Pelajaran Hidup : Ingatkanlah Ia!

Tadi. Selepas makan siang, saya mampir ke sebuah gerai minimarket tak jauh dari kantor. Seperti biasa, ambil barang yang saya inginkan kemudian bayar.

“totalnya tujuh belas ribu ….. pak” kata mbak kasir, kepada saya yang tengah sibuk lihat notifikasi hape.

“ini mbak” sembari memberikan uang pas senilai tujuh belas ribu rupiah yang kemudian dia tukar dengan struk dan barang belajaan saya. Sekilas tidak ada yang aneh.

Saya kemudian lekas menuju arah pintu keluar. Kira-kira selangkah sebelum pintu, saya merasa ada yang mengganjal.

“mbak tadi habis berapa ya?”

“tujuh belas ribu tujuh ratus pak”

“berarti saya kurang tujuh ratus dong. kok ngga ditegur sih mbak” bukannya menjawab, mbaknya malah semakin kikuk padahal jelas saya yang salah dalam hal ini.

….

Dulu, di seputaran tahun 2012 awal-awal studi di Turki. Pernah membuat semacam genk dengan beberapa mahasiswa lain di sana. Kegiatan dari genk ini bukan untuk nongkrong-nongkrong minum cay di jembatan Eminonu atau kumpul-kumpul di depan Grand Bazar sambil nyuitin cewek-cewek Turki. Jelas bukan. Cuma ngadain pengajian online pekanan. Dengan pembicara para asatidz yang kami kenal baik dari Indonesia maupun belahan bumi lainnya. Dan dari kegiatan kami itu, menginspirasi pengajian-pengajian online lain yang diadakan rutin oleh genk-genk lainnya. Yah, makin banyak genk justru semakin baik. Yang penting produktif dan dalam kebaikan.

Akan tetapi dalam perjalanan. Genk saya ini terlibat pertikaian dengan salah satu genk. Pertikian personal yang merembet ke fitnah lembaga dan seterusnya. Usut punya usut. Pemicunya adalah percikan dari salah seorang genk saya yang menyulut minyak mereka. Isu yang cukup sensitif bagi mereka tapi sangat prinsipil bagi temen saya. Kemudian saya menegur temen saya.

“kang, semangat antum ber nahi mungkar kayaknya perlu direm dulu deh. kita fokus ber amar makruf aja di sini. kan ngga enak, masak jauh-jauh dari kampung malah mancing keributan”

“ndak bisa. salah ya tetep salah”

……

Saya adalah pengamal NU sedari kecil alias NU kultural yang kemudian tumbuh bersama kawan-kawan gerakan dari berbagai elemen selama di Jogja. Tentu terbiasa untuk nyantai dalam hal-hal tertentu. Terbiasa yang moderat-moderat hangat tapi ndak sampai liberal bebal. Gas poll kenceng ayo, alon-alon ya monggo bisa diatur. Tentu, saya kurang sreg dengan metode dakwah temen saya itu. Seperti kurang sregnya gaya dakwahnya ormas agama yang dilarang belum lama ini. Meskipun saya menyayangkan kenapa pula sampai dilarang bahkan dituduh macam-macam. Bahkan pimpinannya sampai sekarang pun juga terpenjara dengan sangkaan yang jelas berstandard ganda. Dalam hal ini, semoga Allah segara tunjukkan keadilan.

…….

Kalau seandainya di cerita pertama, saya tidak eling dengan sendirinya ditambah mbak-mbaknya juga tidak mengingatkan. Tentu, perbuatan saya -kurang bayar belanjaan- akan membawa sebuah kemudhorotan baru. Dari si-mbaknya yang kena tegur atasan bahkan sampai nombok secara finansial. Barang yang saya belipun menjadi samar-samar halal-haramnya.

Kemudian saya berfikir. Terkadang, saat kita atau kawan kita berbuat salah belum tentu ada unsur kesengajaan di sana. Kita ini manusia. Boleh jadi, sebab hal: alpa, lupa, dan ketidaktahuaanlah yang menjerumuskan kita kejurang kemungkaran. Tanpa sadar.

