Begadang

Sejak negara api menyerang kembali ke Tanah air, kebiasaan begadang nyaris bisa dipastikan punah. Bagai dinosaurus disambar hujan meteor. Musnah. Halah.

Padahal nih ya, begadang itu kata bung Roma bisa meningkatkan kadar kegantengan kepada level yang cukup menyakinkan.

Gak percaya?

Tanya aja pada bung Roma Regal. Loh. Eh, benar gak sih.

Apalagi sejak jadi budak corporate bekerja. Jam 9 malam itu rasanya sudah berat di mata. Kecuali, kalau ndilalah ada yang ngajakin ngopi atau ngobrol virtual yang kadangkala ampe terlewat malam.

Selebihnya, nyaris tidak pernah.

Kecuali malam ini.

Mungkin, efek dari takut ketinggalan pesawat (soalnya first flight) + presentasi yang belum kelar (maklum deadliner) + teh pahit bawaan dari kampung.

Udah deh, kemudian tetiba merasa dejavu tentang masa-masa yang telah berlalu.

Haha.

Gud night everyone! Eh morning ding!

#siapataumasihadayangmelek
#quickpost
#pertandasiempublogbakalrajinngepostlagi
#nantikantulisan2selanjutnya
#staytune
#staycalm
#keepganteng
#yak

Advertisements

Hujan

Buat kamu,

Yang akhir pekannya berantakan,
Yang rencana-rencana terpaksa batal,
Dan yang pagi harinya hanya terbuai bantal,

Dengar lah dia barang sebentar,

Bicara rindu
Bicara haru
Luangkan ruang imajimu

Bernyanyi merdu
Bernyanyi sendu
Bebaskan birunya hatimu

Tanpa kata tanpa nada
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian
Hanya rasa hanya prasangka
yang terdengar di dalam Dialog Hujan

Karena hujan hanya ingin memelukmu lebih erat kali ini.

dalam birunya rindu,
dan sendunya haru.

~no where, 12 February 2017
ketika lari pagi dan ‘hang out’ sore runam oleh hujan.

Nyambung

Hujan rintik menitik membasahi kampung kami, membiarkan tanah merah, rerumput liar dan pucuk-pucuk tanaman jagung yang baru saja ditanam, basah.

Adalah keindahan lain selain hujan malam itu, sebuah perbincangan dengan seorang kawan-tetangga-sekaligus partner saat merintis start up pada tempo tahun 2009-2010. Sebut saja namanya I. Seorang jenius, maniak kode -yang bisa menghabiskan malam-malamnya hanya dengan duduk di depan layar komputer dengan asap mengebul dari dua bungkus rokok mild favoritnya.Read More »

Makar? Ya Sudahlah

Kurang lebih 4 tahun kami belajar di kampus ledokan. Selain berkutat pada pelajaran sastra yang imaginary itu (baca: fisika inti, reaksi fisi, dkk) kami juga diajari tentang cara bepikir dengan metode ilmiah se-ilmiah mungkin. Meskipun bab yang kami pelajari itu termasuk bab ghaib yang tak kasat mata dan tak bisa diraba.

Salah satu ajaran tentang metode berpikir ilmiah itu dengan memberlakukan hukum makruh-haram terhadap data bebas yang banyak bertebaran di internet. Sendiko dawuh dosen-dosen kami kala itu kurang lebih begini;

Takon mbah Google kuwi oleh tapi ojo langsung diuntal. Diolah dan divalidasi kebenarannya dulu. Sumber dari internet itu masih mentah, emang kalian doyan makan daging mentah?”Read More »

Cabang Kebahagiaan

aratSama seperti di kota itu, di saat-saat pergantian musim tiba. Yaitu ketika awan lebih sering bertandang di langit-langit, dengan sang bayu tak henti mengelus pucuk-pucuk daun pinus. Tanda bahwa dinginnya air hujan akan segera membasahi kota ini juga. Kota yang pernah memberi kesempatan melihat kehidupan dengan lebih luas.

Kubelokan arah ke barat di sebuah perempatan setelah underpass rel kereta api yang samar-samar kuingat namanya. Setelah beberapa menit sebelumnya, memastikan bahwa jadwal check-in ho(s)tel masih dua jam-lima belas menit lagi. Bukan karena datang lebih awal, hanya saja penginapan murah-meriah ini memberlakukan waktu check-in/out yang aneh dan cenderung dzalim.Read More »