Teori Nasi Goreng

Sketsa Umar Kayam

nasi gorengPADA hari Minggu kemarin tiba-tiba saya kangen masak nasi goreng sendiri. Sudah sangat lama saya tidak masak nasi goreng. Dulu reputasi saya masak nasi goreng lumayan tingginya. Dimulai dengan setengah memaksa setengah mengancam anak-anak saya untuk serempak mengatakan bahwa masakan nasi goreng bapaknya luar biasa enak, keahlian memasak nasi goreng itu lama kelamaan saya kuasai juga.

Anak-anak, istri dan pembantu rumah, tanpa ancaman tanpa intimidasi mulai memuji nasi goreng saya sebagai “enak dan unik”. Bahkan mereka mulai kepingin tahu resep nasi goreng ala Ageng itu. Dengan senyum misterius saya katakan bahwa itu adalah rahasia seorang chef. Tidak ada seorang chef termahsyur dari restoran terkenal mau mengobral resepnya, kataku dengan genting.

“Tapi Bapak kan bukan chef. Paling cuma koki amatiran,” protes si mBak.

“Dan rumah ini juga bukan restoran, Be. Ini rumah kita bersama, Be. Nggak ada rahasia-rahasiaan itu, Be,” sambung si Gendut.

Saya semangkin jual mahal tidak…

View original post 695 more words

BBM Naik Dan Tahunnya Panas Bumi

geopower

Tadi pagi saya membaca sebuah artikel di Kompasiana tentang revisi UU No. 27 tahun 2003 tentang Panas Bumi. Di penghujung periodenya kali ini, DPR membuat trobosan yang luarbiasa dibidang ketahanan akan energi. Untuk ini sepenuhnya applause saya sampaikan kepada bapak-bapak di senayan. Revisi terhadap UU ini memang benar-benar memberikan angin segar di tengah-tengah isu kenaikan BBM. Bisa dikatakan tahun 2014 adalah tahun kebangkitan dari pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia.

Kenaikan harga BBM sudah menjadi hal lumrah setiap pergantian kekuasaan. Diluar motif politik dan rakusnya atas uang (penyelenggara negara maupun pengusaha), Indonesia memang sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan BBM sendiri. 700 ribu barel dari 1.5 juta barel kebutuhan BBM adalah hasil impor. Jika dikonversikan dalam anggaran tahunan, negara menanggung anggaran sangat besar yaitu Rp. 282.1 triliun (data  tahun 2013), setara seperenam ABPN. Namun sayangnya, anggaran sebesar itu tidak terlalu efektif dalam usaha pengentasan kemiskinan lebih banyak penyimpangan dan salah sasaran.

Maka solusi yang mudah (secara teknis) adalah mencabut subsidi BBM ini, lalu dialihkan kepada sektor-sektor yang lebih produktif seperti pertanian (termasuk perikanan) dan industri manufaktur (yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar). Akan tetapi solusi ini tidaklah mudah, banyak pihak yang mempunyai kepentingan (politik maupun rakus akan uang) tidak setuju dengan ini. 

Baiklah seandainya subsidi BBM tidak dicabut, lantas apa solusinya? Pertama. Seperti yang sudah saya singgung di awal, hadirnya angin segar berupa revisi UU No.27 tahun 2003 tentang Panas Bumi ini, maka ke depannya usaha eksplorasi sumber panas bumi akan semakin dipermudah. Sehingga diharapkan ekplorasi besar-besaran akan terjadi. Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, mencapai angka 40% atau mencapai 29 GW. Akan tetapi, baru 1.9 GW yang sudah dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhan energi nasional, kalah dengan negara Filipina maupun Islandia yang notabene tidak memiliki sumber panas bumi sebanyak Indonesia. Kedua. Tambah dan percepat pembangunan kilang minyak di Indonesia. Kita secara produksi minyak mentah sebenarnya lebih dari cukup, akan tetapi kapasitas kilang kita hanya mencukupi 800 ribu barel saja. Jadi dengan hadirnya kilang-kilang yang baru seperti di Papua, Nusa Tenggara dan Sumatera maka tidak akan terjadi kelangkaan dan pemborosan anggaran seperti sekarang ini. Ketiga. Bangun dan perbanyak pembangkit-pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan, seperti angin, solar, biodisel dan nuklir. Untuk produksi listrik sekala besar PLTN adalah solusinya. Kita memiliki sumber daya bahan bakar nuklir yang sangat besar. Kandungan uranium di Kalimantan Barat dan torium di Bangka Belitung sangat besar bahkan terbesar di dunia. Sehingga dengan pemanfaatan teknologi breeding reactor memungkinkan kita terhindar dari krisis energi ratusan tahun yang akan datang.

