“Sekolah Munafik” Masuk Neraka

Sustainable Hopes

Negara ini bukan negara yang baru jadi. Negara ini punya sejarah panjang. Penuh kebanggan juga penuh kepiluan, yang selalu menghinggapi sepanjang jalan menuju kebangkitan. Negara ini bukanlah negara kecil. Bayangkan lebih dari 17.000 pulau yang terhampar 230 juta manusia yang menyesakinya. Masih kurang apa di negeri ini. Semua tersedia. Hanya salah kelola, itu saja tidak kurang tidak lebih.

Seorang Einstein pun bertanya tentang negeri ini.

“Tolong ceritakan tentang negerimu, adakah orang pintar disana?” menelan ludah aku menjawabnya.

“Hai goblok! pertanyaan seperti itu saja tidak bisa kau jawab” nada seorang Einstein mulai meninggi, dengan menarik kencang urat-urat lehernya. Menjadikannya semakin menakutkan. Perpaduan rambut yang sudah tidak pernah tersentuh sisir dengan urat leher yang keluar. Aku tergidik melihatnya. Takut dan ‘lupa’ untuk menjawabnya.

“Hei dengar tidak kamu!?” terpaksa akupun menjawab.

” Banyak sekali tuan”

Aku tidak berbohong karena itu benar-benar terjadi. Jika kamu tidak percaya berarti kamu sedang mabuk hari ini. Ya…

View original post 415 more words

Beberapa Kegiatan Harian Pelajar Indonesia di Turki

Naelil The Climber

Kita semua telah mendengar kabar hilangnya 16 warga Indonesia di Turki secara misterius beberapa waktu yang lalu. Tidak lama setelah kabar tersebut ramai menghiasi koran, terdapat berita baru yang menyatakan keterlibatan baik pasif maupun aktif PPI Turki (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Turki) dalam membantu warga Indonesia bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Bahkan mencuat kabar bahwa beberapa di antara kami ingin/sedang mencoba masuk ke dalam ISIS.

Sebelum saya utarakan mengenai kegiatan kami, para pelajar Indonesia di Turki, marilah menyimak press realease PPI Turki tentang kondisi terkini pelajar Indonesia di Turki yang saya kutip dari http://www.pkspiyungan.org sebagai berikut :

Sehubungan dengan fenomena dan isu terkait Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang sedang berkembang di berbagai media, kami

View original post 1,402 more words

Jika Suamimu Seorang Engineer

Sustainable Hopes

Sumber foto (www.uniguru.co.in) Sumber foto (www.uniguru.co.in)

Terbayangkah engkau bertemu seorang engineer dan dialah aku pilihan hatimu. Maka, mungkin dan sangat mungkin engkau akan menyaksikan aku terlalu rasional dalam setiap persoalan. Sering dan mungkin akan sangat sering kau menjumpai aku memilih dan memutuskan sesuatu berdasar efisien apa tidak, bukan pada nyaman apa tidak nyaman. Karena aku berkeyakinan kenyamanan adalah sesuatu yang bisa diupayakan belakangan.

Terbayangkah engkau bertemu seorang engineer dan dialah aku pendamping hidupmu. Maka, kau akan menyaksikan bahwa aku akan sangat jarang di rumah. Aktivitasku adalah di luar sana. Karena aku menyukai petualangan. Menginginkan hal berbeda dalam setiap keadaan. Hal monoton seringkali membuatku bosan. Tapi tenanglah, aku tidak akan bosan dengan apa-apa yang menjadi passion-ku dengan apa-apa yang menjadi prinsip dan pilihan hidupku. Termasuk saat aku sudah memilih pasangan hidupku.

Terbayangkah engkau bertemu seorang engineer dan dialah aku kekasih hatimu. Maka boleh jadi kau akan menganggapku aku terlalu menyepelekan setiap masalah. Tapi…

View original post 263 more words

Teori Nasi Goreng

Sketsa Umar Kayam

nasi gorengPADA hari Minggu kemarin tiba-tiba saya kangen masak nasi goreng sendiri. Sudah sangat lama saya tidak masak nasi goreng. Dulu reputasi saya masak nasi goreng lumayan tingginya. Dimulai dengan setengah memaksa setengah mengancam anak-anak saya untuk serempak mengatakan bahwa masakan nasi goreng bapaknya luar biasa enak, keahlian memasak nasi goreng itu lama kelamaan saya kuasai juga.

Anak-anak, istri dan pembantu rumah, tanpa ancaman tanpa intimidasi mulai memuji nasi goreng saya sebagai “enak dan unik”. Bahkan mereka mulai kepingin tahu resep nasi goreng ala Ageng itu. Dengan senyum misterius saya katakan bahwa itu adalah rahasia seorang chef. Tidak ada seorang chef termahsyur dari restoran terkenal mau mengobral resepnya, kataku dengan genting.

“Tapi Bapak kan bukan chef. Paling cuma koki amatiran,” protes si mBak.

“Dan rumah ini juga bukan restoran, Be. Ini rumah kita bersama, Be. Nggak ada rahasia-rahasiaan itu, Be,” sambung si Gendut.

Saya semangkin jual mahal tidak…

View original post 695 more words