Mama Hanin #CeritaBaba (2)

WhatsApp Image 2019-11-04 at 19.26.18

Barangkali, setelah Tuhan yang Maha Pemberi, sosok wanita inilah yang sudah semestinya saya banyak berterima kasih kepadanya.

Orangnya cantik, masakannya juga makin enak.

Namanya, Mama Hanin.

Tentangnya, silahkan berkelana ke blog-nya atau kalau kalian sudah baca buku kami sedikit cerita tentangnya pernah saya ungkap di sana.

Tapi, pada tulisan ini saya hendak menuliskan hal-hal tentangnya yang baru saya ngeh setelah menikah utamanya ketika masa-masa hamil anak kami. Seperti kata orang bijak, mengenal pasangan adalah pekerjaan sepanjang hidup.

Kabar perihal kehamilan isteri saya, tepat menjelang tahun baru 2019 atau seminggu setelah saya resmi resign dari kantor.

Kabar kehamilan isteri, resmi non-job, dan status (calon) pengusaha waktu itu adalah kombinasi yang bikin galau para lelaki yang sebentar lagi akan menerima amanah baru. Tapi kegalauan itu, serapat-rapatnya saya tutup. Sedikit menyesal mengambil keputusan tersebut waktu itu. Tapi Bismillah. Toh, keputusan itu adalah keputusan yang kami pikirkan masak-masak (tentu kehamilan anak kami ini di luar skenario).

Perihal kehamilan isteri, alhamduillah berjalan sangat lancar sepanjang 38 minggu kehamilannya. Seingat saya, tidak terlalu banyak drama. Paling, pada trimester pertama isteri saya agak males dengan saya. Lebih sensitif baik kepada sikap maupun aroma tubuh saya. Ini aneh. Padahal sebelum dia hamil, salah satu hobinya adalah ngendus-endus aroma tubuh saya. Untung, saya cukup rajin mandi.

Dia juga jadi lebih sensitif ke soal bumbu masakan. Mual katanya. Baiklah tak apa, jadi selama kehamilan kami lebih banyak jajan di luar atau sesekali saya yang memasak.

Ala kadarnya. Tapi enak.

Soal mual ini, sebenarnya cukup kasihan juga waktu itu. Karena dia tak lagi bisa menikmati kopi kesukaanya.

Trimester kedua, mual-mual sedikit berkurang. Tapi soal sensitif nampaknya masih melekat. Tiap weekend, ada saja drama. Tanpa sebab maupun dengan sebab.

Kalau sudah begini, saya jadi teringat wejangan almarhummah Ibuk.

“Dadi wong kuwi, sing dowo ususe le”

Maksudnya, ketika kelak kita jadi orang, baik itu berperan sebagai suami, orangtua, pemimpin dan sebagainya kuncinya agar senantiasa sakin adalah dengan maintain kesabaran (dowo ususe). Selain itu, sabar adalah tips sukses kita untuk menjaga kewarasan.

Trimester ketiga, alhmadulillah mual dan sensitif isteri sudah semakin terkendali. Tapi soal kopi dan bumbu masakan masih jadi pantangan. Meski kandungan di perutnya makin membesar, tapi justru dari wajahnya makin nampak segar. Kalau kata orang-orang, itu tanda anak kami perempuan. Tidak begitu terkejut, wong di akhir trimester kedua kami sudah dikasih tau soal itu oleh dokter.

Pada fase ini, nampak muncul ketegaran seorang ibu dari isteri saya. Udah kelihatan jiwa emak-emaknya. Seperti ada kekuatan yang tiba-tiba muncul menjelang kelahiran anak kami. Ia mulai intens membaca banyak rujukan tentang proses persalinan, mengasuh anak, hingga belanja segala kebutuhan pada awal-awal kehidupan bayi.

Jadi, secara persiapan isteri saya nampaknya lebih sigap. Dari persiapan ilmu hingga mental. Bahkan, seringkali saya dipaksa untuk ikut nimbrung menyimak soal pola asuh anak dan lain sebagainya. Diminta ngefollow akun emak-emak influencer tentang asi hingga komunitas bapa-bapak yang peduli asi.

