Si-Manis Sang Pengobat Rindu

Masih ingat cerita saya tentang tamu yang datang malam-malam minta makan itu. Udah datang malam-malam, minta makan lagi dan eh ditambah numpang tidur. Hari ini adalah hari ke 25 si-Manis (nama kucing itu) resmi numpang di kamar saya.  Tak sekedar numpang tidur, juga numpang makan, numpang garut-garut kuku, numpang mainan tali sepatu dan yang pasti dia tidak numpang mandi dan pup, kalo ritual dua terakhir ini saya menganjurkannya untuk usaha nyari tempat strategis sendiri. Emoh saya berbagi.

DSC_4959

Tentang si-Manis. Saya tidak tahu dia datang dari mana dan bapaknya siapa, lagi pula dia tidak bawa dokumen tentangnya sedikitpun. Kamu pikir?

Semenjak dia jadi penduduk resmi sektor A4-2 (dibaca: blok A rumah no 4 kamar ke 2) saya mulai mengenalinya lebih dalam. Seperti jam berapa dia bangun, cara dia merayu dan makanan favoritnya. Seperti kucing jaman sekarang, dia sama sekali tidak ada nafsu untuk berburu. Pernah ada seekor burung kecil hinggap dekat jendala, si-Manis hanya berani undup-undup tanpa berani sedikitpun menggoyangkan ekornya. Yah, berhubung selera berburunya tidak ada maka satu-satunya sumber makanannya adalah saya, eh maksudnya dia ngarep-arep  makanan dari saya.

DSC_4966

Soal konflik. Seinget saya baru sekali. Saat itu saya sedang asyik bikin oseng-oseng kacang panjang plus sehelai daging kalkun. Baru asik-asiknya methili kacang panjang, daging kalkun saya disaut sama si-Manis tanpa bilang. Asem. Berhubung jengkel, spontan saya angkat kucing itu dan saya lempar dari balkon (tenang kamar saya di lantai dasar). Namun, beberapa puluh detik kemudian saya menyesal dengan apa yang saya lakukan. Namun ya itu, lha wong daging kalkun itu tidaklah murah, meski hanya secokot mahalnya minta ampun. Tapi yo wislah, what’s done is done!

Tentang makanan. Makanan favoritnya adalah sosis daging sapi. Satu minggu bisa habis satu kotak sedang seharga 40 ribuan. Tak selalu saya kasih sosis, kadang jika saya lagi makan dan dia sudah merengek-rengek sambil mengendus-enduskan kepalanya saya sisain sesuai porsinya. Ndilallah, dia itu tipe karnivora sejati. Nasi, ekmek atau makanan non daging lainnya sama sekali tak tersentuh. Sangat berbeda dengan kucing-kucing saya dulu di asrama sebelumnya. Yo wis cotho dobel.

DSC_4969

Satu lagi, tentang cara dia merayu. Entah gimana ya, saya itu begitu melihat ada gadis kucing bersih dan rupawan hati saya tiba-tiba langsung ter-sibghah begitu saja. Apa lagi, ketika kucing itu mulai menatap dengan tatapan penuh kasihan ditambah rengekan yang menyayat-nyayat tanpa berpikir sekali saya kasih yang saya punya, minimal dia dapat elusan hangat saya. Andai, kalau itu bukan kucing, tapi seorang gadis…. #eh Astaghfirullah, duh Gusti ampuni hamba yang bujang ini…

Pada akhirnya, dengan hadirnya si-Manis, saya punya tambahan object baru dimana saya bisa bershadaqah lebih, ‘mainan’ yang menghibur saat stress level 12 dengan project yang belum kelar dan pengobat hati bujangan yang suka merindu. Halah. Seperti kata pepatah, tak apalah bujangan, karena bujangan hanyalah menikah yang tertunda.

 

Advertisements

Tamu Tengah Malam

Terlena dengan liburan memang tidak menyenangkan. Deadline minggu kemarin tidak tercapai. Jadi meskipun ini adalah malam minggu aku harus tetap lembur, biar target untuk minggu depan bisa tercapai. Saat itu jam sudah menunjukkan 01.30 pagi. Rencananya aku tidak tidur sampai shubuh, begadang sampai pagi sekalian untuk sahur nyawal hari pertama.

