Naik Level

Selepas Isya’, selepas dzikir yang dipersingkat, sang Imam -seorang lelaki sepuh dengan memutih rambut yang menyembul dari sela-sela peci hajinya, ia berkata;

“Jamaah, sekalian. Malam ini terhitung tanggal 27 Rajab…”

Deg..

Waktu terasa cepat. Rasanya belum lama yang lalu seorang rekan kerja mengingatkan tentang Ramadhan yang tinggal dua bulan lagi. Tak terasa, kini nyaris tinggal sebulan lagi.

Rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Bahwa hamba yang dhaif ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri, mengeja duniawi terteter urusan-urusan yang asasi.

Bahwa hamba yang dhaif ini nyata-nyata belum selesai dengan dirinya sendiri, mencoba ingin memikul tanggung jawab, tapi baru akan memulai sudah ia hempaskan apa yang baru ditangannya dengan kebodohan yang ia buat sendiri.

Bahwa hamba yang dhaif ini tengah merasakan sesak di dalam dadanya. Betapa ia semakin menjauh dengan Tuhannya. Jangan tanya berapa banyak hafalan yang bertambah, nyatanya yang sudah ada pun tak lagi ia muroja’ah.

Rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Ketika membayangkan, orang-orang yang ia cintai (dan yang mencintainya) harus menjadi korban tindakan yang gegabah, tak kokoh memegang amanah. Seribu maaf pun tak akan mengubah keadaan.

Rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Ketika menyaksikan, sepiring nasi yang porsinya sudah sedemikan sedikit tak mampu ia kunyah. Sepertinya hambar dan tak enak di lidah. Menjadikan butir-butir beras masak terbuang, yang menjadi dosa-dosa baru buat dirinya karena terbuang percuma ditempat sampah.

Ya Allah, sungguh rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Ternyata nikmah umur tak kemudian membuat kedewasaan dirinya bertambah. Ia masih anak-anak yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Yang hanya bisa cemburu, ketika manusia seusianya (atau bahkan yang lebih muda) sudah memberi manfaat pada umatnya, bahkan memimpin sebuah negara.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.

Ya Allah, ketika Engkau menghibur Muhammad dengan Isra’ Mi’raj ketika pelik masalah pada masa dakwahnya di Makkah.

Maka cukuplah Engkau menghibur hamba yang dhaif ini dengan kesampatan-kesempatan yang selalu melibatkanMu pada urusan-urusannya. Jagalah ia, untuk terus berakhlakul karimah. Karena seorang bijak pernah berkata padanya; ketika ingin melihat akhlak seseorang, lihatlah cara bagaimana ia menyelesaikan setiap masalahnya.

Saatnya naik level!

Bismillah.

 #NTMS

Pelajaran Hidup No. 19

Tentang Pacar #eh Pagar

Teringat sebuah obrolan malam hari di sela-sela ‘kunjungan keponakan’ di sebuah kota pesisir utara Jawa, Pekalongan. Mas mbarep-lah yang hijrah-nikah-omah di kota ini. Dan beliau pulalah teman ngobrol saya waktu itu, bersama Bapak yang lagi asyik ngemong cucu.

“Mas, lha kenapa akhirnya justru menetap di rumah yang ini?” tanya saya tentang keputusan kakak saya yang justru memilih menetap di perkampungan (rumah mertuanya dulu) daripada rumah perumahan yang ia beli saat awal-awal pernikahannya.Read More »

Hanya Satu Permintaan

Masih ingatkah kita tentang kisah salah seorang sahabat bernama Rabi’ah Al-Aslami, sahabat yang termasuk dalam ashabus shuffah ini. Jadi jangan tanya lagi tentang betapa sederhananya kehidupan beliau. 

Suatu ketika beliau yang sedang bantu-bantu urusan di rumah Rasulullah, ditanya oleh baginda Nabi.

“Mintalah sesuatu dariku wahai Rabi’ah” kemudian Rabi’ah menjawab,

“Aku ingin menyertaimu di surga”Read More »

Sahabat dan Kesendirian

Sungguh, urusan jodoh hanyalah sepersekian nikmat Tuhan.

Begitulah komentar saya pada sebuah postingan dari seorang teman blogger di seberang sana. Saat berkomentar itu, saya tidak melakukannya dengan sembarangan alias sebatas sekedar berkomentar, bukan pula sebagai sebuah argumen pembenaran. Melainkan, hasil dari sebuah perenungan panjang, pemikiran mendalam, serta penghayatan akan arti kehidupan.  *halah*Read More »