2020: Singkat, Padat, (gak) Jelas

Halo…

Bagaimana kabar 2020 kalian? apakah bernasib seperti judul tulisan di atas? hehe *pait aseli*

Baiklah, di tulisan ini saya hanya mau sedikit sharing perjalanan selama setahun ini. Apa-apa yang masih teringat sepanjang tahun kemarin. Temen-temen boleh juga share pengalamannya, siapa tau ada pengalaman yang lebih berwarna.

JANUARI

Bisa dikatakan, saya memulai tahun 2020 dengan cukup sumringah. Tentu, selain karena resmi jadi Baba bagi anak perempuan saya, Hanin. Bisnis yang saya rintis sejak awal 2019 berjalan sesuai dengan planning, bahkan melebihi target. Setidaknya, dalam bilangan kurang dari setahun sudah berdiri sebuah sister company dan berhasil mengakuisisi sebuah perusahaan temen di Jogja. Sebagai mantan buruh, yang karir terakhirnya hanya mentok di level middle management kemudian beralih jadi CEO di 2 perusahaan level kelas tenggiri teri. Sebuah lompatan karir, yang sebenarnya baru akan saya realisasikan di tahun 2022. Lebih cepat 3 tahun.

FEBRUARI

Bulan ini, secara resmi menempati ruang kantor baru, hasil make up garasi rumah mertua. Pindah dari sebelumnya di daerah Jakarta Pusat, yang jarak tempuh dari rumah cukup bikin encok, nyeri punggung, dan pegal linu *halah. Di bulan ini pula, perusahaan resmi nambah satu divisi yang khusus pengembangan teknologi.

Hikmah, ngantor di rumah sendiri :
-bisa digangguin main sama anak
-bebas macet
-bisa bangun/tidur siang
-ngopi-makan sepuasnya

Diakhir bulan, lebih tepatnya tanggal 26 Februari 2020 atau seminggu sebelum kasus pertama covid di Indonesia diumumkan, secara resmi operasional (divisi service) perusahaan berhenti sementara. Sebab utamanya penerbangan international dibatalkan. Otomatis PO-PO customer dari divisi ini juga semuanya di-pending dan bahkan dicancel. Tapi, alhamdulillahnya tidak ada direct losses akibat kejadian tersebut.

MARET

Mulai beralih jualan, yang sebelumnya hanya bisnis sampingan. Pada bulan ini karyawan tetap berusaha dipertahankan, kecuali tim lapangan yang memang sistem gajiannya per job. Manajemen inti, resmi tidak gajian. Kas perusahaan buat modal jualan dan cadangan operasional.

Pada level ini psikologi istri masih aman. Maklum, bulan kemarin saya masih sempat bilang ke dia dengan cukup optimis “Ma, sepertinya mudik tahun ini pakai mobil sendiri dan InsyaAllah akhir tahun ada dana untuk DP lahan” yang disambutnya dengan ngelendot sambil bilang “Aamiin, adek makin cinta….”

APRIL

Berkah Ramadhan, penjualan lagi puncak-puncaknya. Meskipun hasilnya hanya cukup untuk operasional. Pandemi masih menggurita, tidak seperti perkiraan kalau Covid ini bakal seperti SARS/MARS yang hilang sendiri.

MEI

Bulan menyedihkan. Beli mobil. GAGAL. Mudik GAGAL. Harapan beli lahan, apalagi. Jualan turun drastis. Dampak covid benar-benar diluar bayangan. Bahkan untuk selevel pemerintah sekalipun. Anda, sudah pasti mengerti se-gagap apa pemerintah kita menanggapinya di bulan-bulan ini bahkan sampai sekarang (?).

Kemudian, Istri mulai bertanya.

JUNI

Alhamdulillah dapat tawaran pekerjaan. Menjadi konsultan R&D pengembangan produk yang sama persis sewaktu masih bekerja di sebuah perusahaan asing. Awal agak ragu dengan tawaran tersebut, karena selain sudah lama tidak menyentuh dunia itu lagi, juga sewaktu masih bekerja tidak terlalu serius mendalami ‘resep rahasia’ teknologi produk tersebut. Tapi mengingat, angka kontrak yang saya minta dan disetujui oleh klien. Makanya, rela dibulan ini untuk mulai baca-baca dan riset lagi. Sudah semacam mahasiswa tingkat akhir, yang dikejar-kejar karena mau habis batas studinya. Galau, tidak fokus, ngemil banyak. Bahkan sampai habis 2 box extrajoss buat dopping lembur malam hari.

