Komplikasi Rindu

Rindu…

Kita semua, manusia dewasa pasti pernah punya perasaan satu itu. Perasaan aneh yang menghasilkan reaksi yang tak kalah aneh. Terdiam, termenung, sesekali berkaca-kaca tanpa sengaja. Sebuah rindu bisa menjadi sangat menyenangkan bila ia terbayarkan, dan akan sangat menyedihkan bahkan cenderung menjadi beban ketika ia terus tertahan. Semakin lama ia tidak tertunaikan, semakin banyak pula komplikasi rasa yang ditimbulkannya.

Tentang rindu…

Barangkali tiap kita mempunyai kadar dan komplikasi yang berbeda-beda. Selain itu, diagnosa dan pengobatannya dengan sangat pasti hanya kita lah yang tahu. Karena, jelas-jelas kita yang langsung merasakannya. Untuk itu, pada tulisan kali ini saya tidak akan membicarakan tentang kerinduan kita (rindumu dan rinduku). Cukupkanlah kerinduan ini tersimpan pada memori rasa, (mungkin) akan sulit disampaikan dalam kata-kata.

Anakmu kangen, Mbok. 

Al-Fatihah

#64harikepergianmu.

Advertisements

Begini toh, Rasanya Honeymoon?

honey

Tulisan yang sedang Anda baca ini adalah tulisan perdana dari janji Saya ke istri untuk kembali ‘memulai’ menulis. Ingat, ‘memulai’. Yang artinya, kalian jangan berharap banyak pada apa-apa yang diawali dengan kata memulai. Karena kata memulai, dalam thesis bisa dikata baru sebagai bab Introduction atau Muqadhimah, belum tentu bakal terus lanjut. Persis, seperti saat kalian ngerjain skrispi dulu. Setelah bab 1, belum tentu bergegas maju-maju ke bab selanjutnya. Hehe *maklum pengalaman.

Namun, satu hal yang pasti. Setelah ini, semoga saja istiqamah menulis terus yak, setujuuuh? 🙂

Baiklah, begini ceritanya.

Jadi, setelah sekian thiiiit (sensor) tahun laku diri menyendiri, tibalah waktu itu. Sepuluh Maret 2018, saya dengan si-dedek cantik (sengaja memuji, biar ada pete di menu makan besok hehe) Rifa Roazah resmi dan sah menjadi suami-isteri. Alhamdulillah.

Cerita tentang bagaimana saya berjumpa hingga berakhir di kursi pelaminan dengannya, sudah sedikit saya singgung di buku kami Asmaradhana. Pengin ikut baca buku itu? silahkan komen di bawah. Tiga komen pertama berhak akan mendapat buku tersebut, GRATIS!!!(hanya berlaku bagi mereka yang belum ikut giveaway buku yang sama sebelumnya)

Nah, kali ini.

Saya ingin berbagi, tentang pengalaman honeymoon atau sebut saja sebagai mbolang perdana kami setelah sah jadi suami isteri.

Tujuan mbolang kami adalah sebuah pulau paling eksotis di negeri ini. Mana lagi kalau bukan BALI. Terlalu mainstream? iya sih bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, meskipun sudah beberapa kali kesana, tetap saja nggak ada bosennya njelajah tanah dewata itu. Apalagi, kali ini bersama teman hidup. Seorang perempuan yang saya berjanji kepadanya, berjuang-menemani-menghidupi kehidupan baik dalam suka dan duka.

Bali adalah destinasi paling realistis-romantis dibandingkan ke Kepulaun Togean, Babel, atau Lombok yang sempat masuk list kala itu.

Realistis, sebagai mantan anak kos dengan jam terbang tinggi, tentu saja kami berdua sudah terlatih untuk hidup realistis. Maka kemudian, hukum pertama termodinamika Kehidupan kami tetapkan. Yakni,

Rejeki tidak bisa datang sendiri dan tidak boleh dibuang begitu saja.

Tafsir hukumnya adalah dalam segala sesuatu, budget harus ditentukan diawal. Hidup kudu realistis. Karena realistis itu sendiri adalah cabang dari syukur.

Maka budget kami adalah, tidak boleh lebih dari 10 juta untuk 4-5 hari. Dan berdasarkan itung-itungan analisa reliability tabungan serta efek beruntun kedepannya apabila dipaksakan (karena setelah itu ada momen Ramadhan dan Lebaran), maka Bali adalah pilihan terbaik. Selain living cost yang masih cukup terjangkau, biaya untuk transportasi (pesawat dan selama disana) juga relatif lebih murah.

Romantis, selain mesti realistis kami sebagai manten anyar tentu saja tidak mau melewatkan masa-masa indah kasmaran di awal pernikahan. Maka kemudian, hukum kedua Kehidupan kami terapkan. Yakni,

Hidup di dunia bagai lewat saja, maka lewatilah dengan segala keindahannya.