Berbeda jauh dengan saya. Bila isteri mulai nampak jiwa emak-emak, maka para suami tetaplah berjiwa anak-anak.

Untuk persiapan, saya lebih mengalir saja sambil mengkoreksi planning dari isteri. Tapi soal diminta nge-follow akun ini itu, sebenarnya setengah hati. Maklum, kuota saya nampaknya sudah punya porsi sendiri, yaitu nonton One Piece, review gadget dan otomotif. Hehe

Tapi, satu hal yang pasti dan wajib saya lakukan dari trimester pertama bahkan hingga sekarang. Tidak membuat isteri tambah stress. Mengurangi bagus, menambahi stress jangan sampai. Paling tidak itu.

Karena, sifat dasar perempuan di dunia ini sama. Semua hal mereka pikirakan. Dan mengandung, melahirkan, hingga mengasuh anak adalah hal yang cukup menyita pikiran isteri.

Dan tugas kita (sebagai suami), adalah mengurangi beban dan memperlancar jalan pikir isteri. Dengan menambah prosesor, RAM dan tentu saja mengurai bug-bug yang menjadi penghambat.

Cukup sesimple itu. Teorinya.

Hingga tibalah, saat kelahiran Hanin. 27 Agustus 2019.

Saya bisikan kepadanya sebelum ia dibawa ke ruang operasi,

“Bismillah, kamu bisa dek”

Sambil berdebar hati, menunggu tangisan pertama dari si-jabang bayi. Prosesnya cepat, tak lama setelah saya selesai shalat hajat malam itu di mushola rumah sakit.

Alhamdulillah, isteri dan bayi aman terkendali. Meskipun, ada isiden yang tidak disengaja, saat saya mengazani baby hanin. Saya mengazani dalam posisi kebalik, maklum semacam syndrom grogi pengalaman punya bayi sendiri.

Maka kemudian, Isteriku. Mama Hanin.

Makasih sudah bersedia untuk repot, galau, dan sigap mengandung, menyambut, hingga melahirkan anak kita. Hanin adalah karunia terbesar di tahun ini. Setelah tahun kemarin, memilikimu.

I love both of you

Baba

 

 

 

Nenen Bukan Segalanya #CeritaBaba (1)

Eng ing eng…

Bismilahirahmanirrahim. Saya niatkan untuk memulai serial tulisan #CeritaBaba di blog ini. Blog bersahaja yang pernah menjadi perantara saya dari perjaka nelangsa menjadi seorang baba bahagia.

Baiklah. Ini dia #CeritaBaba edisi pertama.

Nenen. Pasti semua sudah tau. Jadi tidak perlu saya jelaskan spesifikasi maupun bentuknya. Dan mohon maap kalau misal istilah ini kurang sopan, saya sampai saat ini  belum menemukaan padaan kata yang pas untuk menyebut kata benda-kerja satu ini. Tapi mari sebut saja begitu.

Ini cerita berawal dari sebuah perenungan pada suatu malam setelah beberapa hari anak saya Hanin lahir. 

Ya, Alhamdulillah. Tahun ini, ada karunia Allah terbesar yang dipercayakan kepada saya dan istri. Seorang bayi perempuan, yang ketika saya melihatnya saya tak bisa berhenti untuk tidak jatuh hati. Namanya Hanin.

IMG_20190829_164607_076

Menjadi orang tua, tentu menjadi sebuah pengalaman baru bagi kami. Bisa dikata, kami memulai fase hidup ini dari nol puthul. Teori pernah dengar dan baca, tapi praktiknya? paling mentok adalah dulu waktu kuliah di Jogja pernah ikut momong sebentar keponakan saya.

Dari nol puthul ini, mau tidak mau kami mesti berani nyoba mengasuh bayi dengan benar. Dari mandi, ganti popok, tentang memantau kesehatan bayi dan lain sebagainya.