JULI

Sampai H-1 draft modul R&D baru jadi 80%. Saya hired teman saya yang kebetulan alumni dari perusahaan yang sama dan memang ahlinya dibidang material (yang kebetulan saya kurang menguasai). Bismillah, akhirnya kami nekat berangkat ke Bandung untuk persentasi di depan klien, karena selain diminta untuk membuat prototype produk kami juga diminta untuk membantu proses manufacturingnya.

Malam harinya, saya masih berkutat untuk menyelesaikan sisa yang 20%, yang itu adalah inti dari modul yang kami susun. Ada formula yang saya rasa masih kurang pas. Tapi, qadarallah tepat shubuh pagi, formula itu ketemu juga. The power of kepepet Allah memang luar biasa.

Singkat cerita, klien saya cukup puas. Meski, project belum bisa lanjut sesuai timeline karena klien belum siap dengan peralatan yang sebelumnya kami minta. Tapi, pembayaran tahap pertama sudah kami terima, lalu balik ke Jakarta dengan cukup sumringah. Tak lupa kami mampir rest area 87 untuk membeli bingkisan untuk keluarga.

Sampai rumah, disambut kopi hangat bikinan isteri dan senyumnya yang tak kalah hangat. Cukup hot malah. Alhamdulillah.

AGUSTUS

Belum ada kabar lanjutan dari klien terkait project tersebut. Mereka masih berkutat soal budget pembelian peralatan. Saya merekomendasikan alat-alat dari Swiss, bossnya pengin dari Cina, tapi timnya malah sibuk korespondensi dengan manufaktur dari India. Singkatnya, Mbulet gegara budget.

Di bulan ini, kami Alhamdulillah bisa mudik sekeluarga pakai mobil sendiri mertua. Lumayan. Mimpi yang tertunda haha

Namun sedihnya, akibat jarang olah raga, banyak ngemil, dan ketrigger dopping extrajoss sewaktu riset untuk project Bandung badan mulai merasakan keanehan yang tidak jelas. Cirinya; sering kencing malam hari, badan lemas setelah bangun tidur khususnya di pagi hari, sampai penurunan berat badan secara drastis (turun 10 kg). Dan benar sesuai dugaan, kena DM. Innalilahi.

SEPTEMBER

Dan saya di bulan ini, alhamdillah ditawari untuk jadi konsultan pengembangan sebuah pesantren milik seorang Kiai besar, beliau ini teman karibnya Gus Dur. Lha kok tiba-tiba ngurusin pesantren? alasan saya:

  1. Yang minta kyai.
  2. Yang diminta kesaya adalah terkait pengembangan life skill berbasis teknologi.
  3. Kesempatan ini, adalah barangkali menjadi momen saya untuk nyantri dan senyata-nyatanya khidmah ke kyai dan umat. Sebagai orang negeri (yang sedari kecil sekolah hingga kuliah di sekolah negeri melulu) saya memang sudah lama pengin nyantri, setidaknya biar lebih PD pas shalat berjamaah bareng isteri.
  4. Namun pembiayaannya saya diminta nyari sendiri. Karena, sekali lagi dampak covid ini luar biasa. Efeknya juga merambah ke pesantren-pesantren yang pembiayaanya tergantung dari orang tua santri.

Di Bulan ini, kembali ada berita sedih. Salah seorang keluarga kami (om-nya isteri) meninggal karena covid. Apalagi dari awal rujuk ke RS sampai mengantarnya ke makam kami terus mendampingi. Tak menyangka, si covid tak hanya menganggu cashflow juga andil dalam terpisahnya dengan orang tercinta.

Maka, Isteri kembali bertanya.