Bagi kami, honeymoon yang oke itu, yang kami bisa merasakan setiap momen dengan indahnya. Kala digunung, nikmati segar dan dinginnya udara gunung. Kala di pantai, rasakan hempasan ombak yang berdebur. Kala diperjalanan, amati sisi-sisi kemanusian manusia yang muncul selama perjalanan. Romantis itu, yang tidak grusa-grusu semata-mata mengejar destinasi saja.

Waktu itu, lebih banyak waktu kami habiskan di daerah Ubud. Kami menginap di sebuah villa di pinggiran Ubud. Jauh masuk kedalam dari Ubud Center. Asoka Villa Ubud, namanya. Sebuah villa yang tenang lagi dilengkapi dengan pemandangan lembah yang eksotis. Kami sengaja memilih kamar dengan private pool. Selain lebih aman buat isteri, tentu jadi lebih bebas mau ngapa-ngapain. 🙂

Selain menikmati fasilitas hotel, kami juga sempat mampir ke Ubud Center. Nonton tari bali, hingga nemu burger enak disekitaran itu. Namanya Ubud Burger. Yang boleh jadi, burger dengan rasa paling enak yang pernah saya makan. Penasaran? coba aja. Terutama untuk menu burger green chillinya.

Pagi harinya, jalan-jalan ke bukit Campuhan, monkey Forest, hingga ke Tegalalang. Yang terakhir ini, sebenarnya tidak terlalu spesial bagi saya. Lha wong gimana lagi, di desa saya banyak yang seperti itu. Bahkan lebih baik.

Seperti yang saya katakan diawal. Selama di Ubud kami memang sengaja tidak terlalu ingin mengejar banyak destinasi, namun meski begitu mengabadikan momen-momen indah apalagi momen seperti honeymoon tentu tidak boleh terlewatkan. Apalagi, akan menjadi pengingat kelak nanti pas kami sudah jadi kaki-nini.

Nah, gawai yang kami untuk mengabadikan momen kala itu adalah dengan sebuah kamera dslr dan tentu saja dengan kamera handphone.

Hari ini, teknologi handphone sudah sangat maju. Untuk urusan fotografi, beberapa tipe kamera digital (kamera pocket) kini sudah tergusur oleh canggihnya teknologi kamera di handphone. Belum lagi, fitur teknologi lainnya.

Kemudian, sama seperti halnya menentukan destinasi honeymoon. Maka, inilah jawaban dari kaum milenial yang romantis tapi tetep realistis ketika mencari gawai idaman. *halah 🙂

Yaitu, jatuh pada Huawei Nova 3i

Alasannya,

  1. Harganya tidak macem-macem. Alias tidak bakal ngancem isi dompet kamu. Sebagai handphone yang masuk kelas mid-end ini dengan harga hanya sekitar 2 jutaan adalah sebuah pilihan yang paling realistis dibandingkan dengan kompetitor sekelasnya.
  2. Teknologi AI-nya membuat smartphone ini menjadi sebuah gawai yang benar-benar beyond ‘smart’ biasa. Hadirnya teknologi ini seakan semakin memudahkan kita. Karena secara tidak langsung, kita seperti dibantu ‘mikir’ oleh fitur smartphone ini. Seperti saat digunakan untuk identifikasi gambar, setting kamera, hingga optimasi hasil gambar. Enak bukan?
  3. Jeroan yang mumpuni. Saya termasuk pemakai gawai dari Huawei yang cukup militan, bisa dikata sejak dari tahun 2012 hingga kini. Alasannya cukup simple, awet dan bisa dihandalkan. Buat telefon atau data, OK. Karena smartphone ini dilengkapi AI untuk optimasi sinyal. Selain itu, sangat bisa diajak buat gaming, karena diperkuat GPU Turbo. Teknologi kayak begini, kalau di mobil itu semacam sebuah mobil diesel yang dilengkapi turbo. Selain handal, juga kencengnya minta ampun. Mantaaab kan?
  4. Terus-terus, soal storage. Ini yang lebih gilanya lagi. Hape dengan harga segitu, berani ngasih storage yang sangat longgar. Storagenya sama persis dengan besaran SSD laptop saya. Yakni, 128GB. Edaaan!
  5. Yang terakhir, sebagai kaum mileneal. Design yang ciamik adalah opsi yang paling penting. Liat saja sendiri. Barangkali, kalau Zulaikha hidup di era sekarang, ia pun juga bakal tergoda oleh Huawe Nova 3i ini juga. Cakepnya minta ampun.

Itulah,

Kalau mau momenmu mau indah selalu, ingat selalu rumus-rumus kehidupan itu. Biar beli hape rasa honeymoon. ^^

Ojo mekso, lan ojo dumeh.

