Hujan

Buat kamu,

Yang akhir pekannya berantakan,
Yang rencana-rencana terpaksa batal,
Dan yang pagi harinya hanya terbuai bantal,

Dengar lah dia barang sebentar,

Bicara rindu
Bicara haru
Luangkan ruang imajimu

Bernyanyi merdu
Bernyanyi sendu
Bebaskan birunya hatimu

Tanpa kata tanpa nada
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian
Hanya rasa hanya prasangka
yang terdengar di dalam Dialog Hujan

Karena hujan hanya ingin memelukmu lebih erat kali ini.

dalam birunya rindu,
dan sendunya haru.

~no where, 12 February 2017
ketika lari pagi dan ‘hang out’ sore runam oleh hujan.

Berkebun Masa Depan

Tinggalkanlah keramaian dan carilah hutan belantara yang luas, lalu arahkanlah pandanganmu kepada pemandangan yang indah menghampar.
Di pinggiran mata air renungkanlah riak air yang jernih tanpa rasa bosan.
Tataplah bunga Narjis yang manja dan ciumlah matanya yang indah bak mutiara [1].

Membaca tulisan Mas Shiq4 tentang berkebun, mengingatkan saya pada sebatang pohon durian yang saya tanam beberapa waktu lalu. Melengkapi dua pohon durian lain yang sudah rutin berbuah selama ini. Saya menanamnya di lahan yang baru saja digemburkan pada pagi hari yang cerah dengan basmallah dan cinta. Semoga Allah ikut menjaganya, hingga berbuah secukupnya saja 4-5 tahun kedepan.

Berkebun, menanam pohon-pohon bagi saya tidak sekedar bagian dari menyiapkan masa depan bagi keturunan saya nanti (investasi). Tapi sebagai pengingat dan pemberi pelajaran kelak ketika mereka dewasa.

Tak sekedar berkata;

“Nak, pohon durian ini ditanam saat ayahmu masih lajang dengan sepenuh cinta. Yang bahkan waktu itu Ayahmu masih ‘samar-samar’ tahu siapa calon ibumu.  Kini pohon ini sudah tumbuh besar, berbuah lebat. Sekarang kau tinggal menikmati buah manisnya. Tapi jangan sekali-kali kau egois. Ajak juga teman-temanmu saat kau memetiknya.”

Bukan. Bukan sekedar itu, pun kata lajang di awal kalimat juga tak perlu ada di situ. Tapi, saya ingin pula menambahkan pesan ini. Pesan terpenting yang pernah ada.

“….Nak, janganlah kau mendatangi pohon durian ini saat musim buah saja. Di luar musim buahnya, kau sering-seringlah kesini. Rawatlah ia. Buang serangga dan tanaman penggangu yang kiranya menghambat perkembangannya. Lalu, selami baik-baik pohon ini  dari akar hingga pucuk daun tertingi. Maka, kau akan teringat pesan Ayah di lain waktu. Yakni, tentang Pohon Tauhid [2]. Masih ingatkan?”

 “Bila kau tak ingat, ayah pun tak akan pernah lelah mengingatkan pesan ini untukmu.

Cerna baik-baik.

Padanya, akar-akar kokohnya menghujam jauh ke dalam hati, cabangnya banyak karena amal-amal saleh yang menjulang tinggi ke langit, daun-daunnya lebat mengayomi sekitar, serta buahnya manis yang terus menurus berbuah -memberi manfaat pada orang lain.

Akar-akar yang kokoh adalah bentuk dari Syajaratus Tsabaat (Pohon Keteguhan). Yang mana bisa kau jadikan tempat berpegangan di hari manusia berpecah belah karena kencendrungan mereka berbeda-beda. Mencari selamat dengan meninggalkan semua golongan yang berpecah belah itu. Sekalipun kau harus menggigit akar pohon (yakni berpegang teguh pada prinsip meskipun hidup menderita) [3].

Pada cabang-cabangnya yang banyak menjulang kelangit adalah bentuk amal-amal kesalehan untuk sebuah Syajaratul Istighfar (Pohon Meminta Ampunan). Karena tak ada yang lebih layak daripada amal saleh untuk kau tukar dengan ampunan.