OKTOBER

Belum ada perkembangan signifikan. Project Bandung dengan sisa pembayarannya belum terlihat hilal-nya. Boleh jadi, klien juga sedang menahan diri untuk tidak buang-buang uang untuk investasi di masa-masa seperti ini.

Kas perusahaan saya sendiri mulai minus, bahkan sejak 2 bulan yang lalu. Untuk pembiayaan divisi teknologi. Mencoba bertahan berharap akan diganti ketika iklim bisnis membaik. Ternyata tidak. Masih terpuruk. Penerbangan internasional masih sering buka-tutup.

Di bulan ini pula, divisi teknologi kami bekukan. Karyawan terpaksa saya berhentikan sementara sampai waktu yang belum ditentukan. Padahal aplikasi yang kami kembangkan masih jauh dari sempurna, baru 70% saja.

Kemudian, saya berikhtiar untuk mencoba apply pekerjaan lagi. Saya aktifkan kembali akun jobstreet yang sudah saya tinggalkan sejak resign 2 tahun lalu.

NOVEMBER

Belum ada perkembangan signifikan. Semakin bosan dengan status ‘tanpa penghasilan tetap’. Akan tetapi, jadi lebih sering bertemu dengan orang-orang hebat di negeri ini. Dari pejabat-pejabat kementrian yang jujur dan amanah, pengusaha-pengusaha yang totalitas kepada keumatan, hingga teman-teman lama yang kembali bertemu. Yang InsyaAllah di tahun depan siap berkolaborasi.

Istri makin sering bertanya.

DESEMBER

Kurang lebih sama. Isteri makin sering bertanya dan merasa sedih di saat yang sama.

….. itu cerita saya. Bagaimana dengan kalian?

PROLOG

Bila ada dua kata, maka izinkan saya berkata dua hal ini kepada istri saya. Ibu dari anak saya.

Maaf

Maafkan suamimu, yang telah membuatmu merasakan salah satu dari ‘dua syarat’ sebelum kita mengikat dalam mitsaqan ghaliza dulu lebih awal dan agak lama. Yakni, siap untuk berjuang bersama dalam suka dan duka (gelem diajak rekoso). Keputusan untuk resign dari pekerjaan hingga berwirausaha yang terlalu cepat, tanpa menyiapkan emergency fund yang cukup. Ditambah cicilan yang belum selesai. Ini murni, mismanajemen ditambah bumbu egoisme seorang laki-laki yang digoreng dan digosongkan oleh pandemi. Menghasilkan pepes ikan teri gosong yang tak sedap dinikmati. Maafin mas ya. Lain kali, mas masakin sambal teri favoritmu. Dengan cabe gila, bawang dan teri pilihan.

Salim. Minta maaf. Kecup kening tiga kali.

Terima Kasih

Terimakasih, sudah menjadi setengah jiwa, pendamping hidup, pemilik skor ngambek lebih banyak dari saya, isteri dan ibu yang luar biasa.

Terimakasih, sudah menggantikan tugas sementara memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Terimakasih, untuk sabar dan cintanya.

Love You.

Dari (ngaku) seorang filsuf yang belum menemukan hakikat sesungguhnya sepanjang 2020.

Mama Hanin #CeritaBaba (2)

WhatsApp Image 2019-11-04 at 19.26.18

Barangkali, setelah Tuhan yang Maha Pemberi, sosok wanita inilah yang sudah semestinya saya banyak berterima kasih kepadanya.

Orangnya cantik, masakannya juga makin enak.

Namanya, Mama Hanin.

Tentangnya, silahkan berkelana ke blog-nya atau kalau kalian sudah baca buku kami sedikit cerita tentangnya pernah saya ungkap di sana.

Tapi, pada tulisan ini saya hendak menuliskan hal-hal tentangnya yang baru saya ngeh setelah menikah utamanya ketika masa-masa hamil anak kami. Seperti kata orang bijak, mengenal pasangan adalah pekerjaan sepanjang hidup.

Kabar perihal kehamilan isteri saya, tepat menjelang tahun baru 2019 atau seminggu setelah saya resmi resign dari kantor.

