Lama Tidak Menangis

Hmm rasanya terminologi ‘menangis’ yang saya pakai untuk judul tulisan kali ini rasanya terlalu lebay. Aseli, berlebihan. Karena aktualnya tidak seperti itu.

Sekedar, berlinang air mata.

Podo wae!

Baiklah. Tentang menangis berlinang air mata. Saya sendiri bukanlah tipe pria yang suka berlinang air mata. Percayalah. Meskipun, entah kenapa selara musik saya akhir-akhir ini memang lagi gandrung dengan musik-musik indie yang melow-romantic tur sedikit dramatis. Coba aja denger lagu yang pernah saya share di dua tulisan sebelum ini. Kata orang-orang sih cukup dramatis. Mungkin juga kurang.

Tapi jangan ambil pusing. Anggap saja ini sebagai kebetulan.

Tentang menangis berlinang air mata. Ada beberapa momen yang membuat sepasang mata saya tiba-tiba sembab plus (atau tanpa) sesak di dalam dada. 

Ya seperti pada saat momen capain-capain yang tercapai, kegagalan-kegagalan yang layak gagal, ditinggal oleh seseorang setelah dua jam perjalanan menuju keabadian, hingga pada saat menemukan kembali sebuah jalan pada sebuah hubungan. Baik, hubungan dengan Tuhan, atau dengan seseorang. Seperti kala itu.

Di momen-momen ini, sifat kemanusiaan saya tersentuh dengan lembut. Terbawa suasana, hingga tak terasa sembab sudah kedua mata.

Mungkin ini memalukan bagi sebagian orang. Tapi saya senang, ini seperti being a normal.

Some say “tears are words the heart can’t says”

Tapi, adalagi momen yang (kadang-kadang) juga bikin sembab mata. Karena dipikir-pikir, rasanya lama juga mata saya tiba-tiba sembab begitu saja.

Seperti saat menyaksikan adegan Chris Evans, Mckenna Grace, Lindsay Duncan dalam Gifted. Film yang valuable untuk ditonton.

Gak percaya?

Tonton aja sendiri. ^^

Saya berani kasih 8.4/10 untuk Gifted.

Mckenna Grace as “Mary Adler” and Chris Evans as “Frank Ad

Pict source: pmcvariety (dot) wp (dot) com

#bukanreviewfilm

Advertisements

Naik Level

Selepas Isya’, selepas dzikir yang dipersingkat, sang Imam -seorang lelaki sepuh dengan memutih rambut yang menyembul dari sela-sela peci hajinya, ia berkata;

“Jamaah, sekalian. Malam ini terhitung tanggal 27 Rajab…”

Deg..

Waktu terasa cepat. Rasanya belum lama yang lalu seorang rekan kerja mengingatkan tentang Ramadhan yang tinggal dua bulan lagi. Tak terasa, kini nyaris tinggal sebulan lagi.

Rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Bahwa hamba yang dhaif ini masih belum selesai dengan dirinya sendiri, mengeja duniawi terteter urusan-urusan yang asasi.

Bahwa hamba yang dhaif ini nyata-nyata belum selesai dengan dirinya sendiri, mencoba ingin memikul tanggung jawab, tapi baru akan memulai sudah ia hempaskan apa yang baru ditangannya dengan kebodohan yang ia buat sendiri.

Bahwa hamba yang dhaif ini tengah merasakan sesak di dalam dadanya. Betapa ia semakin menjauh dengan Tuhannya. Jangan tanya berapa banyak hafalan yang bertambah, nyatanya yang sudah ada pun tak lagi ia muroja’ah.

Rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Ketika membayangkan, orang-orang yang ia cintai (dan yang mencintainya) harus menjadi korban tindakan yang gegabah, tak kokoh memegang amanah. Seribu maaf pun tak akan mengubah keadaan.

Rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Ketika menyaksikan, sepiring nasi yang porsinya sudah sedemikan sedikit tak mampu ia kunyah. Sepertinya hambar dan tak enak di lidah. Menjadikan butir-butir beras masak terbuang, yang menjadi dosa-dosa baru buat dirinya karena terbuang percuma ditempat sampah.

Ya Allah, sungguh rasanya sesak, sesak yang bertambah-tambah.

Ternyata nikmah umur tak kemudian membuat kedewasaan dirinya bertambah. Ia masih anak-anak yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Yang hanya bisa cemburu, ketika manusia seusianya (atau bahkan yang lebih muda) sudah memberi manfaat pada umatnya, bahkan memimpin sebuah negara.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.

Ya Allah, ketika Engkau menghibur Muhammad dengan Isra’ Mi’raj ketika pelik masalah pada masa dakwahnya di Makkah.

Maka cukuplah Engkau menghibur hamba yang dhaif ini dengan kesampatan-kesempatan yang selalu melibatkanMu pada urusan-urusannya. Jagalah ia, untuk terus berakhlakul karimah. Karena seorang bijak pernah berkata padanya; ketika ingin melihat akhlak seseorang, lihatlah cara bagaimana ia menyelesaikan setiap masalahnya.

Saatnya naik level!

Bismillah.

 #NTMS

Pelajaran Hidup No. 19

Hujan

Buat kamu,

Yang akhir pekannya berantakan,
Yang rencana-rencana terpaksa batal,
Dan yang pagi harinya hanya terbuai bantal,

Dengar lah dia barang sebentar,

Bicara rindu
Bicara haru
Luangkan ruang imajimu

Bernyanyi merdu
Bernyanyi sendu
Bebaskan birunya hatimu

Tanpa kata tanpa nada
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian
Hanya rasa hanya prasangka
yang terdengar di dalam Dialog Hujan

Karena hujan hanya ingin memelukmu lebih erat kali ini.

dalam birunya rindu,
dan sendunya haru.