Solusi yang sudah saya sebutkan diatas adalah solusi jangka panjang dan mahal (baik secara ekonomis maupun politik). Sebenarnya ada jalan keluar (jalan menghindar) dari permasalahan ini. Mengapa saya katan jalan menghindar, karena dengan solusi yang akan saya sebutkan nanti, kita hanya sekedar menghindari masalah dengan tanpa menyelesaikan masalah itu sendiri. Sehingga ketika masalah itu tiba-tiba datang, maka siklusnya akan kembali berulang seperti yang sudah-sudah selama ini. Pertama, dengan menaikkan harga BBM. Dengan ini maka, APBN kita tidak terbebani secara langsung. Namun, solusi ini akan berdampak pada kesiapan masyarakat terhadap kenaikan-kenaikan harga pokok yang mengiringinya. Kedua, mengalihkan anggaran lain untuk menambal anggaran subsidi energi. Dan yang ketiga, tambah pinjaman luar negeri.

Tidak ada solusi yang menyenangkan segala pihak, jika kita menginginkan negara ini bisa bertahan lebih lama lagi. Pemerintah harus berani mengambil keputusan-keputusan strategis dan jangka panjang, serta harus bersih dan transparan setiap pengelolaannya. Sedangkan rakyat, harus siap untuk mengurangi ketergantungan akan BBM. Mulai memanfaatkan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi dan melakukan penghematan dalam konsumsi energi sehari-hari. Kita bisa melakukan ini semua, jika kita mau.

BBM murah itu, hanya kenaikan yang tertunda. Soale kalau sekarang ngga naik, besok pasti naik.

sumber gambar ilustrasi dari sini

.

10 Photos of Beautiful Antelope Canyon, Navajo Park Arizona

Just Amazing!

Just-In-Time Travels

I’ve been to over 30 countries and seen a lot of pretty places, but Antelope Canyon in Arizona is still one of the most amazing place I’ve ever seen. It’s no wonder that it’s the most visited and most photographed slot canyon in the world.

Antelope Canyon is divided into 2 parts – Upper Canyon and Lower Canyon – on Navajo land, near Page Arizona. Upper Canyon is more popular location and where I visited. I arrived in late afternoon to capture the narrow formation of eroded sandstones. I was mesmerized by the shapes of the canyon, and the way the light bounced around from the canyon walls.

If you are ever even remotely close to Antelope Canyon, you will not regret a visit. I could have stayed there for hours taking pictures.

View original post

Menunggu Apa?

Menunggu
Menunggu

Jika menunggu adalah aktivitas yang paling kau benci, mengapa kau membiarkan ia menunggu. Duduk lama terpangu, sendiri menghadap senja. Membiarkanya tanpa kepastian. Membiarkanya menunggu yang tidak ada.

Menunggu apa? Bukannya kau lebih dari sekedar siap. Pendidikanmu tinggi, karirmu lancar, tabunganmu lebih dari cukup dan sementara adik-adikmu juga sudah besar. Mereka tidak lagi perlu perhatianmu, mereka sudah bisa mengurusi dirinya sendiri. Mereka hanya ingin melihat saat itu tiba. Melihat kakak tercintanya duduk di pelaminan.

Menunggu apa? Bukankah tidak ada lagi beban bagi orang tuamu. Bukankah sudah dikatakan bahwa uang pensiun mereka lebih dari cukup dan sudah tidak ada lagi tanggungan yang harus dibayarkan tiap bulan. Ayah-ibumu juga sudah berhaji bahkan lebih dari sekali. Keinginan mereka sudah banyak yang terpenuhi. Hanya tinggal satu yang paling dinanti, mereka ingin segera menimang cucu. Darimu.

Menunggu apa? Bukankah kalian sudah saling mengirim sinyal. Setiap sikapmu terhadapnya, tutur bahasamu saat berbicara padanya dan caramu memanggilnya adalah sinyal bahwa dia ujung dari pencarianmu selama ini. Dan bukankah juga ia sudah memberikan jawaban kepadamu. Jawaban yang jelas dan tanpa ragu. Bahwa menurutnya kaulah satu-satunya yang patut jadi imam baginya kelak. Yang bisa diajak mengarungi samudera hingga ke surga.

Menunggu apa? Bukankah orang tuanya juga sudah setuju saat kau datang sore hari hujan-hujanan ke rumahnya. Mereka bahkan menyambutmu dengan bahagia. Mereka menganggapmu sudah seperti keluarga sendiri. Menyiapkanmu teh hangat dan tempe mendoan kesukaanmu. Dan bahkan, orang tuamu juga pernah kau ajak ke rumahnya di lain waktu. Mengenalkan silsilah keluarganya kepada orang tuamu dan begitu juga sebaliknya.

Menunggu apa? Apakah ada orang lain selain dirinya. Orang lain yang kau sembunyikan selama ini. Yang tidak seorangpun kau biarkan tau. Yang masih mengganjal di hatimu selama ini. Yang karenanya kau ragu membuat keputusan. Yang karenanya kau takut untuk menentukan pilihan.

Menunggu apa?

….

….

….

….

“Menunggu undangan jadi” Jawabku.

*ilustrasi dari sini