Kabar kehamilan isteri, resmi non-job, dan status (calon) pengusaha waktu itu adalah kombinasi yang bikin galau para lelaki yang sebentar lagi akan menerima amanah baru. Tapi kegalauan itu, serapat-rapatnya saya tutup. Sedikit menyesal mengambil keputusan tersebut waktu itu. Tapi Bismillah. Toh, keputusan itu adalah keputusan yang kami pikirkan masak-masak (tentu kehamilan anak kami ini di luar skenario).

Perihal kehamilan isteri, alhamduillah berjalan sangat lancar sepanjang 38 minggu kehamilannya. Seingat saya, tidak terlalu banyak drama. Paling, pada trimester pertama isteri saya agak males dengan saya. Lebih sensitif baik kepada sikap maupun aroma tubuh saya. Ini aneh. Padahal sebelum dia hamil, salah satu hobinya adalah ngendus-endus aroma tubuh saya. Untung, saya cukup rajin mandi.

Dia juga jadi lebih sensitif ke soal bumbu masakan. Mual katanya. Baiklah tak apa, jadi selama kehamilan kami lebih banyak jajan di luar atau sesekali saya yang memasak.

Ala kadarnya. Tapi enak.

Soal mual ini, sebenarnya cukup kasihan juga waktu itu. Karena dia tak lagi bisa menikmati kopi kesukaanya.

Trimester kedua, mual-mual sedikit berkurang. Tapi soal sensitif nampaknya masih melekat. Tiap weekend, ada saja drama. Tanpa sebab maupun dengan sebab.

Kalau sudah begini, saya jadi teringat wejangan almarhummah Ibuk.

“Dadi wong kuwi, sing dowo ususe le”

Maksudnya, ketika kelak kita jadi orang, baik itu berperan sebagai suami, orangtua, pemimpin dan sebagainya kuncinya agar senantiasa sakin adalah dengan maintain kesabaran (dowo ususe). Selain itu, sabar adalah tips sukses kita untuk menjaga kewarasan.

Trimester ketiga, alhmadulillah mual dan sensitif isteri sudah semakin terkendali. Tapi soal kopi dan bumbu masakan masih jadi pantangan. Meski kandungan di perutnya makin membesar, tapi justru dari wajahnya makin nampak segar. Kalau kata orang-orang, itu tanda anak kami perempuan. Tidak begitu terkejut, wong di akhir trimester kedua kami sudah dikasih tau soal itu oleh dokter.

Pada fase ini, nampak muncul ketegaran seorang ibu dari isteri saya. Udah kelihatan jiwa emak-emaknya. Seperti ada kekuatan yang tiba-tiba muncul menjelang kelahiran anak kami. Ia mulai intens membaca banyak rujukan tentang proses persalinan, mengasuh anak, hingga belanja segala kebutuhan pada awal-awal kehidupan bayi.

Jadi, secara persiapan isteri saya nampaknya lebih sigap. Dari persiapan ilmu hingga mental. Bahkan, seringkali saya dipaksa untuk ikut nimbrung menyimak soal pola asuh anak dan lain sebagainya. Diminta ngefollow akun emak-emak influencer tentang asi hingga komunitas bapa-bapak yang peduli asi.

Berbeda jauh dengan saya. Bila isteri mulai nampak jiwa emak-emak, maka para suami tetaplah berjiwa anak-anak.

Untuk persiapan, saya lebih mengalir saja sambil mengkoreksi planning dari isteri. Tapi soal diminta nge-follow akun ini itu, sebenarnya setengah hati. Maklum, kuota saya nampaknya sudah punya porsi sendiri, yaitu nonton One Piece, review gadget dan otomotif. Hehe

Tapi, satu hal yang pasti dan wajib saya lakukan dari trimester pertama bahkan hingga sekarang. Tidak membuat isteri tambah stress. Mengurangi bagus, menambahi stress jangan sampai. Paling tidak itu.

Karena, sifat dasar perempuan di dunia ini sama. Semua hal mereka pikirakan. Dan mengandung, melahirkan, hingga mengasuh anak adalah hal yang cukup menyita pikiran isteri.