Tulisan ini diikutan dalam giveaway oleh blognya Jiwo

huawei_nova3i_camera_ai_phone

Gambar dari huawei.com

Mas Nge-Blog Lagi Dong…

“Maaas nge-blog lagi dooong”. kata istri

Begitu pintanya. Tentunya sambil ngelendhot manja disamping saya.

Baiklah!

Dear Readers,

Lama ya kita gak jumpa. Setelah menikah. Setelah publish buku Asmaradhana. Rasanya saya tak kunjung kangen gurihnya menulis seperti dulu.

Pasti kangen kan? hehe

Maklum. Manten baru. Hehe

Dear Readers,

Kira-kira, ada usul gak nih. Apa dan gimana biar saya bisa aktif nulis lagi. Atau ada usulan tema-topik apa yang kiranya pengin saya bahas ditulisan-tulisan selanjutnya.

Any usul pendapat please share on the below comment yak ~tetiba jadi anak jaksel padahal mah wonogirians yang kini jadi bekasians 😁

Bye!

Salam Inspirasi!

Weekend In Bali! (Part 1)

Widiih, genset jetset amat ya judulnya. Padahal si-amad gak gitu-gitu amad. *lah ini ada apa dengan Amad, kok namanya disebut-sebut terus.

Baiklah, tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang weekend escapes saya minggu lalu (22-24 September).

Travelling with no planning. 

YAP, bisa dikata begitu. Karena panggilan travel kali ini cukup mendadak. Pakai banget. Berawal dari hari Rabu-nya (hari terakhir saya tour de Java dalam rangka urusan kerjaan), kantor kembali menugaskan saya dan tim untuk berangkat ke Bali. Urgent! tidak bisa tidak. Yah, beginilah nasib kaum pekerja urban yang sering kali disebut sebagai corporate slaves buruh ini.

Singkat cerita, hari Kamis sekembalinya saya dari Surabaya. Ada niat hari itu untuk persiapan trip selama di Bali. Eh tapi apa yang terjadi, seharian malah kruntelan di kasur. Alhasil, riset tujuan wisata selama di Bali tidak dilakukan secara sempurna.

Hanya berpatokan, hari kedua (Sabtu) untuk destinasi non pantai, hari ketiganya destinasi pantai-pantai sekitaran Kuta. Udah begitu saja. Lha terus, bagaimana dengan hari pertama? jawabannya jelas. Hari pertama, full untuk urusan kerjaan.

Saya tiba di Bali, sekitar jam 8 pagi. Di Bandara sudah ada yang jemput, yang kemudian diajak mampir sarapan di warung pecel langganan temen kantor. Tapi lupa namanya. Tapi yang jelas, pecelnya enak khas Madiun. Selain itu lokasinya juga tidak jauh dari Bandara.

Setelah sarapan, singkat cerita saya dan tim langsung bergumul dengan kerjaan. Yang kemudian baru kelar sekitar jam 4 sore.

Oya, Kamis malam sebelum berangkat ke Bandara, saya  sempat membuka aplikasi yang jamak dikenal oleh kaum travel. Apalagi kalau bukan, Couchsurfing. Waktu itu saya create rencana travel, dengan catatan “itineraries can be discussed, I am an open minded person”  bukan apa-apa, selain karena saya aslinya memang begitu (halah), juga karena waktu itu belum tau mau kemana aja. Haha. Saya juga sempat menghubungi CS-ers local yang kiranya sudi jadi host selama trip di sana.

Ehh ndilalah, nasib orang dadakan. Tidak ada satupun yang kemudian langsung merespon. Yo wislah, akhirnya harus menyiapkan plan B. Buat jaga-jaga. Book hotel sendiri, jalan-jalan pun kudu siap sendiri. Nasib.

Oya, kenapa jalan-jalannya gak sama temen kantor aja? maunya sih gitu. Tapi, begitulah nasib kaum yang sudah berkeluarga. Untuk jalan-jalan saja, mesti melewati jalan panjang birokrasi. Sulit nan berliku. Beruntunglah saya, yang ndilalah masih single ini. Masih bebas menentukan nasibnya sendiri. Merdeka!

#halah

Akhirnya, setelah browsing sana-sini. Saya nemu hotel guest house yang mumer sekali. ditambah promo dari Pegipegi saya dapet kamar yang cukup comfortable dan tentu saja affordable. Cukup dengan 200-an ribu untuk 2 malam, saya dapet kamar AC lengkap dengan amenities yang cukup lengkap macam hotel beneran cuma minus kopi sama teko pemanas (*ngarep).  Nama guest housenya, GM Bali House lokasinya tak jauh dari jalan Sunset Road, yang mana lokasi ini kalian masih gampang memuin masjid dan restoran halal.

Oya, guest house ini juga nyewain motor dengan tarif 65K per hari, bisa nego.