Soal mengasuh anak, saya dan istri memang sudah bersepakat untuk mengasuh anak-anak kami bersama. Karena menurut kami, memang begitulah pakem-nya menjadi orang tua. Kalau ditanya porsi berapa persen keterlibatan saya (sebagai ayah) barangkali sulit. Karena nyaris yang dilakukan istri dalam mengasuh anak juga saya lakukan.

Tapi memang, ada satu hal yang tidak bisa saya lakukan. Sudah coba, tapi gagal. haha

NENEN

Yak. Nenen. Itu kadang bisa jadi kata benda, bisa jadi kata kerja. Nah kalau perempuan bisa bermakna keduanya. Nah kalau bagi laki-laki?

Kata istri saya suatu ketika,

“Ahh Mas tuh punya tapi sia-sia”

Yah, beitulah hakekat NENEN bagi laki-laki. Nasibnya seperti huruf “Ğ” dalam bahasa Turki. Wujudnya ada, tapi dianggap tidak ada. Persis.

Tapi jangan sombong dulu wahai kaum wanita…..

Seperti dalam judul tulisan ini. NENEN BUKANLAH SEGALANYA!

Ini saya sadari, pada suatu malam. Ketika tangisan Hanin tak henti-henti. Cerita istri saya esok harinya, dia sudah mencoba sebaik mungkin untuk memberi asupan ASI dengan beragam cara dan gaya. Tapi endingnya, si bayi mungil kami tetap menangis membahana.

Saya yang awalnya tertidur, akhirnya terbangun dan tertegun. Kenapa?

Karena, yang menagis bukan hanya bayi mungil kami. Tapi sang Mama-nya juga. Ia menangis sambil memangku Hanin yang sedang menangis.

Jadi malam itu, di pagi buta ada dua perempuan terkasih sedang menagis bersama.

Tanpa babibu, saya ambil alih Hanin. Saya gendong, saya ajak beberapa kali thowaf di kamar. Tangisannya mulai reda, tapi belum juga tidur.

Saya keluar kamar, saya ajak lagi dia thowaf keliling beranda sambil membacakan sholawat dengan lirik lir-ilir Sunan Kalijogo kesukaan saya. Hasilnya? sang anak tertidur. Pules sampai selepas shubuh.

Beda hari, ada kejadian yang hampir sama. Mamanya Hanin saat itu juga sudah mau nyerah tidak mengerti mau gimana.  Kemudian saya ajak Hanin turun ke bawah main ayunan. Akhirnya tertidur. Setelah setengah jam sebelumnya sholawatan, tapi tidak mempan padanya.

Lain hari, begitu juga. Tapi kala itu, nenen sudah, sholawat sudah, ayunan sudah. Tapi senjata triple kill yang saya yakini ampuh untuk menenangkan bayi ternyata mental semua.

Dan solusi mutakhirnya ternyata tidak terduga.

Suara desing kompresor AC.

Lahh.

Dari kejadian demi kejaddian, dari malam ke malam yang telah kami lalui sampai malam ini. Kami bisa mengambil kesimpulan:

NENEN BUKANLAH SEGALANYA!

Kenapa begitu? ya faktanya di atas.

Dan juga, tidak semua bayi lahir dengan nenen (dan isinya) yang selalu tersedia.

Ada bayi yang terpaksa dikasih susu formula oleh sebab ASI yang tak kunjung keluar, ada bayi tidak dapat ASI karena sang ibu takut miliknya berubah bentuk, yang lebih ekstim ada bayi yang tidak mendapat ASI karena tidak jelas siapa ibunya.

Sehingga, nyata kalau nenen itu bukanlah segalanya.

Tapi NENEN ADALAH YANG UTAMA.

Dan kita (para suami di dunia) adalah guardian ASI agar selalu tersedia. Dengan cara? paling simple adalah jangan bikin stress isteri Anda. Karena stress mempengaruhi ketersedian ASI pada nenen seorang ibu menyusui.

Baik kembali lagi ke topik utama.

