Pak Rachmawan dan Mimpi Mahasiswa

Dulu, setelah menjalani kuliah beberapa semester, akhirnya saya menyadari bahwa IPK saya itu berbanding lurus dengan seberapa banyak saya ngomong. Jika suatu mata kuliah itu, memberikan banyak kesempatan untuk membuat berbagai project, coding program, atau presentasi bisa dipastikan di akhir semester akan muncul nilai sangat baik (A) atau apes-apesnya baik (B).

Beda, kalau mata kuliah itu lebih mengedepankan belajar ‘membatik’, dengan motif-motif angka-angka yang susah dimengerti. Yang satu baris soal butuh paling tidak 2 halaman folio bergaris untuk mencetak motif batik jawaban. Mata kuliah semacam ini, biasanya tak banyak jumlah soalnya. Dua sampai tiga soal selama 2.5 jam waktu pengerjaan. Mahasiswa yang berjiwa seni tinggi, tentu mudah menaklukkan soal seperti itu. Lah saya? bikin catatan saja jarang, lebih sering copy catatan sebelum ujian. Mau tirunan di kelas juga gengsi, udah jadi mahasiswa kok belum mandiri. Kalaupun pada akhirnya mentok, akhirnya saya rela mengosongkan lembar jawaban ketimbang menggadaikan idealism diri sendiri. Setelah itu melangkah keluar menuju mushala jurusan untuk menenangkan diri. Kan kata Tuhan, pertolongan (mujizat) akan datang kepada siapa yang mau berserah diri. Meskipun, mujizat tersebut melalui jalan remidi. ^^

Nah, salah satu mata kuliah katagori pertama (banyak presentasi) adalah mata kuliah Konsep Teknologi, yang waktu itu diasuh oleh Pak Rachmawan. Dosen muda, supel, dan pembawaanya sangat menyenangkan. Sebagai mahasiswa yang sedang berorientasi meningkatkan IPK, setelah di semester-semester awal sempat diabaikan karena kebanyakan aksi (alesan), maka ketika mata kuliah itu dibuka, saya langsung kegirangan dan tak melewatkan kesempatan untuk mendapat nilai maksimum. Yeah!. *duh niat kuliahnya cuma segitu aja…Read More »