Menunggu Ragu

Aku tahu.
Tak ada yang lebih lelah, kecuali menunggu.
Tak ada yang lebih membosankan, selain termangu.

Namun, adakalanya sebab membuat hal itu semua.
Kita tidak pernah tau apa yang akan datang,
tak mampu menebak akan masa depan,
di balik semua ketidakpastian.

Jika sebuah penantian membuatmu ragu, maka tinggalkanlah.
Karena itu, jauh lebih baik untuk dirimu.

Hapus semua ragu yang semakin menganggu.
Lekas isi semua ruang dan waktumu.

Dan aku tahu.
Itu tidaklah mudah.
Karena kenyataanya,  kita hanya akan saling menunggu.

1

 

 

Baling-baling Menantang Hilal

Sungguh elok sore kemarin. Jalan sebentar keliling kampus. Bersama lalu lalang mahasiswa yang baru keluar dari lab atau menuju perpus. Disuguhkan karya Tuhan yang aduhai. Yang hanya datang dua kali sebulan. Hilal, begitu orang Turki menyebut, atau bulan sabit orang kita menyahut. Tanda mulainya bulan baru di tahun yang baru.

Di antara bulan yang sedikit. Menatap gagah baling-baling tiga kisi. Transformer sang bayu untuk nyala lilin tanpa polusi. Solusi terbaik untuk dunia yang layak huni. Lalu kuambil kamera yang kian lama teronggok di lemari. Yang selama ini tanpa pernah kujamah sesekali.

Adalah aku yang sekali lagi kagum dengan negeri satu ini. Mereka sadar, tak banyak minyak, gas, dan batubara untuk digali. Kalaupun ada untuk disimpan pada saat-saat genting nanti. Saat dunia makin haus akan energi, tapi suplai tak memadai.

Adalah aku yang hanya bisa bermimpi. Mengubah deretan bukit seribu, membentang dari Semanu hingga pantai Srau, menjadinya ladang besar dari sang bayu. Daripada surga semalam dari tambang kapur, yang bakal habis sebelum kita punya anak-cucu.

Ah, sayangnya aku hanya bisa bermimpi… mimpi yang entah kapan akan terbeli.

wind

Klik gambar untuk melihat hilal lebih jelas.

 

Saujana Smyrna

Datang tiga orang kawan,
dua dari tanah Jakarta, satu dari negeri sakura.
Bertandang demi sahabatnya di negeri dua benua.

Hei kawan! hendak kau bawa kami kemana di dalam kelana?
Ku ajak kalian melihat, cara orang sini menikmati senja.

Adalah Kadifekale namanya, benteng tangguh pada jamannya.
Bertugas melindungi kota Symirna di bawahnya.
Kota paling ujung dari jalur sutra,
sebelum dibawa permadani menyebrang ke Roma.

Hei kawan!, beginilah cara kami menikmat senja.
Diantara, kirana sang surya yang hangat bersahaja.
Ada, saujana membentang ketengah samudra.
Diantara, dersik sang bayu mengalun harmoni.
Ada, sayup burung camar mengiringi.

Sungguh indah terasa kawan,
Tapi entah mengapa,
justru rindu, yang kurasa di balik senja termaram ini.

Ah, kalian ini. 
Baru berapa jam kalian di sini.
Tampaknya tak siap kalian berkelana.

Lihat aku disini, sudah lewat banyak purnama,
Hingga ku lupa apa kata rangga kepada cinta.

Hahaha,

Malah nyengir sambil tertawa.
Sebenarnya, kalian jauh-jauh kesini untuk berkelana,
atau hanya untuk mengejeku,
mengingatkan ku pada rindu yang sudah lama kubelenggu?

Hahaha,

Lagi-lagi kalian tertawa.

Penikmat Senja,
Smyrna, 14.10.15

Puisi dan Foto tentang senja lainnya, ada di Di Ankara Senja.