Kalau nenen dianggap segalanya, eh ndillah kok si bayi menolak (dengan tetap menangis terus-terusan) tentu ujungnya kecewa.

Dan itulah sebab mengapa istri saya malam itu dan mungkin juga yang dirasakan oleh ibu-ibu se-dunia:

Ditolak oleh bayinya sendiri.

Wong ditolak gebetan aja sakit. Ya tho, mblo?

 

 

 

Simba: Sang Survival

Alhamdulillah, sejak pernikahan kami setahun yang lalu Allah sudah menganugerahkan beberapa momongan yang lucu-lucu. Yang pertama, kami beri mereka nama trio Tini-Wini-Biti.

Yang disebut paling terakhir, adalah favorit kami semurah. Tak jarang, dia kami ajak kelonan. Maka tak heran, bila suatu masa kami terlalu sibuk dengan urusan manusia hingga lupa dengan keberadaan mereka pasti ada saja ulah lucunya. Dari manggil-manggil hingga gedor-gedor pintu. Minta dikelonin.

Yak, mereka adalah kucing kami. Kami adopsi dari sejak ia masih kuncup kecil, hingga kini mekar sampai-sampai kami kerepotan soal budget bulanan untuk makanan dan pasir mereka.

Pernah, saat mereka umur sekitar 8/9 bulan, bisa-bisanya mereka melakukan aksi mogok makan hingga berujung masuk angin. Dengan terpaksa kami bawa mereka ke klinik khusus hewan, tahu tidak biayanya? mahal beud. Semacam cukup buat kami nonton di bioskop deket rumah satu musim full.

Tapi tak apa, toh dengan kehadiran mereka kami jadi punya kesibukan-kesibukan yang memungkinan kita terus bersama (red- kami sama-sama hobi pelihara kucing).

Bagi kami, trio Tini-Wini-Biti adalah anak-anak kami.

Okay, kembali ke judul. Biar nyambung.

Simba. Adalah seorang anak yang beruntung. Melalui perkimpoian yang belum kami restui, dua kucing perempuan kami ternyata hamil. Nyaris dalam waktu yang bersamaan.

Tini, si kucing dengan gen kampungnya yang nyaris 100 persen itu melahirkan empat anak. Kami tak menyangka, tubuhnya yang mungil begitu kok bisa muat 4 nyawa.

Tapi, kami senang. Anaknya lucu. Tapi sayang umur anak-anaknya hanya bertahan seminggu.

Kemudian, si Wini. Si anak pemalu paling pendiam diantara yang lain. Dia itu tipikal introvert berbahaya. Betapa nyesek, sama sekali tidak pernah kelihatan gandeng pasangan kok tiba-tiba hamil duluan.

Tapi, kami juga senang. Karena setelah Wini melahirkan, kami semakin yakin kalau ia hamil akibat perbuatan anak laki kami satu-satunya, Biti.

Jantan juga kau Bit.

Nah dari si introvert Wini ini, lahirlah Simba sang survival. Karena dia satu-satunya anak Wini yang berhasil hidup dari ibu kucing amatir yang belum begitu paham mengurus anak.

Simba ini lucu. Bila, Tini adalah 100% kampung, Wini 45%, Biti 50% campuran kampung dan angora, maka Simba adalah 15% angora dan sisanya gen kampung.

Yak, 15% itu hanya berkontribusi pada bulunya yang lebat hanya pada bagian buntut patahnya. Lucu. Aseli.

Sifatnya? widiih manja betuul. Semacam anak tunggal yang di asuh dua ibu. Kanan-kiri nyusu.

Kini Simba sudah besar. Ia tumbuh menjadi anak lak-laki yang lincah dan trengginas. Meski, ke-angora-annya yang nangghung itu membuat kami merasa miris.

Tapi kami senang.

Apalagi sifatnya kamin kesini makin mirip bapaknya, si Biti. Ngerti bagaimana bikin orang lain merasa nyaman di dekatnya. Kelon-able.