~no where, 12 February 2017
ketika lari pagi dan ‘hang out’ sore runam oleh hujan.

Berkebun Masa Depan

Tinggalkanlah keramaian dan carilah hutan belantara yang luas, lalu arahkanlah pandanganmu kepada pemandangan yang indah menghampar.
Di pinggiran mata air renungkanlah riak air yang jernih tanpa rasa bosan.
Tataplah bunga Narjis yang manja dan ciumlah matanya yang indah bak mutiara [1].

Membaca tulisan Mas Shiq4 tentang berkebun, mengingatkan saya pada sebatang pohon durian yang saya tanam beberapa waktu lalu. Melengkapi dua pohon durian lain yang sudah rutin berbuah selama ini. Saya menanamnya di lahan yang baru saja digemburkan pada pagi hari yang cerah dengan basmallah dan cinta. Semoga Allah ikut menjaganya, hingga berbuah secukupnya saja 4-5 tahun kedepan.

Berkebun, menanam pohon-pohon bagi saya tidak sekedar bagian dari menyiapkan masa depan bagi keturunan saya nanti (investasi). Tapi sebagai pengingat dan pemberi pelajaran kelak ketika mereka dewasa.

Tak sekedar berkata;

“Nak, pohon durian ini ditanam saat ayahmu masih lajang dengan sepenuh cinta. Yang bahkan waktu itu Ayahmu masih ‘samar-samar’ tahu siapa calon ibumu.  Kini pohon ini sudah tumbuh besar, berbuah lebat. Sekarang kau tinggal menikmati buah manisnya. Tapi jangan sekali-kali kau egois. Ajak juga teman-temanmu saat kau memetiknya.”

Bukan. Bukan sekedar itu, pun kata lajang di awal kalimat juga tak perlu ada di situ. Tapi, saya ingin pula menambahkan pesan ini. Pesan terpenting yang pernah ada.

“….Nak, janganlah kau mendatangi pohon durian ini saat musim buah saja. Di luar musim buahnya, kau sering-seringlah kesini. Rawatlah ia. Buang serangga dan tanaman penggangu yang kiranya menghambat perkembangannya. Lalu, selami baik-baik pohon ini  dari akar hingga pucuk daun tertingi. Maka, kau akan teringat pesan Ayah di lain waktu. Yakni, tentang Pohon Tauhid [2]. Masih ingatkan?”

 “Bila kau tak ingat, ayah pun tak akan pernah lelah mengingatkan pesan ini untukmu.

Cerna baik-baik.

Padanya, akar-akar kokohnya menghujam jauh ke dalam hati, cabangnya banyak karena amal-amal saleh yang menjulang tinggi ke langit, daun-daunnya lebat mengayomi sekitar, serta buahnya manis yang terus menurus berbuah -memberi manfaat pada orang lain.

Akar-akar yang kokoh adalah bentuk dari Syajaratus Tsabaat (Pohon Keteguhan). Yang mana bisa kau jadikan tempat berpegangan di hari manusia berpecah belah karena kencendrungan mereka berbeda-beda. Mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. Sekalipun kau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita) [3].

Pada cabang-cabangnya yang banyak menjulang kelangit adalah bentuk amal-amal kesalehan untuk sebuah Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan). Karena tak ada yang lebih layak daripada amal saleh untuk kau tukar dengan ampunan.

Daun-daun yang lebat memberi keteduhan. Maka berteduhlah di bawah naungannya. Karena tak hanya kau bisa terhalang dari sengatan panas matahari, tapi kau dapat mencium semerbak bau wewangian bunga, bersumberkan dari pohon yang disebut Syajaratul Tha’ah (Pohon Ketaatan). Pohon ini menjadi kesaksian kemenangan, kelimpahan kasih, dan ketenangan jiwa yang Allah berikan kepada manusia. Maka berjanji setialah di bawah keteduhannya, seperti janji-Nya yang akan memenangkan orang-orang beriman.

Kemudian pada buah-buahnya yang ranum dan manis kau akan dapati Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan). Dimana dengan buah itu kau bisa makan, minum lagi bersenang hati seperti Maryam ketika dunia seakan menyempitkannya. Duniamu boleh jadi akan semakin sempit dan sulit, maka dengan buah dari Syajaratut Tirhab maka kau akan digembirakan. Maka, jangan terlampau bersedih. Bersabarlah. Tunggu masanya pohon itu berbuah lalu siap disantap bersama manis, teduh dan kuatnya pohon Tauhid ini.[4]”

Hari ini hujan lebih sering turun. Laron-laron kecil menyebul dari sarang-sarang yang terdalam. Pertanda hari-hari tidak sekedar kemarau basah, melainkan musim penghujan telah datang. Tugas penyiraman, sudah saatnya berpindah pada tangan Sang Pemberi Hujan.

img_20161024_154946-1

[1] Syair At-Thabari dalam Diwan Risalatil Masyriq.
[2] QS Ibrahim: 24-25
[3] Shahih Bukhari
[4] QS Maryam: 25-26

Rujukan Kitab Ar-Raqa’iq karya Muhammad Ahmad ar-Rasyid

Nyambung

Hujan rintik menitik membasahi kampung kami, membiarkan tanah merah, rerumput liar dan pucuk-pucuk tanaman jagung yang baru saja ditanam, basah.

Adalah keindahan lain selain hujan malam itu, sebuah perbincangan dengan seorang kawan-tetangga-sekaligus partner saat merintis start up pada tempo tahun 2009-2010. Sebut saja namanya I. Seorang jenius, maniak kode -yang bisa menghabiskan malam-malamnya hanya dengan duduk di depan layar komputer dengan asap mengebul dari dua bungkus rokok mild favoritnya.Read More »