Maka, mari kita bersyukur. Apabila ada dari kawan kita yang mulutnya cerewet lagi pedes mampus. Yang rela buang-buang energi untuk mengingatkan kita. Yang berani mengatakan tidak ya tidak. Tidak main aman dengan diam. Bahkan ngumpet di belakang. Mari kita syukuri hal itu. Karena barangkali, pintu surga kita nanti melewati pintu-pintu mereka itu.

Teringat sebuah hadist:

Perumpamaan pelaksana hukum Allah (mengingkari kemungkaran) dan melanggarnya (orang yang terjerumus dalam kemungkaran), bagaikan sekelompok orang yang melakukan undian (untuk menentukan tempat yang akan ditempati) pada sebuah kapal. Sebagian mereka mendapat tempat pada bagian atas, dan sebagian yang lain pada bagian bawah. Orang-orang yang menempati bagian bawah, ketika ingin mengambil air, harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas. Lalu mereka berpendapat, kalaulah kita melubangi yang bagian kita satu lubang, tentu kita tidak akan merepotkan orang-orang yang berada di bagian atas. Jika mereka membiarkan orang-orang itu melakukan apa yang mereka inginkan, mereka akan celaka semuanya. Dan jika dapat menghentikan mereka, mereka akan selamat, dan selamat semuanya. (HR. Bukhari)

Pelajaran Hidup No. 23

Hanya Satu Permintaan

Masih ingatkah kita tentang kisah salah seorang sahabat bernama Rabi’ah Al-Aslami, sahabat yang termasuk dalam ashabus shuffah ini. Jadi jangan tanya lagi tentang betapa sederhananya kehidupan beliau. 

Suatu ketika beliau yang sedang bantu-bantu urusan di rumah Rasulullah, ditanya oleh baginda Nabi.

“Mintalah sesuatu dariku wahai Rabi’ah” kemudian Rabi’ah menjawab,

“Aku ingin menyertaimu di surga”Read More »

Sahabat dan Kesendirian

Sungguh, urusan jodoh hanyalah sepersekian nikmat Tuhan.

Begitulah komentar saya pada sebuah postingan dari seorang teman blogger di seberang sana. Saat berkomentar itu, saya tidak melakukannya dengan sembarangan alias sebatas sekedar berkomentar, bukan pula sebagai sebuah argumen pembenaran. Melainkan, hasil dari sebuah perenungan panjang, pemikiran mendalam, serta penghayatan akan arti kehidupan.  *halah*Read More »

Pelajaran dari Menunggu Bus

Pelajaran hidup ke-empat belas.

Sejak hijrah dari Jogja ke Jakarta yang kemudian lanjut pindah ke Turki, perlahan saya menjelma menjadi manusia yang lebih berkelas. Bagaimana tidak? yang awalnya sekedar anak motor, kini menjelma menjadi anak mobil. Dari sekedar beroda dua naik kelas menjadi roda banyak. Hebatnya lagi, tiap hari bisa gonta-ganti merek. Dari merci hingga lamborgini suzuki, bebas pilih. Dan lagi, kini tak perlu repot-repot nyetir. Sopir pribadi pun bebas pilih setiap harinya. Udah macam pejabat yang lagi kunjungan kerja lengkap dengan voorijder yang meriung-riung. Tinggal duduk manis, wuuus sampai tujuan.

Berkelas. Yup, bagi saya begitu. Manusia angkot, angkoters atau orang-orang yang tiap harinya mengandalkan publik transportasi lebih berkelas ketimbang manusia lainnya. Mereka ini hanya setingkat lebih rendah dari kaum pejalan kaki.Read More »

Ditampar Bocah

Ada kalanya hidup itu butuh sebuah tamparan, sekalipun dari mereka yang bertangan mungil. 

Siang itu, kami kedatangan sahabat-sahabat dari luar kota. Bersama mereka, dibawa pulalah isteri/suami beserta anak-anaknya. Yang awalnya diperkira hanya belasan ternyata membengkak sampai dua puluhan. Hari itu, dibawah rindang pepohon pinus dan angin sepoi hangat musim panas, kami bercengkrama melepas rindu dengan piknik musim panas.

Suasana pada saat itu, memang layaknya seperti sebuah piknik keluarga. Ada canda-tawa, obrolan ringan, dan tentu rendang khas Padang sebagai pelengkapnya. Melihat suasana itu, saya cukup menangis dipojokan. Ngga ding, saya menjelma menjadi tukang foto beraneka kebahagian siang itu.Read More »