Dan tugas kita (sebagai suami), adalah mengurangi beban dan memperlancar jalan pikir isteri. Dengan menambah prosesor, RAM dan tentu saja mengurai bug-bug yang menjadi penghambat.

Cukup sesimple itu. Teorinya.

Hingga tibalah, saat kelahiran Hanin. 27 Agustus 2019.

Saya bisikan kepadanya sebelum ia dibawa ke ruang operasi,

“Bismillah, kamu bisa dek”

Sambil berdebar hati, menunggu tangisan pertama dari si-jabang bayi. Prosesnya cepat, tak lama setelah saya selesai shalat hajat malam itu di mushola rumah sakit.

Alhamdulillah, isteri dan bayi aman terkendali. Meskipun, ada isiden yang tidak disengaja, saat saya mengazani baby hanin. Saya mengazani dalam posisi kebalik, maklum semacam syndrom grogi pengalaman punya bayi sendiri.

Maka kemudian, Isteriku. Mama Hanin.

Makasih sudah bersedia untuk repot, galau, dan sigap mengandung, menyambut, hingga melahirkan anak kita. Hanin adalah karunia terbesar di tahun ini. Setelah tahun kemarin, memilikimu.

I love both of you

Baba

 

 

 

Nenen Bukan Segalanya #CeritaBaba (1)

Eng ing eng…

Bismilahirahmanirrahim. Saya niatkan untuk memulai serial tulisan #CeritaBaba di blog ini. Blog bersahaja yang pernah menjadi perantara saya dari perjaka nelangsa menjadi seorang baba bahagia.

Baiklah. Ini dia #CeritaBaba edisi pertama.

Nenen. Pasti semua sudah tau. Jadi tidak perlu saya jelaskan spesifikasi maupun bentuknya. Dan mohon maap kalau misal istilah ini kurang sopan, saya sampai saat ini  belum menemukaan padaan kata yang pas untuk menyebut kata benda-kerja satu ini. Tapi mari sebut saja begitu.

Ini cerita berawal dari sebuah perenungan pada suatu malam setelah beberapa hari anak saya Hanin lahir. 

Ya, Alhamdulillah. Tahun ini, ada karunia Allah terbesar yang dipercayakan kepada saya dan istri. Seorang bayi perempuan, yang ketika saya melihatnya saya tak bisa berhenti untuk tidak jatuh hati. Namanya Hanin.

IMG_20190829_164607_076

Menjadi orang tua, tentu menjadi sebuah pengalaman baru bagi kami. Bisa dikata, kami memulai fase hidup ini dari nol puthul. Teori pernah dengar dan baca, tapi praktiknya? paling mentok adalah dulu waktu kuliah di Jogja pernah ikut momong sebentar keponakan saya.

Dari nol puthul ini, mau tidak mau kami mesti berani nyoba mengasuh bayi dengan benar. Dari mandi, ganti popok, tentang memantau kesehatan bayi dan lain sebagainya.

Soal mengasuh anak, saya dan istri memang sudah bersepakat untuk mengasuh anak-anak kami bersama. Karena menurut kami, memang begitulah pakem-nya menjadi orang tua. Kalau ditanya porsi berapa persen keterlibatan saya (sebagai ayah) barangkali sulit. Karena nyaris yang dilakukan istri dalam mengasuh anak juga saya lakukan.

Tapi memang, ada satu hal yang tidak bisa saya lakukan. Sudah coba, tapi gagal. haha

NENEN

Yak. Nenen. Itu kadang bisa jadi kata benda, bisa jadi kata kerja. Nah kalau perempuan bisa bermakna keduanya. Nah kalau bagi laki-laki?

Kata istri saya suatu ketika,

“Ahh Mas tuh punya tapi sia-sia”

Yah, beitulah hakekat NENEN bagi laki-laki. Nasibnya seperti huruf “Ğ” dalam bahasa Turki. Wujudnya ada, tapi dianggap tidak ada. Persis.

Tapi jangan sombong dulu wahai kaum wanita…..

Seperti dalam judul tulisan ini. NENEN BUKANLAH SEGALANYA!

