Berlaku Adil

Bila muncul sebuah pertanyaan.

“Apa yang paling engkau takutkan ketika kelak kau jadi pemimpin?”

Maka jawaban saya cukup singkat,

Tidak berlaku ADIL

Jadi bukan takut karena kehilangan jabatan atau dicabutnya kepimpinan oleh sebab alami atau sebab kalah dalam persaingan, namun karena tidak mampu berlaku adil.

Dan itu paten yang selalu berlaku hingga sekarang. Artinya, dalam setiap kesempatan yang ndilalah saya disebut sebagai pemimpin (apapun levelnya), maka adil adalah key performance index saya. Gagal dalam hal ini, tidak ada artinya keberhasilan-keberhasilan yang pernah dicapai selama priode kepemimpinan.

Dan malam tadi, saya merasa gagal. Yaitu, ketika yang saya takutkan ini muncul.

Yang pada akhirnya, membuat saya tidak bisa tidur. Gelisah. Merasa bersalah tentunya.

Diawali dengan membaca pesan pribadi dari seorang salah satu staff saya, sebut saja si-A. Ia merasa ada perbedaan sikap saya terhadap salah satu staff yang lain, sebut saja si-B.

Bentar, jangan mikir macam-macam dulu, staff di departemen saya isinya laki-laki semua. Dan mereka adalah laki-laki tulen yang telah berkeluarga, saya saja yang belum. #MendadakSyedih. Jadi, please stop mikir macem-macem. Haha

Baiklah mari kita kembali ke jalan yang benar. Dan berbahagia.

Padahal, saya sendiri sudah berusaha sebaik mungkin. Seadil mungkin. Saya berusaha respect untuk memenuhi keinginan semua staff dalam hal pola kerja, terutama dalam hal jam lembur.

Di departemen saya ini memang unik. Ketika di departemen lain itu para staff itu bergembira jika ada lembur, tetapi di tempat saya justru sebaliknya. Maka dari itu, dibuatlah lembur secara bergilir untuk tetap bisa mencapai target yang diinginkan. Dengan excuses berdasarkan situasi dan kondisi para staff sendiri.

Dan ternyata, excuses inilah yang dinilai kurang adil menurut mereka.

Selama Ramadhan ini, si-B sanggup lembur hanya sampai jam 17.30 (short shift, tanpa tambahan uang makan). Saya tidak bertanya alasannya, tapi saya memahami karena dia baru saja jadi seorang ayah (istrinya belum lama ini melahirkan). Jadi, alasannya tidak akan jauh-jauh dari itu. Sedangkan staff lain sanggup sampai 18.30 (long shift, dengan tambahan uang makan)

Dari sini, belum ada masalah awalnya. Baru muncul masalah, ketika pihak keuangan ternyata tetap memberikan uang makan ke si-B yang notabene short shift. Terbitlah iri dimata staff yang lain.

Yang alhamdulillahnya, perasaan itu *halah* langsung terdeliver ke saya cepat. Artinya, para staff yang merasa diperlakukan ‘tidak adil’ ini cepat-cepat bertabayyun ke saya sebelum badai besar menghadang jika tak kunjung terselesaikan.

Somehow, it’s happened. And that is a big mistake. I do accept that.

Tugas saya besok, harus cepat-cepat menyelesaikan hal ini.

***

Kemudian,

Saya berfikir sekaligus bertanya-tanya.

Apa yang terjadi dengan para pemimpin-pemimpin besar kita di luar sana yang hingga saat ini susah berlaku adil?

Apakah mereka mengalami gejolak jiwa yang sama dengan yang saya alami?

Apakah ketidakadilannya dalam memimpin (dalam kebijakan dan hukum) membuat mereka tidak bisa tidur dan gelisah?

Dan apakah kita sudah bisa berlaku adil dalam berkehidupan sekarang ini?

Sudahkah kita berlaku adil dalam mencerna berita lalu kemudian beropini?

Sudahkah kita adil dengan orang-orang sekitar kita?

Lalu, sudahkah kita adil dengan diri kita sendiri?

Mari kita kumpulkan jawaban-jawaban itu. Karena itu koentji.

***

Jadi apa ibroh yang bisa kita ambil dari tulisan ini?

Yak! adil itu bukan hanya milik seseorang yang ingin berpoligami, tapi syarat wajib bagi kita yang masih mau hidup di dunia ini.

Karena hukumnya jelas, gak bisa adil yang gak usah poligami. Pun gak bisa adil dalam hidup ya gak usah hidup. 

Udah, itu saja.

Salam!

Bye!

Pelajaran Hidup No. 20

Cikarang, 14 June 2017 jam 01.12.

 timbangan-hukum

 source pict: annisawally0208 (dot) blogspot (dot) com