Hari Pertama, sore hari >> Hangouts bareng CS-ers Bali.

Setelah naruh tas dan rebahan sebentar, sorenya saya ada janjian ketemuan dengan CS-er bernama Bang Roy. Orang Medan, yang kebetulan lagi main ke Bali.

Tempat ketemuannya, ternyata tak jauh dari tempat saya menginap. Kurang dari 2 Km saja, tepatnya di Kopi Zeen, kedai kopi yang katanya belum lama buka.

Sesampainya, di kedai kopi ternyata bang Roy sudah sampai duluan. Ditemani secangkir kopi dan sepiring piscok, obrolan kami cukup singkat saja, karena kebetulan setelah Maghrib dia mau ke kondangan temennya. Kami cuma sempat diskusi sedikit tentang dunia travelling, yang mana saya sendiri masih sering angin-anginan. Maksudnya, kalau ndilalah ada sisa budget hayuuk travel, kalau ndak ya duduk manis di kosan. Belum bisa totalitas macam mbak Winny yang sudah melalang buana keliling dunia, Om Nduut yang tulisan dan photo-photonya bikin ngiri, atau kayak Mbak cantik tapi malas mandi pemilik blog malesmandi.com. Hayuuk kapan saya diajakin mbolang? saya siapin jiwa dan raga. #halah

Okey, dari Kopi Zeen saya kemudian meluncur ke daerah pesisir pantai Kuta. Tepatnya ke Lippo Mall Kuta. Lah, jauh-jauh ke Bali masak mainnya cuma ke Mall. Ndak papa, saya mah orangnya gitu.

Di sana, saya bertemu dengan anak CS-ers juga. Namanya Mas Deddy orang Tasik yang sudah 3 bulan ini hidup di Bali. Beliau ini adalah seorang escaper dari Jakarta. Melarikan diri (mengendari motor selama tiga hari) dari hiruk-pikuk ibukota, demi Bali dan segala keindahannya. Aseli!

Baginya, hidup itu cuma sekali. Tapi, kalau yang sekali itu kita tidak mampu menyelami, maka kita akan tenggelam tak berjejak dan mati. Hidup sebatas eight to five, Monday to Friday, begitu terus adanya. Meski gaji besar, tapi kalau tidak ada enaknya gimana mau hidup. Begitu katanya.

Tertohoklah saya.

Di mall ini, tiap hari (atau mungkin cuma weekend saja) ada pertunjukan tari kecak dan live music GRATIS. Bagi kalian, yang tidak mau kehilangan 300 ribu hanya skedar untuk melihat tarian ini di Uluwatu, boleh datang kesini. Memang suasanannya tidak se-magis di Uluwatu, tapi cukuplah untuk mengobati rasa penasaran.

IMG_1089

Setelah pertunjukkan selesai, saya diajakin nonton film sama mas Deddy. Katanya dia penasaran sama film It, film badut horror itu. Saya sendiri sebenarnya pernah nonton waktu di Cikarang, tapi yowislah lha wong gratisan.

Karena sudah menonton, kadar menarik dari film ini cukup dratis menghilang. Saya sampai ketiduran. Hahaha

Menjelang tengah malam, kami berpisah. Dengan sebuah janji, esok berpetualang bersama. #halah

Next tulisan, Mbolang di Candidasa (Karangasem). Nantikan tulisannya ya!

Quiz: coba hitung, kata “halah” dalam tulisan ini. Jawaban pertama yang benar, akan mendapatkan sesuatu yang mengejutkan dari penulis. #halah

Cikarang, 2.10.2017

 

Begadang

Sejak negara api menyerang kembali ke Tanah air, kebiasaan begadang nyaris bisa dipastikan punah. Bagai dinosaurus disambar hujan meteor. Musnah. Halah.

Padahal nih ya, begadang itu kata bung Roma bisa meningkatkan kadar kegantengan kepada level yang cukup menyakinkan.

Gak percaya?

Tanya aja pada bung Roma Regal. Loh. Eh, benar gak sih.

Apalagi sejak jadi budak corporate bekerja. Jam 9 malam itu rasanya sudah berat di mata. Kecuali, kalau ndilalah ada yang ngajakin ngopi atau ngobrol virtual yang kadangkala ampe terlewat malam.

Selebihnya, nyaris tidak pernah.

Kecuali malam ini.

Mungkin, efek dari takut ketinggalan pesawat (soalnya first flight) + presentasi yang belum kelar (maklum deadliner) + teh pahit bawaan dari kampung.

Udah deh, kemudian tetiba merasa dejavu tentang masa-masa yang telah berlalu.

Haha.

Gud night everyone! Eh morning ding!

#siapataumasihadayangmelek
#quickpost
#pertandasiempublogbakalrajinngepostlagi
#nantikantulisan2selanjutnya
#staytune
#staycalm
#keepganteng
#yak