Ini saya sadari, pada suatu malam. Ketika tangisan Hanin tak henti-henti. Cerita istri saya esok harinya, dia sudah mencoba sebaik mungkin untuk memberi asupan ASI dengan beragam cara dan gaya. Tapi endingnya, si bayi mungil kami tetap menangis membahana.

Saya yang awalnya tertidur, akhirnya terbangun dan tertegun. Kenapa?

Karena, yang menagis bukan hanya bayi mungil kami. Tapi sang Mama-nya juga. Ia menangis sambil memangku Hanin yang sedang menangis.

Jadi malam itu, di pagi buta ada dua perempuan terkasih sedang menagis bersama.

Tanpa babibu, saya ambil alih Hanin. Saya gendong, saya ajak beberapa kali thowaf di kamar. Tangisannya mulai reda, tapi belum juga tidur.

Saya keluar kamar, saya ajak lagi dia thowaf keliling beranda sambil membacakan sholawat dengan lirik lir-ilir Sunan Kalijogo kesukaan saya. Hasilnya? sang anak tertidur. Pules sampai selepas shubuh.

Beda hari, ada kejadian yang hampir sama. Mamanya Hanin saat itu juga sudah mau nyerah tidak mengerti mau gimana.  Kemudian saya ajak Hanin turun ke bawah main ayunan. Akhirnya tertidur. Setelah setengah jam sebelumnya sholawatan, tapi tidak mempan padanya.

Lain hari, begitu juga. Tapi kala itu, nenen sudah, sholawat sudah, ayunan sudah. Tapi senjata triple kill yang saya yakini ampuh untuk menenangkan bayi ternyata mental semua.

Dan solusi mutakhirnya ternyata tidak terduga.

Suara desing kompresor AC.

Lahh.

Dari kejadian demi kejaddian, dari malam ke malam yang telah kami lalui sampai malam ini. Kami bisa mengambil kesimpulan:

NENEN BUKANLAH SEGALANYA!

Kenapa begitu? ya faktanya di atas.

Dan juga, tidak semua bayi lahir dengan nenen (dan isinya) yang selalu tersedia.

Ada bayi yang terpaksa dikasih susu formula oleh sebab ASI yang tak kunjung keluar, ada bayi tidak dapat ASI karena sang ibu takut miliknya berubah bentuk, yang lebih ekstim ada bayi yang tidak mendapat ASI karena tidak jelas siapa ibunya.

Sehingga, nyata kalau nenen itu bukanlah segalanya.

Tapi NENEN ADALAH YANG UTAMA.

Dan kita (para suami di dunia) adalah guardian ASI agar selalu tersedia. Dengan cara? paling simple adalah jangan bikin stress isteri Anda. Karena stress mempengaruhi ketersedian ASI pada nenen seorang ibu menyusui.

Baik kembali lagi ke topik utama.

Kalau nenen dianggap segalanya, eh ndillah kok si bayi menolak (dengan tetap menangis terus-terusan) tentu ujungnya kecewa.

Dan itulah sebab mengapa istri saya malam itu dan mungkin juga yang dirasakan oleh ibu-ibu se-dunia:

Ditolak oleh bayinya sendiri.

Wong ditolak gebetan aja sakit. Ya tho, mblo?

 

 

 

Simba: Sang Survival

Alhamdulillah, sejak pernikahan kami setahun yang lalu Allah sudah menganugerahkan beberapa momongan yang lucu-lucu. Yang pertama, kami beri mereka nama trio Tini-Wini-Biti.

Yang disebut paling terakhir, adalah favorit kami semurah. Tak jarang, dia kami ajak kelonan. Maka tak heran, bila suatu masa kami terlalu sibuk dengan urusan manusia hingga lupa dengan keberadaan mereka pasti ada saja ulah lucunya. Dari manggil-manggil hingga gedor-gedor pintu. Minta dikelonin.

Yak, mereka adalah kucing kami. Kami adopsi dari sejak ia masih kuncup kecil, hingga kini mekar sampai-sampai kami kerepotan soal budget bulanan untuk makanan dan pasir mereka.

Pernah, saat mereka umur sekitar 8/9 bulan, bisa-bisanya mereka melakukan aksi mogok makan hingga berujung masuk angin. Dengan terpaksa kami bawa mereka ke klinik khusus hewan, tahu tidak biayanya? mahal beud. Semacam cukup buat kami nonton di bioskop deket rumah satu musim full.

