Perihal Nasi Goreng dan Jodoh

Bagi keluarga kami nasi goreng itu bukan sekedar persoalan perpindahan nasi dari kuali ke wajan (untuk dimasak lagi), tapi juga soal pergolakan peradaban. *halah*

Nasi goreng adalah bukti atas runtuhnya dominasi kaum wanita di daerah kekuasaannya sendiri (pawon). Karena, ketika bau semerbak bawang, cabe, kemiri, dan sedikit trasi sudah tercium hingga ke ruang tengah, maka lakon utamanya bukan lagi wanita satu-satunya di rumah kami (Ibuk). Melainkan, lelaki gagah yang saya panggil Bapak. Ya, dalam hal per-nasi goreng-an Ibuk mesti mengakui kehebatan sigaraning nyawa (garwo) beliau sendiri.Read More »

Wejangan Lebaran

Sungguh, saya rindu.

Mungkin tiga kata tersebut, adalah kalimat permintaan maaf paling tepat atas absent saya dalam dunia blogging 19 hari belakang ini. Bukannya lagi mengalami writer’s block, bukan. Justru ada banyak hal yang ingin di-sharing sebenarnya. Tapi, ramadhan kemarin memang lagi ingin fokus pada kebutuhan (ruhani) diri sendiri aja. Yang hasilnya?

Hmm bisa dikatakan cukup puas, meskipun tidak semua target bisa terpenuhi.

Bagaimana dengan kamu?Read More »

Deep Conversation

Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat kembali, sebaik-baiknya tempat kembali di dunia. Setiap pojoknya, reling-reling beranda, hingga bau kasur, adalah pengingat kebahagian yang pantas para perantau syukuri. Ia akan selalu ada, meski kita entah berada.

Bagi sebagian orang, rumah adalah gubuk di tengah sawah, sebaik-baiknya tempat berteduh setelah berpeluh. Atap-atapnya melindungi, pintu-pintunya selalu terbuka membiarkan angin kesejukan datang menghembus. Membiarkan payah musnah, menyalakan kembali tungku api.Read More »