Di Ankara Senja

senja
ku menatapmu seperti aku menikmati secangkir kopi
dalam kebersahajaanmu ketemukan ketenangan, meskipun hanya sebentar
perlu secangkir baru untuk menikmatimu kembali
tak sedap jika sisa menjadi menu utama

senja
kau tanda anak-anak ayam kembali ke peraduan
tanda alam atas siklus kehidupan
batas antar hiruk-pikuk dengan tenang kedamaian
menenangkan

senja
meski berkas cahyamu menghadirkan bayang menghitam
tapi ku selalu menanti hadirmu
karena kau adalah ujung dua dunia
antara realita yang kejam dan dunia mimpi penuh pengharapan
antara jejak yang letih dan pemberhentian yang membangkitkan

senja
akankah kau menjumpaiku esok hari?

Ankara, 14-02-15

Advertisements

Ketika Gereja Mengamuk Mushala

Hari-hari kemarin kau begitu lantang,
berteriak menuntut toleransi.
Membela mereka yang merasa paling didzalimi,
padahal salahnya sendiri
syarat-syarat yang tak terpenuhi.

Hari-hari kemarin kau gagah berani,
lantang suara sok-sok jadi pembela,
merasa paling benar di muka dunia.
Koar-koar kalau bangsa ini miskin toleransi,
padahal di negeri Eropa sana,
satu mushala harus dengan referendum seluruh negeri.

Hari-hari kemarin kau bak pendekar toleransi,
menyumpahi kaummu sendiri,
menuduh yang berbeda denganmu sebagai wahabi.
Kini perilakumu tak ubahnya orang lupa jati diri,
setelah mushala terbakar api,
kau justru menyuruh kami jangan sampai diambil hati,
bahkan menyalahkan speaker idul fitri.

Dan hari ini, ketika gereja mengamuk mushala,
mushala sederhana,
habis tak tersisa termakan bara.
Kau; Ulil, Ade, Misrawi,
dan orang-orang sejenismu di negeri ini,
dalam ketiak siapa lagi kau akan terus bersembunyi?

Gülbahçe, 7/18/2015.

munafik1

Pemberontakan Sesiung Bawang

bak pemberontakan sesiung bawang
pemuda dimana bertemunya asa
sambung cerita mereka yang sudah tua
penopang yang kini kian renta

bak pemberontakan sesiung bawang
merekalah peneriak suara-suara
memaksanya diam artinya bencana
membungkus dengan kebohongan adalah sia-sia

bak pemberontakan sesiung bawang
jika ia terbelenggu oleh rantai tiran
dan atau dikekang oleh kedzaliman
maka pada saatnya
mereka akan Melawan!

25 Maret 2015
di Kampung Taman Bunga Mawar

Pemberontakan Sesiung Bawang
Pemberontakan Sesiung Bawang

Wanita dan Air

Drop of water
Wanita dan Air

Wanita itu seperti air, hadirnya membawa kelegaan

hilangnya akan mengeringkan

dalam inginnya ia selalu bergerak

namun kebanyakan mereka malu-malu

***

yang malu-malu itulah namanya air tergenang

ada yang tergenang di kubangan

terperangkap di botol

atau terjebak di bak-bak kosong

***

mereka hanya bisa menanti

berharap ada makhluk yang bertangan baik membantunya keluar

menghirup udara segar dan berharap bisa memberi manfaat

tapi kau tau tidak, kalau air yang lama menggenang itu tak lagi baik

nasib paling mujur ialah untuk menyirami bebunga

yang menyebalkan adalah untuk cuci mobil

bermanfaat bentar lalu dibiarkan bersama comberan

***

selalu ada yang tidak pernah berubah dari air

jika ia dimasukkan kedalam botol

bentuknya berubah mengikuti

jika ia didekatkan api

berubahlah suhu bahkan wujudnya

***

sifat air tergantung dengan siapa ia membawa nama

yang beracun, namanya air racun

yang manis, namanya air madu

yang asin, namanya air laut

yang sedih, disebutlah air mata

***

hei air,

pilih-pilihlah kau membawa nama belakang

dan juga hati-hatilah kau dekat-dekat sesuatu

namun, satu hal yang perlu kau tau

jangan malu-malu kau

mendekatiku



dariku
Madu

Ilustrasi gambar dari sini

Melacur Tahta

Taman Bunga, 7-8-2014.

menangis darah sang semesta
deras mengalir ke ujung samudra
bersorak berebut kuasa
jadi korban anak-anak tak berdosa

begitu menggoda
duduk diatas singgasana
begitu terlena
atas nikmat dunia

berfatwa pada diri
bahwa jalannya adalah satu-satunya
nasehat kaum tua tak berarti apa
menusuk duri
pada luka yang menganga