Tapi tak apa, toh dengan kehadiran mereka kami jadi punya kesibukan-kesibukan yang memungkinan kita terus bersama (red- kami sama-sama hobi pelihara kucing).

Bagi kami, trio Tini-Wini-Biti adalah anak-anak kami.

Okay, kembali ke judul. Biar nyambung.

Simba. Adalah seorang anak yang beruntung. Melalui perkimpoian yang belum kami restui, dua kucing perempuan kami ternyata hamil. Nyaris dalam waktu yang bersamaan.

Tini, si kucing dengan gen kampungnya yang nyaris 100 persen itu melahirkan empat anak. Kami tak menyangka, tubuhnya yang mungil begitu kok bisa muat 4 nyawa.

Tapi, kami senang. Anaknya lucu. Tapi sayang umur anak-anaknya hanya bertahan seminggu.

Kemudian, si Wini. Si anak pemalu paling pendiam diantara yang lain. Dia itu tipikal introvert berbahaya. Betapa nyesek, sama sekali tidak pernah kelihatan gandeng pasangan kok tiba-tiba hamil duluan.

Tapi, kami juga senang. Karena setelah Wini melahirkan, kami semakin yakin kalau ia hamil akibat perbuatan anak laki kami satu-satunya, Biti.

Jantan juga kau Bit.

Nah dari si introvert Wini ini, lahirlah Simba sang survival. Karena dia satu-satunya anak Wini yang berhasil hidup dari ibu kucing amatir yang belum begitu paham mengurus anak.

Simba ini lucu. Bila, Tini adalah 100% kampung, Wini 45%, Biti 50% campuran kampung dan angora, maka Simba adalah 15% angora dan sisanya gen kampung.

Yak, 15% itu hanya berkontribusi pada bulunya yang lebat hanya pada bagian buntut patahnya. Lucu. Aseli.

Sifatnya? widiih manja betuul. Semacam anak tunggal yang di asuh dua ibu. Kanan-kiri nyusu.

Kini Simba sudah besar. Ia tumbuh menjadi anak lak-laki yang lincah dan trengginas. Meski, ke-angora-annya yang nangghung itu membuat kami merasa miris.

Tapi kami senang.

Apalagi sifatnya kamin kesini makin mirip bapaknya, si Biti. Ngerti bagaimana bikin orang lain merasa nyaman di dekatnya. Kelon-able.

Apalagi, sejak Ramdhan kemarin ia rajin menamani saya bekerja di perpustakan rumah. Ruangan ber AC yang adem semakin membuat mereka berdua betah di dalam menemani saya. Lucu sekali melihat tingkah Bapak-Anak yang makin mirip ini.

Suka.

 

*PS: Yang pengin lihat aksi mereka follow IG kita ya @parmantos , nanti saya upload aksi lucu-lucu mereka di sana.

Kewajiban dan Waktu

Orang bijak pernah berkata,

semakin cepat waktu berlalu adalah pertanda kau sedang berbahagia

Ya, sadar apa tidak, jika kita merasa akhir-akhir ini waktu terasa cepat, seperti, kemarin baru saja menyambut bulan suci eh ini bentar lagi udah mau Idul Fitri itu tanda kita sedang bahagia -atau setidaknya tidak sedang dirundung nestapa.

Bersyukur itu harus. Merenung itu perlu.

Jangan sampai, waktu-waktu kita terbuang oleh sesuatu yang tidak begitu signifikan.  Mengapa?

Karena, kita tidak sedang hidup di universe-nya Avengers, yang waktu bisa diputer balik. Apa yang sudah terjadi, ya sudah.

Tentang waktu, ingat perkata arab,

al-wajibat aktsaru minal awqat

Kewajiban-kewajiban kita terlalu banyak daripada waktu yang tersedia. Duh!

Yuk, mas-mbakyu.

Mari segera kita tunai kewajiban kita, diantara waktu yang begitu sempit ini. Mari.

 

Pelajaran Hidup No. 22