Tapi, kami senang. Anaknya lucu. Tapi sayang umur anak-anaknya hanya bertahan seminggu.

Kemudian, si Wini. Si anak pemalu paling pendiam diantara yang lain. Dia itu tipikal introvert berbahaya. Betapa nyesek, sama sekali tidak pernah kelihatan gandeng pasangan kok tiba-tiba hamil duluan.

Tapi, kami juga senang. Karena setelah Wini melahirkan, kami semakin yakin kalau ia hamil akibat perbuatan anak laki kami satu-satunya, Biti.

Jantan juga kau Bit.

Nah dari si introvert Wini ini, lahirlah Simba sang survival. Karena dia satu-satunya anak Wini yang berhasil hidup dari ibu kucing amatir yang belum begitu paham mengurus anak.

Simba ini lucu. Bila, Tini adalah 100% kampung, Wini 45%, Biti 50% campuran kampung dan angora, maka Simba adalah 15% angora dan sisanya gen kampung.

Yak, 15% itu hanya berkontribusi pada bulunya yang lebat hanya pada bagian buntut patahnya. Lucu. Aseli.

Sifatnya? widiih manja betuul. Semacam anak tunggal yang di asuh dua ibu. Kanan-kiri nyusu.

Kini Simba sudah besar. Ia tumbuh menjadi anak lak-laki yang lincah dan trengginas. Meski, ke-angora-annya yang nangghung itu membuat kami merasa miris.

Tapi kami senang.

Apalagi sifatnya kamin kesini makin mirip bapaknya, si Biti. Ngerti bagaimana bikin orang lain merasa nyaman di dekatnya. Kelon-able.

Apalagi, sejak Ramdhan kemarin ia rajin menamani saya bekerja di perpustakan rumah. Ruangan ber AC yang adem semakin membuat mereka berdua betah di dalam menemani saya. Lucu sekali melihat tingkah Bapak-Anak yang makin mirip ini.

Suka.

 

*PS: Yang pengin lihat aksi mereka follow IG kita ya @parmantos , nanti saya upload aksi lucu-lucu mereka di sana.

Advertisements

Begadang

Sejak negara api menyerang kembali ke Tanah air, kebiasaan begadang nyaris bisa dipastikan punah. Bagai dinosaurus disambar hujan meteor. Musnah. Halah.

Padahal nih ya, begadang itu kata bung Roma bisa meningkatkan kadar kegantengan kepada level yang cukup menyakinkan.

Gak percaya?

Tanya aja pada bung Roma Regal. Loh. Eh, benar gak sih.

Apalagi sejak jadi budak corporate bekerja. Jam 9 malam itu rasanya sudah berat di mata. Kecuali, kalau ndilalah ada yang ngajakin ngopi atau ngobrol virtual yang kadangkala ampe terlewat malam.

Selebihnya, nyaris tidak pernah.

Kecuali malam ini.

Mungkin, efek dari takut ketinggalan pesawat (soalnya first flight) + presentasi yang belum kelar (maklum deadliner) + teh pahit bawaan dari kampung.

Udah deh, kemudian tetiba merasa dejavu tentang masa-masa yang telah berlalu.

Haha.

Gud night everyone! Eh morning ding!

#siapataumasihadayangmelek
#quickpost
#pertandasiempublogbakalrajinngepostlagi
#nantikantulisan2selanjutnya
#staytune
#staycalm
#keepganteng
#yak

Hujan

Buat kamu,

Yang akhir pekannya berantakan,
Yang rencana-rencana terpaksa batal,
Dan yang pagi harinya hanya terbuai bantal,

Dengar lah dia barang sebentar,

Bicara rindu
Bicara haru
Luangkan ruang imajimu

Bernyanyi merdu
Bernyanyi sendu
Bebaskan birunya hatimu

Tanpa kata tanpa nada
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian
Hanya rasa hanya prasangka
yang terdengar di dalam Dialog Hujan

Karena hujan hanya ingin memelukmu lebih erat kali ini.

dalam birunya rindu,
dan sendunya haru.

~no where, 12 February 2017
ketika lari pagi dan ‘hang out’ sore runam oleh hujan.

Nyambung

Hujan rintik menitik membasahi kampung kami, membiarkan tanah merah, rerumput liar dan pucuk-pucuk tanaman jagung yang baru saja ditanam, basah.

Adalah keindahan lain selain hujan malam itu, sebuah perbincangan dengan seorang kawan-tetangga-sekaligus partner saat merintis start up pada tempo tahun 2009-2010. Sebut saja namanya I. Seorang jenius, maniak kode -yang bisa menghabiskan malam-malamnya hanya dengan duduk di depan layar komputer dengan asap mengebul dari dua bungkus rokok mild favoritnya.Read More »

Makar? Ya Sudahlah

Kurang lebih 4 tahun kami belajar di kampus ledokan. Selain berkutat pada pelajaran sastra yang imaginary itu (baca: fisika inti, reaksi fisi, dkk) kami juga diajari tentang cara bepikir dengan metode ilmiah se-ilmiah mungkin. Meskipun bab yang kami pelajari itu termasuk bab ghaib yang tak kasat mata dan tak bisa diraba.

Salah satu ajaran tentang metode berpikir ilmiah itu dengan memberlakukan hukum makruh-haram terhadap data bebas yang banyak bertebaran di internet. Sendiko dawuh dosen-dosen kami kala itu kurang lebih begini;

Takon mbah Google kuwi oleh tapi ojo langsung diuntal. Diolah dan divalidasi kebenarannya dulu. Sumber dari internet itu masih mentah, emang kalian doyan makan daging mentah?”Read More »