Hutangku

Hari pertama di rumah. Bakda shalat Jumat.

Bapak meminta saya untuk buru-buru menghabiskan makan siang yang tinggal berapa suap lagi.

  “Cepetan, keburu hujan”

Siang itu,  kami berdua berencana berkunjung ke rumah Simbah yang jaraknya sekitar 15 km dari rumah.Read More »

Hanya Satu Permintaan

Masih ingatkah kita tentang kisah salah seorang sahabat bernama Rabi’ah Al-Aslami, sahabat yang termasuk dalam ashabus shuffah ini. Jadi jangan tanya lagi tentang betapa sederhananya kehidupan beliau. 

Suatu ketika beliau yang sedang bantu-bantu urusan di rumah Rasulullah, ditanya oleh baginda Nabi.

“Mintalah sesuatu dariku wahai Rabi’ah” kemudian Rabi’ah menjawab,

“Aku ingin menyertaimu di surga”Read More »

Sahabat dan Kesendirian

Sungguh, urusan jodoh hanyalah sepersekian nikmat Tuhan.

Begitulah komentar saya pada sebuah postingan dari seorang teman blogger di seberang sana. Saat berkomentar itu, saya tidak melakukannya dengan sembarangan alias sebatas sekedar berkomentar, bukan pula sebagai sebuah argumen pembenaran. Melainkan, hasil dari sebuah perenungan panjang, pemikiran mendalam, serta penghayatan akan arti kehidupan.  *halah*Read More »

Pelajaran dari Menunggu Bus

Pelajaran hidup ke-empat belas.

Sejak hijrah dari Jogja ke Jakarta yang kemudian lanjut pindah ke Turki, perlahan saya menjelma menjadi manusia yang lebih berkelas. Bagaimana tidak? yang awalnya sekedar anak motor, kini menjelma menjadi anak mobil. Dari sekedar beroda dua naik kelas menjadi roda banyak. Hebatnya lagi, tiap hari bisa gonta-ganti merek. Dari merci hingga lamborgini suzuki, bebas pilih. Dan lagi, kini tak perlu repot-repot nyetir. Sopir pribadi pun bebas pilih setiap harinya. Udah macam pejabat yang lagi kunjungan kerja lengkap dengan voorijder yang meriung-riung. Tinggal duduk manis, wuuus sampai tujuan.

Berkelas. Yup, bagi saya begitu. Manusia angkot, angkoters atau orang-orang yang tiap harinya mengandalkan publik transportasi lebih berkelas ketimbang manusia lainnya. Mereka ini hanya setingkat lebih rendah dari kaum pejalan kaki.Read More »

Suryakanta

Pelajaran hidup ketigabelas.

membuat-kaca-pembesar-dari-bola-lampu-1

Mari kita ingat-ingat memori masa kecil kita dulu, masa yang dipenuhi kebahagian dan pelajaran hidup. Kalaupun ada tangis paling cuma mampir sebentar, selebihnya kita tertawa riang menikmati kehidupan.

Kala itu, guru kami pernah mengajarkan secara interaktif tentang macam-macam lensa, kegunaannya, juga prinsip kerjanya. Sederhana, tapi terus terpatri dalam memori kami kala itu. Bahkan, saking tidak tahu dimana belinya lensa suryakanta (cembung), kami akhirnya memodifikasi bolam lampu yang diisi air bening untuk membuktikan bahwa lensa tersebut mampu untuk membakar sejumput kapas dari hasil konvergensi cahaya matahari. Dan itu berhasil!Read More »