Daun-daun yang lebat memberi keteduhan. Maka berteduhlah di bawah naungannya. Karena tak hanya kau bisa terhalang dari sengatan panas matahari, tapi kau dapat mencium semerbak bau wewangian bunga, bersumberkan dari pohon yang disebut Syajaratul Tha’ah (Pohon Ketaatan). Pohon ini menjadi kesaksian kemenangan, kelimpahan kasih, dan ketenangan jiwa yang Allah berikan kepada manusia. Maka berjanji setialah di bawah keteduhannya, seperti janji-Nya yang akan memenangkan orang-orang beriman.

Kemudian pada buah-buahnya yang ranum dan manis kau akan dapati Syajaratut Tirhab (Pohon Penyambutan). Dimana dengan buah itu kau bisa makan, minum lagi bersenang hati seperti Maryam ketika dunia seakan menyempitkannya. Duniamu boleh jadi akan semakin sempit dan sulit, maka dengan buah dari Syajaratut Tirhab maka kau akan digembirakan. Maka, jangan terlampau bersedih. Bersabarlah. Tunggu masanya pohon itu berbuah lalu siap disantap bersama manis, teduh dan kuatnya pohon Tauhid ini.[4]”

Hari ini hujan lebih sering turun. Laron-laron kecil menyebul dari sarang-sarang yang terdalam. Pertanda hari-hari tidak sekedar kemarau basah, melainkan musim penghujan telah datang. Tugas penyiraman, sudah saatnya berpindah pada tangan Sang Pemberi Hujan.

img_20161024_154946-1

[1] Syair At-Thabari dalam Diwan Risalatil Masyriq.
[2] QS Ibrahim: 24-25
[3] Shahih Bukhari
[4] QS Maryam: 25-26

Rujukan Kitab Ar-Raqa’iq karya Muhammad Ahmad ar-Rasyid

Nyambung

Hujan rintik menitik membasahi kampung kami, membiarkan tanah merah, rerumput liar dan pucuk-pucuk tanaman jagung yang baru saja ditanam, basah.

Adalah keindahan lain selain hujan malam itu, sebuah perbincangan dengan seorang kawan-tetangga-sekaligus partner saat merintis start up pada tempo tahun 2009-2010. Sebut saja namanya I. Seorang jenius, maniak kode -yang bisa menghabiskan malam-malamnya hanya dengan duduk di depan layar komputer dengan asap mengebul dari dua bungkus rokok mild favoritnya.Read More »

Buku Ini Tidak Dijual

“Mengapa Bapak rela bersusah payah membaca di dalam kereta yang penuh sesak?”

Padi menarik napas dalam, sesaat sebelum menjawab tanya seorang ibu hamil, yang baru saja ia persilahkan duduk.

“Menjadi seorang ibu adalah tugas mulia. Iulah mengapa seorang wanita yang sedang hamil rela berpergian ke manapun dengan selalu membawa perut besarnya. Bahkan, ketika menempuh perjalanan panjang. Begitu pula dengan membaca, Bu”

Ketika membaca petikan dialog pada bagian awal dari buku ini, saya langsung terkesima dengan sosok Padi, yang saya duga adalah oknum utama dalam buku ini. Tapi, setelah membaca chapter demi chapter ternyata bukan. Dugaan saya salah. ^^Read More »

Makar? Ya Sudahlah

Kurang lebih 4 tahun kami belajar di kampus ledokan. Selain berkutat pada pelajaran sastra yang imaginary itu (baca: fisika inti, reaksi fisi, dkk) kami juga diajari tentang cara bepikir dengan metode ilmiah se-ilmiah mungkin. Meskipun bab yang kami pelajari itu termasuk bab ghaib yang tak kasat mata dan tak bisa diraba.

Salah satu ajaran tentang metode berpikir ilmiah itu dengan memberlakukan hukum makruh-haram terhadap data bebas yang banyak bertebaran di internet. Sendiko dawuh dosen-dosen kami kala itu kurang lebih begini;

Takon mbah Google kuwi oleh tapi ojo langsung diuntal. Diolah dan divalidasi kebenarannya dulu. Sumber dari internet itu masih mentah, emang kalian doyan makan daging mentah?”Read More »