Apalagi, sejak Ramdhan kemarin ia rajin menamani saya bekerja di perpustakan rumah. Ruangan ber AC yang adem semakin membuat mereka berdua betah di dalam menemani saya. Lucu sekali melihat tingkah Bapak-Anak yang makin mirip ini.

Suka.

 

*PS: Yang pengin lihat aksi mereka follow IG kita ya @parmantos , nanti saya upload aksi lucu-lucu mereka di sana.

Kewajiban dan Waktu

Orang bijak pernah berkata,

semakin cepat waktu berlalu adalah pertanda kau sedang berbahagia

Ya, sadar apa tidak, jika kita merasa akhir-akhir ini waktu terasa cepat, seperti, kemarin baru saja menyambut bulan suci eh ini bentar lagi udah mau Idul Fitri itu tanda kita sedang bahagia -atau setidaknya tidak sedang dirundung nestapa.

Bersyukur itu harus. Merenung itu perlu.

Jangan sampai, waktu-waktu kita terbuang oleh sesuatu yang tidak begitu signifikan.  Mengapa?

Karena, kita tidak sedang hidup di universe-nya Avengers, yang waktu bisa diputer balik. Apa yang sudah terjadi, ya sudah.

Tentang waktu, ingat perkata arab,

al-wajibat aktsaru minal awqat

Kewajiban-kewajiban kita terlalu banyak daripada waktu yang tersedia. Duh!

Yuk, mas-mbakyu.

Mari segera kita tunai kewajiban kita, diantara waktu yang begitu sempit ini. Mari.

 

Pelajaran Hidup No. 22

Selalu Ada Hikmah di Setiap Keputusan

Menarik membaca tulisan blogger keren nan heboh mas Febri ini. Saya merasa dejavu, dengan diri saya sendiri selama 2 tahun kebelakang.

Ya, kurang lebih seperti itu.

Tapi bedanya, kalau mas Febri lebih menyukai bekerja sebagai content writer kalau saya penginnya langsung jadi pengusuha, ndak muluk-muluk kok target saya. Minimal kayak om Jack Ma. Halah. 😀

Suweeer.

Sebagai bukti, saking saya tidak sukanya jadi ‘buruh’ dengan orang lain itu, ketika tawaran dari (mantan) perusahan sempat saya abaikan selama dua bulan lebih. Dan kalau bukan, karena;

“Mau makan pakai apa?”

Pasti, aku tidak akan mengambil tawaran itu.

Selepas lulus dari Turki, memang saya cukup idealis tapi minimalis. Idealis karena pengin mulai punya usaha, dan minimalis sudah barang tentu isi kantongnya (modal).

Hingga, akhirnya saya kehabisan modal. Padahal tabungan yang tidak seberapa itu, adalah tabungan saya selama di Turki.

Kemudian saya mencoba membalas email dari perusahaan tersebut setelah sekian lama saya biarkan. Perusahaan tersebut adalah perusahaan Turki, yang kebetulan mempunyai plant di Indonesia dan saat itu butuh talenta muda karyawan yang lulusan Turki. Entah bagaimana ceritanya, salah satu top management perusahaan tersebut bertemu dengan pengelola beasiswa (Turkiye Burslari) dan mereka merekomendasikan saya. Yang kebetulan cocok.

Singkat cerita, kemudian saya pindah planet. Ya, karena letak plant perusahaan tersebut di Indonesia ternyata di Bekasi.

Saya mulai bekerja. Dan saya menikmati. Meski, perlu banyak belajar. Gaji, alhamdulillah tidak ada masalah bahkan cenderung di atas rata-rata untuk standard industri yang sama.

Hingga akhirnya. Satu-persatu watak dunia ‘per-buruh-an’ gaya lama nampak.

Caper. Carmuk. Hingga (dibatasi) untuk berkembang.