Saat itu aku sedang sibuk dengan kerjaanku. Tiba-tiba ada yang datang. Masuk kamarku tanpa permisi. Lewat jendela. Katanya saat aku tanya bagaimana dia bisa masuk. Musim panas begini, jendela kamar memang selalu saya buka. Kadang pintu depan kubiarkan tanpa kukunci. Karena jika tidak, bisa-bisa aku jadi dendeng di kamar sempit tanpa AC ini.

“Oke, mau apa kesini tengah malam begini?”

“Saya cuma mampir bentar kok. Ingin ngobrol sebentar.”

“Tengah malam begini?” tanyaku heran.

Tanpa menjawab. Dia malah pura-pura lihat ke monitor komputerku. Pura-pura tanya ini itu. Aku biarkan saja. Aku kembali dengan komputerku. Lima belas menit berlalu. Namun, aku tidak tega, tamuku ini aku diamkan begitu saja.

“Kamu lapar? pengin ikut makan?” Tawarku pura-pura.

“Boleh” jawabnya cepat. Mati aku. Aku hanya punya mie sebungkus dan sepotong daging ayam dikulkas buat sahur malam ini. Baiklah tak apa, memulaikan tamu banyak faedahnya. Batinku menghibur diri.

Mie dan daging ayam baru saja aku rebus. Tapi herannya dia tak bisa sabaran sedikitpun. Berkali-kali dia bertanya udah matang apa belum. Kau pikir ini rumah kamu? dan aku pembantumu. Sabar. Sabar. Aku berusaha untuk mengontrol diri. Jujur, dia memang tampak menarik. Masih muda. Postur tubuhnya juga proporsional. Rambutnya hitam gelam. Hidungnya putih. Dan yang paling menarik darinya adalah bibi yang berwana merah jambu itu. Meski begitu, aku benci dengan sikap manja dan tidak sabarannya itu.

“Sudah matang. Ayo kita makan.” Ajakku. Aku bagi dua. Selain mie, aku kasih juga bebarapa potong kecil daging ayam di piringnya. Ia begitu lahap. Tanpa menunggu dingin. Tapi, kenapa kau tak makan mie-nya?. Cuma kamu pilah-pilah daging ayam yang tidak seberapa itu. Pikirku.

“Mas, aku minta ayamnya lagi dong…” Sedikit tidak rela, aku kasih juga daging ayam bagianku. Kasihan juga melihat wajah manja yang lagi memelas itu.

Sesudah makan, sembari menunggu adzan shubuh aku leyeh-leyeh dikasur. Tamuku itu ternyata ikut menyusulku. Awalnya menyentuh tanganku, lalu kemudian tidur di pundakku. Tak tau diri.

“Mas, boleh aku ngomong sesuatu” tanyanya tiba-tiba.

“Iya, ada apa?”

“Aku Manis mas…”

“Iya, aku tau” Jawabku spontan. Kau memang tampak manis, tapi sifat manjamu itu yang rasanya bikin kemanisan. Batinku.

“Jadi Mas tau, kalau aku ini Manis milikmu satu-satunya beberapa tahun yang lalu”.

“Hah? aku pernah memilikimu? kapan?” Sergapku. Memburu. Karena aku tidak pernah memilikinya. Berambut hitam, berhidung putih dan berbibir merah jambu ini.

“Aku memang sudah berubah. Tapi aku Manis yang dulu”

“Aku tak percaya. Memang bibir dan hidungmu mengingatkanku padanya, tapi Manis-ku yang dulu berambut blonde tidak hitam sepertimu”.

Dia berusaha meyakinkanku. Hingga kami terlelap begitu saja. Tak lama kemudian aku terbangun. Suara dengkurmu membangunkanku. Lantas, tiba-tiba aku merasa jika yang sedang mendengkur ini benar-benar Manis-ku yang dulu. Seolah-olah manis-ku yang dulu bereinkarnasi. Aku goyang-goyang pundaknya seraya membisikkan padanya.

“Manis, boleh aku jujur padamu?”

“Boleh…” mata birunya berbinar, begitu antusias.

“Aku sebenarnya dari dulu…… benci mendengar suara keras dengkuranmu”

-Selesai-

Photo-photo sang Tamu

Saat awal datang (dok pribadi)
Saat awal datang (dok pribadi)
Sedang lahap minum susu (dok pribadi)
Sedang lahap minum susu (dok pribadi)
Sedang lahap minum susu (dok pribadi)
Mencari perhatian (dok pribadi)
Dan terlelap sampai pagi (dok pribadi)
Dan terlelap sampai pagi (dok pribadi)