Saya mencoba bertahan, tapi nampaknya tidak ada perubahan. Hingga, tiga bulan sebelum saya resign. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu adalah bagaimana saya bisa pindah bekerja secepatnya. Ada tawaran beberapa, ada yang saya tindak lanjuti ada yang tidak. Yang tidak saya tindak lanjuti lebih karena jarak. Dan isteri saya itu orangnya kangenan (ndak mau LDM). Saya jadi ndak tega ningalin dia jauh-jauh. Yang perusahaannya tidak melanjutkan lebih karena saya minta gajinya kebanyakan (ngelunjak) padahal waktu itu udah interview dengan top management HQ di China sana.

Kemudian saya resign. Tanpa kepastian bakal kerja lagi di mana.

Tetapi ada dua hal yang menguatkan keputusan saya tersebut. Izin dari isteri dengan pertimbangan; mumpung tanggungan belum banyak (saat itu isteri belum ada tanda-tanda hamil). Kedua, tawaran project dari Bapak mertua.

Akhirnya, menjelang akhir tahun 2018 kemarin adalah hari terkahir saya di perusahaan tersebut.

Jalan tak selalu lengang. Pun nyatanya banyak berlubang.

Project yang ditawarkan Bapak mertua ternyata tidak semulus yang saya kira. Karena entah apa, tiba-tiba calon investornya menunda pencairan hingga sampai pasca pilpres. Padahal, saya dan tim sudah survei kesana kemari.

Ditambah belum ada dua minggu pasca resign (posisi saya waktu itu sedang survei lahan di Wonogiri) isteri ngasih kabar.

“Mas, aku positif”

“Alhamdulillaaaah….” dilanjutkan sujud syukur tiga kali.

Alhamdulillah, setelah delapan bulan ikhtiyar. Allah memberi.

Pasca sujud syukur kemudian saya termenung. Merenungi tiga hal; keputusan resign, project gagal, dan isteri hamil. Ketiganya, nampak tidak nyambung. Mencoba disambung-sambungkanpun. Susah. Tapi saya bersyukur.

Hingga akhirnya, saya kembali sibuk melamar pekerjaan lagi. Agak panik, takut kl gak ada yang nyangkut. Alhamdulillah, ada yang menyahut. meskipun selama proses tersebut saya tak lagi tenang. Kalian lak-laki waras tentu memahami banget jika di posisi ini.

Dua dari yang menyahut tersebut sempat membuat saya bimbang. Yang pertama, sebuah perusahaan tanker dengan gaji sesuai ekspektasi, tapi mesti belajar dari nol. Yang kedua, perusahaan konsultan yang bidangnya sama persis dengan background studi saya. Bahkan tema riset saya adalah main business mereka. Meski, gajinya sedikit lebih rendah.

Tapi, di tengah proses, ada tawaran yang lebih menarik.

Berkah silaturahim.

Diajak kemabali melanjutkan calon startup yang sempat tertunda dua tahun lalu oleh kakak sendiri. InsyaAllah dengan backup modal yang cukup. Diskusi kami berdua lancar, satu visi dan pemikiran. Restu dari keluarga kami berdua alhamdulillah kami dapatkan.

mde
1 Maret 2019 perusahaan kami berdiri
btf
Bersama Bu Yani, kolega saya di perusahaan lama yang InsyaAllah siap membantu soal legal di perusahaan kami. Yang bertopi hitam adalah kakak saya.

Ada hikmah, di balik ini semua. Persis yang dikatakan Bapak mertua saya suatu ketika.

“Rezeki itu urusan yang di Atas (Allah), urusan manusia hanyalah berusaha”

Ya. Jangan pernah letih kawan. Doakan kami juga. Karena kita, hanya perlu banyak-banyak berusaha. Dan berdoa. Jangan pernah takut mengambil keputusan besar.

Dan InsyaAllah, hari-hari saya akan fokus dengan ini. Tapi tetap, biar ilmu saya ndak nganggur saya mungkin akan mencoba mengajar (karena opsi inilah yang paling mungkin bisa paralel dijalankan bersamaan). Semoga ada kampus yang mau menerima, calon guru yang tidak punya pengalaman mengajar ini.

Sekedar sebagai catatan sejarah.